Site Loader
Share?

🔖 Fiqh Shalat

WAKTU-WAKTU TERLARANG UNTUK SHALAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبَرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَـا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْـنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّـى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّفَ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami shalat atau mengubur orang-orang mati kami pada saat itu: ketika matahari terbit hingga naik, ketika pertengahan siang hingga matahari tergelincir, ketika matahari condong ke barat hingga tenggelam.” [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1233), Shahiih Muslim (I/568 no. 831)]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan alasan dilarangnya shalat dalam waktu-waktu ini melalui perkataan beliau kepada Amr bin Abasah: “Kerjakanlah shalat Subuh. Kemudian hentikanlah shalat hingga matahari terbit dan naik. Karena sesungguhnya ketika terbit, matahari berada di antara dua tanduk syaitan. Pada waktu itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah itu shalatlah, karena sesungguhnya shalat tersebut disaksikan dan dihadiri. Hingga bayangan naik setinggi tombak. Kemudian hentikanlah shalat. Karena waktu itu Jahannam bergolak. Jika bayangan telah condong ke barat, maka shalatlah, karena sesungguhnya shalat itu dihadiri dan disaksikan. Hingga engkau shalat Asar. Kemudian hentikanlah shalat hingga matahari terbenam. Karena sesungguhnya ia terbenam di antara dua tanduk syaitan. Dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.” [Shahih: Al-Misykaah (no. 1042), dan Shahiih Muslim (I/570 no. 832)]

》 Dikecualikan dari Larangan Ini Waktu dan Tempat Tertentu

▪︎ Adapun waktu, adalah ketika matahari berada tepat di atas pada hari Jumat. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jumat, lantas bersuci sebaik-baiknya, mengenakan minyak rambut, atau mengenakan minyak wangi di rumahnya. Kemudian keluar dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sunnah semampunya. Setelah itu ia diam ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat yang satu dengan Jumat yang lain.” [Shahiih Al-Bukhari (Fathul Baari), II/370 no. 883]

Beliau menganjurkan shalat sunnah semampunya dan tidak melarang kecuali setelah keluarnya imam. Oleh sebab itu, banyak Ulama terdahulu, di antaranya Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, yang kemudian diikuti oleh Al-Imam Ahmad bin Hanbal, mengatakan bahwa keluarnya imam menghentikan shalat, dan khutbahnya menghentikan perkataan. Mereka menjadikan keluarnya imam sebagai penghalang shalat, bukan pertengahan siang.

▪︎ Adapun pengecualian tempat adalah, Makkah (semoga Allah menambah kemuliaan dan keagungannya). Karena Allah Ta’ala telah melebihkannya dengan kemuliaan dan keagungan. Shalat di sana tidak ada yang dimakruhkan pada waktu-waktu tadi.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian menghalangi siapa pun yang melakukan thawaf dan shalat di Baitullah ini kapan saja. Baik malam maupun siang hari.” [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 1036), Sunan At-Tirmidzi (II/178 no. 869), dan Sunan An-Nasa-i (V/223)]

▪︎ Shalat yang dilarang pada waktu-waktu tersebut adalah shalat sunnah murni yang tidak ada sebabnya. Pada waktu-waktu ini diperbolehkan untuk mengqadha shalat-shalat yang terlewatkan, baik wajib maupun sunnah.

Dalilnya adalah berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَكَفَّرَةَ لَهَا إِلاَّ ذلِكَ

“Barang siapa lupa terhadap suatu shalat, maka hendaklah ia shalat ketika ingat. Tidak ada kaffarat baginya kecuali (shalat) itu.” [Muttafaq Alaihi]

▪︎ Shalat setelah selesai wudhu juga boleh untuk dilakukan kapan saja.

Dalilnya adalah berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Bilal ketika Subuh: “Wahai Bilal, beritahulah aku amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang engkau kerjakan dalam Islam. Karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu berada di depanku dalam Surga.” Bilal menjawab: “Tidaklah aku melakukan suatu amalan yang paling kuharapkan (pahalanya). Hanya saja, tidaklah aku bersuci, baik saat petang maupun siang, melainkan aku shalat sunnah dengannya.” [Telah berlalu takhrijnya]

▪︎ Diperbolehkan juga shalat tahiyyatul masjid.

Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk hingga shalat dua rakaat.” [Muttafaq Alaihi]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗃 Referensi:
• Fiqh Shalat Berdasarkan Al-Quran & As-Sunnah. Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit Media Tarbiyah.
• Al-Quranul karim.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Desember 2019
S M S S R K J
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031