Site Loader
Share?

☝🏻 TAUHID RUBUBIYYAH

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Setiap Muslim wajib mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Kalimat tauhid bagi kaum Muslimin, khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kalimat yang sudah tidak asing lagi, karena tauhid bagi mereka adalah suatu ibadah yang wajib dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dan yang pertama kali didakwahkan sebelum yang lainnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (untuk menyeru) agar beribadah hanya kepada Allah saja (yaitu mentauhidkanNya) dan menjauhi thaghut.” [QS. An-Nahl: 36]

Tauhid menurut bahasa (etimologi) diambil dari kata: وَحَّدَ، يُوَحِّدُ، تَوْحِيْدًا artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut ilmu syar’i (terminologi), tauhid berarti mengesakan Allah Azza wa Jalla terhadap sesuatu yang khusus bagiNya, baik dalam Uluhiyyah, Rububiyyah, maupun Asma’ dan SifatNya.

Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja.

● Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah berarti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu.

Tauhid Rububiyyah mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Mengimani keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Al-Khaliq (Pencipta), Al-Malik (Pemilik), Ar-Raziq (Pemberi rezeki) segala sesuatu, juga mengimani dan mengakui bahwa Allah Azza wa Jalla adalah yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi manfaat, yang mendatangkan madharat, satu-satunya yang bisa mengabulkan doa, segala urusan menjadi hakNya, seluruh kebaikan ada di tanganNya, maha kuasa terhadap segala sesuatu, yang menetapkan segala sesuatu, yang mengatur dan mengurusi semuanya. Tidak ada sekutu bagiNya dalam semua perkara itu. [Lihat, Syarah Ath-Thahawiyah, hlm. 25]

Banyak sekali dalil yang menjelaskan tentang penetapan rububiyyah Allah Azza wa Jalla terhadap makhlukNya. Di antaranya:

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” [QS. Al-A’raf: 54]

Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۚ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNyalah segala kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” [QS. Faathir: 13]

Orang musyrikin pun mengakui sifat Rububiyyah Allah. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Pastilah mereka akan menjawab, ‘Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui’.” [QS. Az-Zukhruuf: 9. Lihat juga Al-Mu’minuun: 84-89, lihat juga ayat-ayat lain]

Kaum musyrikin pun mengakui bahwasanya hanya Allah semata Pencipta segala sesuatu, Pemberi rizki, Pemilik langit dan bumi, dan Pengatur alam semesta. Namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap sebagai penolong, mereka bertawassul dengannya (berhala tersebut) dan menjadikan mereka sebagai pemberi syafaat, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat. [Lihat QS. Yunus: 18, Az-Zumar: 3, 43-44]

Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

“Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sesembahan-sesembahan lain).” [QS. Yusuf: 106]

Tauhid rububiyyah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang masuk agam Islam, karena orang-orang musyrik zaman dahulu juga mengakui tauhid rububiyyah, tetapi hal itu tidak bermanfaat buat mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai orang Islam. Karena mereka masih menyekutukan Allah dalam tauhid uluhiyah, dengan mempersembahkan sebagian jenis ibadah, seperti doa, penyembelihan hewan dan istighatsah (memohon dihilangkan kesusahan) kepada sesembahan-sesembahan mereka, berupa patung, malaikat dan lainnya. [Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 3/96-102]

Sebagian Ulama Salaf berkata, “Jika kalian bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka pasti menjawab, ‘Allah.’*Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selainNya.” [Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atha’, Ikrimah, Asy-Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fathul Majid Syarh Kitabit Tauhid (hal. 39-40), tahqiq: Dr. Walid bin Abdirrahman bin Muhammad Al-Furaiyan]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📘 Referensi:
• Buku “Prinsip Dasar Islam.” Karya Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka At-Takwa.
• Artikel Sunnah lainnya

✒ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Desember 2019
S M S S R K J
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031