Site Loader
Share?

📎 Al-Firqah An-Najiyah

🛣 JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

● Bagian 23: Tawassul yang Disyariatkan

Allah Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَا بْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepadaNya.” [QS. Al-Maidah: 35]

Qatadah berkata dalam menafsirkan ayat ini: “Dekatkanlah dirimu kepadaNya, dengan ketaatan dan amal yang membuatNya ridha.”

Tawassul yang disyariatkan (diperbolehkan) adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Quran, diteladankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipraktikkan oleh para sahabatnya.

Tawassul yang disyariatkan itu mempunyai banyak macamnya, di antaranya adalah:

1). Tawassul dengan Iman.
Seperti yang dikisahkan Allah dalam Al-Quran tentang hambaNya yang bertawassul dengan iman mereka. Allah Ta’ala berfirman:

رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَا دِيًا يُّنَا دِيْ لِلْاِ يْمَا نِ اَنْ اٰمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَاٰ مَنَّا ۖ رَبَّنَا فَا غْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْاَ بْرَا رِ ۚ 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), Berimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” [QS. Ali Imran 3: Ayat 193]

2). Tawassul dengan Mengesakan Allah (Tauhid).
Seperti doa Nabi Yunus ‘alaihis salam, ketika ditelan oleh ikan Nun. Allah Ta’ala mengisahkan dalam firmanNya:

وَ ذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَا ضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّـقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَا دٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ {٨٧} فَا سْتَجَبْنَا لَهٗ ۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْـغَمِّ ۗ وَكَذٰلِكَ نُـنْجِى الْمُؤْمِنِيْنَ {٨٨}

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Anbiya: 87-88]

3). Tawassul dengan Nama-Nama Allah.
Sebagaimana tersebut dalam firmanNya:

وَلِلّٰهِ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى فَا دْعُوْهُ بِهَا 

“Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna itu.” [QS. Al-A’raf: 180]

Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Nama-namaNya yaitu: “Aku memohon KepadaMu dengan segala nama yang Engkau miliki.” [HR. At-Tirmidzi, hadis hasan shahih]

4). Tawassul dengan Sifat-Sifat Allah.
Sebagaimana doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

“Wahai Dzat Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), dengan rahmatMu aku mohon pertolongan.” [HR. At-Tirmidzi, hadis hasan]

5). Tawassul dengan Amal Shalih.
Seperti shalat, berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hak dan amanah, bersedekah, dzikir, membaca Al-Quran, shalawat atas Nabi, kecintaan kita kepada beliau dan kepada para sahabatnya, serta amal shalih lainnya.

Dalam kitab Shahih Muslim terdapat riwayat yang mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal shalihnya. Orang pertama bertawassul dengan amal shalihnya, berupa memelihara hak buruh. Orang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tua. Orang yang ketiga bertawassul dengan takutnya kepada Allah, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan. Akhirnya Allah membukakan pintu gua itu dari batu besar yang menghalanginya, sampai mereka semua selamat.

6). Tawassul dengan Meninggalkan Maksiat.
Misalnya dengan meninggalkan minum khamr (minum-minuman keras), berzina dan sebagainya dari berbagai hal yang diharamkan. Salah seorang dari mereka yang terperangkap dalam gua, juga bertawassul dengan meninggalkan zina, sehingga Allah menghilangkan kesulitan yang dihadapinya.

Adapun umat Islam sekarang, mereka meninggalkan amal shalih dan bertawassul dengannya, lalu menyandarkan diri bertawassul dengan amal shalih orang lain yang telah mati. Mereka melanggar petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

7). Tawassul dengan Memohon Doa kepada Para Nabi dan Orang-Orang Shalih yang Masih Hidup.
Tersebutlah dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang itu berkata: “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia menyembuhkanku (sehingga bisa melihat kembali).” Rasulullah menjawab: “Jika engkau menghendaki, aku akan berdoa untukmu, dan jika engkau menghendaki, bersabar adalah lebih baik bagimu.” Ia (tetap) berkata: “Doakanlah.” Lalu Rasulullah menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu shalat dua rakaat, selanjutnya beliau menyuruhnya berdoa dengan mengatakan: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhiNya untukku. Ya Allah jadikanlah ia pemberi syafaat kepadaku, dan berilah aku syafaat (pertolongan) di dalamnya.”

Ia berkata, “Laki-laki itu kemudian melakukannya, sehingga ia sembuh.” [HR. Ahmad, hadis shahih]

Hadits di atas mengandung pengertian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuk laki-laki buta tersebut dalam keadaan beliau masih hidup. Maka Allah mengabulkan doanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang tersebut agar berdoa untuk dirinya. Menghadap kepada Allah untuk meminta kepadaNya agar Dia menerima syafaat NabiNya. Maka Allah pun menerima doanya.

Doa ini khusus ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Dan tidak mungkin berdoa dengannya setelah beliau wafat. Sebab para sahabat tidak melakukan hal itu. Juga, orang-orang buta lainnya tidak ada yang mendapatkan manfaat dengan doa itu, setelah terjadinya peristiwa tersebut.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📗 Referensi: Kitab Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Tha’ifah Al-Manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat). Karya Muhammad bin Jamil Zainu. Pustaka Darul Haq

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Desember 2019
S M S S R K J
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031