Site Loader
Share?

Soal Jawab

📝 SYARAT DAN TATA CARA SHALAT JAMAK DAN QASHAR

Bismillah.
Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barokatuh.

Saya Jasmoyo dari PSI 2

PERTANYAAN:
Apa syarat dan tata cara shalat jamak dan qashar? Mohon penjelasan, jazakallahu khairan.

JAWABAN:

وعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Menjamak Shalat
Menjamak shalat adalah menggabungkan pelaksanaan dua shalat wajib di satu waktu, yaitu shalat Zuhur digabung dengan shalat Asar, atau shalat Magrib digabung dengan shalat Isya.

Sebab-sebab yang membolehkan shalat untuk dijamak antara lain:

1• Safar, ini sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ صَلاَةِ الظُّهْرِ وَالعَصْرِ، إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَيَجْمَعُ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjamak shalat Zuhur dan Asar ketika safar, ketika beliau berada di tengah perjalanan, dan juga menjamak antara shalat Magrib dan Isya.” [HR. Bukhari no. 1107]

2• Hujan, dalilnya adalah dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِى غَيْرِ خَوْفٍ وَلاَ مَطَرٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjamak shalat Zuhur dan Asar serta Magrib dan Isya di Madinah bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan.” [HR. Muslim]

Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu Abbas ‘bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena hujan,’ ini pertanda bahwa menjamak shalat ketika hujan sudah dikenal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imam Malik dalam Al Muwatho mengatakan dari Nafi: “Apabila para amir (imam shalat) menjamak shalat Magrib dan Isya ketika hujan, Ibnu Umar ikut menjamak shalat bersama mereka.” [HR. Malik dalam Al Muwatho’ (1/145). Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih. Lihat Irwa’ul Gholil, no. 583]

Ini berarti Ibnu Umar menyetujui perbuatan menjamak shalat ketika hujan.

3• Sakit atau adanya hajat yang mendesak dan menghalangi untuk mengerjakan shalat-shalat wajib tersebut pada waktunya.

Diriwayatkan dari Imam Muslim bahwa Rasulullah menjamak antara shalat Zuhur dan Asar dan antara shalat Magrib dan Isya bukan karena rasa takut dan hujan. Pada riwayat lain (bukan karena rasa takut dan safar).

Syaikh Abdullah Ali Bassam (pada kitab Taisirul Alam) menyebutkan bahwa alasan Rasulullah mengerjakan itu adalah karena sakit. Beliau beralasan dengan bolehnya wanita yang istihadhah untuk menjamak shalat di mana istihadhah ini adalah termasuk salah satu penyakit.

Imam Nawawi berkata (dalam Syarah Shahih Muslim): “Sebagian Ulama berpendapat bolehnya menjamak shalat ketika tidak sedang safar karena adanya hajat yang menghalangi. Selama hal ini tidak dijadikan kebiasaan. Alasannya adalah berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika beliau ditanya mengapa Rasulullah melakukan hal tersebut (menjamak bukan karena rasa takut, hujan ataupun safar), maka Ibnu Abbas menjawab, ‘Beliau tidak ingin menyulitkan umatnya’. Di mana zahir dari perkataan Ibnu Abbas ini tidak menunjukkan satu alasan pun baik itu sakit ataupun selainnya yang menunjukkan mengapa Rasulullah melakukan hal tersebut.”

Mengqashar Shalat
Mengqashar artinya mengurangi jumlah rakaat yang sebelumnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Ibnul Qayyim berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengqashar shalat yang empat rakaat dengan mengerjakannya dua rakaat dari sejak Beliau keluar sebagai musafir hingga kembali ke Madinah, dan tidak sah sama sekali dari Beliau bahwa Beliau menyempurnakan shalat yang berjumlah empat rakaat.”

Adapun sebab yang membolehkan shalat untuk diqashar adalah musafir. Jumhur Ulama berpendapat, bahwa mengqashar shalat disyariatkan setelah meninggalkan tempat pemukimannya dan keluar dari kotanya.

Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan: “Saya sering menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan shalat tidak lebih dari dua rakaat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Ibnu Abbas mengatakan: “Sesungguhnya, Allah mewajibkan shalat melalui lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk musafir: 2 rakaat, untuk mukim: 4 rakaat, dan shalat khauf (ketika perang) dengan 1 rakaat.” [HR. Muslim]

Dan shalat yang diqashar hanya untuk shalat yang jumlahnya 4 rakaat, yaitu: Zuhur, Asar, dan Isya. Wallahu a’lam.

📑 Dari berbagai sumber

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🔏 Dijawab oleh: Alfaqir ilallah Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

📁 Referensi: Tanya Jawab WAGrup Permata Sunnah Ikhwan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Januari 2019
S M S S R K J
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031