Site Loader
Share?

🔖 Fiqh Shalat

📋 SYARAT-SYARAT SAH SHALAT {BAG. 2-TERAKHIR}

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Pada bagian pertama telah kita sebutkan 5 syarat-syarat sahnya shalat, yaitu: Islam, Berakal Sehat (Waras), Berusia Mumayyiz, Dalam Keadaan Suci (Tidak ada hadas), Bebas Dari Najis.

Di pembahasan terakhir ini akan kita lanjutkan syarat sahnya shalat yang lain, yaitu:

》 Menutup Aurat
Para Ulama rahimahumullah sepakat atas batalnya shalat orang yang terbuka auratnya padahal ia mampu untuk menutupnya. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) Masjid.” [QS. Al-A’raaf: 31]

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah haid (baligh) kecuali dengan mengenakan penutup kepala (jilbab).” [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah]

Aurat laki-laki antara pusar dan lutut. Sedangkan bagi wanita, maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan kedua telapak tangannya dalam shalat.

》 Telah Masuk Waktunya
Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” [QS. An-Nisa’: 103]

Maksudnya, wajib dalam waktu-waktu tertentu. Tidak sah shalat yang dikerjakan sebelum masuk waktu maupun setelah keluarnya waktu, kecuali ada halangan.

Apabila hendak mengerjakan shalat wajib yang lima waktu, maka harus tepat pada waktunya. Sebagaimana yang telah kita jelaskan pada bab-bab sebelumnya.

Apabila hendak mengerjakan shalat Dhuha, maka harus tepat pada waktunya. Sebagaimana hadis dari Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu. Ia mengatakan: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui penduduk Qubah yang sedang shalat Dhuha. Lalu beliau bersabda: “Waktu shalat al-awwaabiin (Dhuha) adalah pada saat anak unta merasa kepanasan di pagi hari.” [HR. Muslim]

Apabila hendak mengerjakan shalat Witir, maka juga harus tepat pada waktunya, yaitu setelah mengerjakan shalat Isya hingga terbit fajar dan waktunya yang paling utama adalah pada sepertiga malam terakhir. Hal ini berdasarkan hadis Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah salat Witir pada setiap bagian malam, baik di awal waktu, pertengahan, atau akhir malam. Shalat Witir beliau selesai di waktu sahur.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Demikian pula halnya dengan shalat-shalat yang lainnya, yaitu harus tepat pada waktu yang telah ditentukan syariat.

》 Menghadap Kiblat
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَآءِ ۚ فَلَـنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰٮهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِ نَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَـعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَا فِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” [QS. Al-Baqarah: 144]

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِعِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ.

“Jika engkau hendak shalat, maka berwudhulah dengan sempurna. Kemudian menghadaplah ke Kiblat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Boleh (shalat) dengan tidak menghadap ke Kiblat ketika dalam keadaan takut yang sangat dan ketika shalat sunnah di atas kendaraan sewaktu dalam perjalanan. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” [QS. Al-Baqarah: 239]

Abdullah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Menghadap ke Kiblat atau tidak menghadap ke sana.”

Nafi rahimahullah berkata: “Menurutku, tidaklah Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma menyebutkan hal itu melainkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Juga berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah mana saja dan shalat Witir di atasnya. Namun, beliau tidak shalat wajib di atasnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

》 Berniat Mengerjakan Shalat
Menurut bahasa niat berarti tujuan, yaitu keteguhan hati untuk melakukan sesuatu. Adapun menurut istilah syariat, niat adalah kemauan keras untuk melakukan amal ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗃 Referensi:
• Fiqh Shalat Berdasarkan Al-Quran & As-Sunnah. Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit Media Tarbiyah.
• Al-Quranul karim.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Januari 2019
S M S S R K J
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031