Site Loader
Share?

☝🏻 TAUHID ASMA’ WA SHIFAT ALLAH

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tetapkan atas diriNya, baik itu berupa Nama-Nama maupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mensucikanNya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita wajib menetapkan Sifat-Sifat Allah, baik yang terdapat di dalam Al-Quran maupun dalam As-Sunnah, dan tidak boleh ditakwil.

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah: “Adapun tauhid asma’ wa sifat maknanya adalah mengimani semua yang tertera dalam Al-Quran dan hadits-hadits yang shahih dari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kita menetapkan nama-nama dan sifat-sifat tersebut untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan keagunganNya.”

Jadi yang dimaksud dengan Tauhid Asma’ wa Shifat yaitu kita menetapkan untuk Allah Ta’ala nama-nama yang indah dan sifat-sifat yang mulia yang telah Allah tetapkan untuk diriNya dalam Al-Quran dan ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Sunnahnya sesuai keagungan Allah Azza wa Jalla. Karena penyandaran nama-nama dan sifat-sifat ini kepada Allah berkonsekuensi bahwasanya nama-nama dan sifat-sifat tersebut khusus untuk Allah Azza wa Jalla.

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d dan Sufyan Ats-Tsauri radhiallahu ‘anhum tentang berita yang datang mengenai Sifat-Sifat Allah, mereka semua menjawab:

أَمِرُّوْ هَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفَ

“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat-Sifat Allah) seperti datangnya dan janganlah engkau persoalkan (jangan engkau tanya tentang bagaimana sifat itu).” [Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar Al-Khallal dalam Kitabus Sunnah, Al-Laalikai (no. 930). Sanadnya shahih, lihat Fatwa Hamawiyah Kubra (hal. 303, cet. I, th. 1419 H) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq: Hamd bin ‘Abdil Muhsin At-Tuwaijiry, Mukhtashar Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghaffar (hal. 142 no. 134)]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

آمَنْتُ بِاللهِ، وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ، وَآمَنْتُ بِرَسُوْلِ اللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ اللهِ

“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah.” [Lihat Lum’atul I’tiqaad oleh Imam Ibnul Qudamah Al-Maqdisy, syarah oleh Syaikh Muhammad Shalih bin Al-Utsaimin (hal. 36)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah adalah mengimani Tauhid Al-Asma’ Wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diriNya dan apa-apa yang telah ditetapkan oleh RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diriNya, tanpa tahrif. Tahrif atau ta’wil yaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.

Ta’thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-Sifat Allah atau mengingkari seluruh atau sebagian Sifat-Sifat Allah Azza wa Jalla. Perbedaan antara Tahrif dan Ta’thil ialah, bahwa ta’thil itu mengingkari atau menafikan makna yang sebenarnya yang dikandung oleh suatu nash dari Al-Quran atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan tahrif ialah, merubah lafazh atau makna, dari makna yang sebenarnya yang terkandung dalam nash tersebut.

Tanpa Takyif, Takyif adalah menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau mempertanyakan: “Bagaimana Sifat Allah itu?” Atau menentukan hakikat dari Sifat Allah, seperti menanyakan: “Bagaimana Allah bersemayam?” Dan yang sepertinya adalah tidak boleh bertanya tentang kaifiyat Sifat Allah karena berbicara tentang sifat sama juga berbicara tentang dzat. Sebagaimana Allah Azza wa Jalla mempunyai Dzat yang kita tidak mengetahui kaifiyatnya. Dan hanya Allah yang mengetahui dan kita wajib mengimani tentang hakikat maknanya.

Tamtsiil sama dengan Tasybiih, yaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah Azza wa Jalla dengan sifat makhlukNya. [Lihat Syarah Al-Aqiidah Al-Waasithiyyah (I/86-100) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]

Menetapkan tanpa Tamtsil, menyucikan tanpa Ta’thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhlukNya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa denganNya. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. Asy-Syuuraa: 11]

Lafazh ayat: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ “Tidak ada yang sesuatu pun yang serupa denganNya,” merupakan bantahan terhadap golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat makhlukNya.

Sedangkan lafazh ayat: وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ “Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” adalah bantahan terhadap orang-orang yang menafikan atau mengingkari Sifat-Sifat Allah. [Lihat Minhajus Sunnah (II/111, 523) tahqiq DR. Muhammad Rasyad Salim]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📘 Referensi:
• Buku “Prinsip Dasar Islam.” Karya Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka At-Takwa.
• Artikel Sunnah Lainnya

✒ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Desember 2019
S M S S R K J
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031