TERGADAIKAN DENGAN AQIQAHNYA

โœ‰๏ธ Soal Jawab

๐Ÿ”ช TERGADAIKAN DENGAN AQIQAHNYA

Bismillah
Assalamu alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh.

PERTANYAAN:
Ana ingin bertanya, apakah seorang anak yang belum di aqiqah masih tergadaikan? Dan bagaimana maksud tergadaikan dari penjelasan tersebut? Syukran wa jazaakallahu khayran.

Dari Leni Sulistyowati – Member PSM 16

JAWABAN:

ูˆุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Baraakallahu fikum.
Thoyyib, untuk penjelasan lengkapnya silakan ibu baca artikel yang kami salin dari Artikel Konsultasi Syariah. Semoga bermanfaat.

Anak Tergadaikan dengan Aqiqahnya

Apa makna hadis, setiap anak tergadai dengan aqiqahnya? Dan apakah hadis ini shahih? Terima kasih.

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu โ€˜ala Rasulillah, amma baโ€™du.

Hadis yang anda sebutkan statusnya shahih, dari Sahabat Samurah bin Jundub radhiallahu โ€˜anhu, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ูƒูู„ู‘ู ุบูู„ุงูŽู…ู ู…ูุฑู’ุชูŽู‡ูŽู†ูŒ ุจูุนูŽู‚ููŠู‚ูŽุชูู‡ู ุชูุฐู’ุจูŽุญู ุนูŽู†ู’ู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุจูุนู ูˆูŽูŠูุญู’ู„ูŽู‚ู ุฑูŽุฃู’ุณูู‡ู ูˆูŽูŠูุณูŽู…ู‘ูŽู‰

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya. Disembelih pada hari ketujuh, dicukur gundul rambutnya, dan diberi nama.” [HR. Ahmad 20722, At-Tirmidzi 1605, dan dishahihkan Al-Albani]

Ulama berbeda pendapat tentang makna kalimat โ€˜Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya.โ€™

Berikut rincian perbedaan keterangan Ulama tentang makna hadis:

โ€ข> Pendapat Pertama, syafaat yang diberikan anak kepada orang tua tergadaikan dengan aqiqahnya. Artinya, jika anak tersebut meninggal sebelum baligh dan belum diaqiqahi maka orang tua tidak mendapatkan syafaat anaknya di hari kiamat.

Pendapat ini diriwayatkan dari Atha Al-Khurasani (Ulama tabiโ€™in) dan Imam Ahmad. Al-Khithabi menyebutkan keterangan Imam Ahmad.

ู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ : ู‡ุฐุง ููŠ ุงู„ุดูุงุนุฉ ูŠุฑูŠุฏ ุฃู†ู‡ ุฅู† ู„ู… ูŠุนู‚ ุนู†ู‡ ูู…ุงุช ุทูู„ุงู‹ ู„ู… ูŠูุดูุน ููŠ ูˆุงู„ุฏูŠู‡

“Menurut Imam Ahmad, hadis ini berbicara mengenai syafaat. Yang beliau maksudkan, bahwa ketika anak tidak diaqiqahi, kemudian dia meninggal masih bayi, tidak bisa memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya.” [Maโ€™alim As-Sunan, 4/285]

Semetara keterangan dari Athaโ€™ Al-Khurasani diriwayatkan Al-Baihaqi dari jalur Yahya bin Hamzah, bahwa beliau pernah bertanya kepada Athaโ€™, tentang makna โ€˜Anak tergadaikan dengan aqiqahnya.โ€™ Jawab Athaโ€™:

ูŠุญุฑู… ุดูุงุนุฉ ูˆู„ุฏู‡

“Dia (orang tua) tidak bisa mendapatkan syafaat anaknya.” [Sunan Al-Kubro, Al-Baihaqi, 9/299]

โ€ข> Pendapat Kedua, keselamatan anak dari setiap bahaya itu tergadaikan dengan aqiqahnya. Jika diberi aqiqah maka diharapkan anak akan mendapatkan keselamatan dari mara bahaya kehidupan. Atau orang tua tidak bisa secara sempurna mendapatkan kenikmatan dari keberadaan anaknya.

Ini merupakan keterangan Mula Ali Qori (Ulama mazhab Hanafi). Beliau mengatakan: “Tergadaikan dengan aqiqahnya, artinya jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya. Atau si anak seperti sesuatu yang tergadai, tidak bisa dinikmati secara sempurna, tanpa ditebus dengan aqiqah. Karena anak merupakan nikmat dari Allah bagi orang tuanya, sehingga keduanya harus bersyukur.” [Mirqah Al-Mafatih, 12/412]

โ€ข> Pendapat ย Ketiga, Allah jadikan aqiqah bagi bayi sebagai sarana untuk membebaskan bayi dari kekangan setan. Karena setiap bayi yang lahir akan diikuti setan dan dihalangi untuk melakukan usaha kebaikan bagi akhiratnya. Dengannya, aqiqah menjadi sebab yang membebaskan bayi dari kekangan setan dan bala tentaranya. Ini merupakan pendapat Ibnul Qoyyim. Beliau juga membantah pendapat yang mengatakan bahwa aqiqah menjadi syarat adanya syafaat anak bagi orang tuanya.

Beliau mengatakan: “Status seseorang sebagai orang tua bagi si anak, bukan sebab dia mendapatkan syafaat. Demikian pula hubungan kerabat dan keluarga (tidak bisa saling memberi syafaat). Allah telah menegaskan,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุงุชู‘ูŽู‚ููˆุง ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงุฎู’ุดูŽูˆู’ุง ูŠูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ุฒููŠ ูˆูŽุงู„ูุฏูŒ ุนูŽู†ู’ ูˆูŽู„ูŽุฏูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ู…ูŽูˆู’ู„ููˆุฏูŒ ู‡ููˆูŽ ุฌูŽุงุฒู ุนูŽู†ู’ ูˆูŽุงู„ูุฏูู‡ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง

‘Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun’ (QS. Luqman: 33).”

Kemudian, Ibnul Qoyyim melanjutkan: “Karena itu, seseorang tidak bisa memberikan syafaat kepada orang lain pada hari kiamat, kecuali setelah Allah izinkan, untuk diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia ridhai. Sementara izin Allah dalam syafaat, tergantung dari tauhid dan kekuatan ikhlas dari orang yang mendapat syafaat itu.” [Tuhfah Al-Maudud, hlm. 73]

Kemudian Ibnul Qoyyim menyebutkan tafsir hadis di atas: “Tergadai artinya tertahan, baik karena perbuatannya sendiri atau perbuatan orang lain dan Allah jadikan aqiqah untuk anak sebagai sebab untuk melepaskan kekangan dari setan, yang dia selalu mengiringi bayi sejak lahir ke dunia, dan menusuk bagian pinggang dengan jarinya. Sehingga aqiqah menjadi tebusan untuk membebaskan bayi dari jerat setan, yang menghalanginya untuk melakukan kebaikan bagi akhiratnya yang merupakan tempat kembalinya.” [Tuhfah Al-Maudud, hlm. 74]

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baitsย hafidzahullah.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

โœ๐Ÿป Dijawab oleh: Alfaqir ilallah Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

๐Ÿ“ Referensi: Tanya Jawab WAGrup Permata Sunnah Muslimah

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *