SUNNAHNYA I’TIKAF

๐ŸŽ Mutiara Hadis

๐Ÿ•Œ SUNNAHNYA I’TIKAF

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Dari Aisyah radhiallahu โ€˜anha, ia berkata:

ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงูŽู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ุงูŽู„ู’ุนูŽุดู’ุฑูŽ ุงูŽู„ู’ุฃูŽูˆูŽุงุฎูุฑูŽ ู…ูู†ู’ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุชูŽูˆูŽููŽู‘ุงู‡ู ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ุซูู…ูŽู‘ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ุฃูŽุฒู’ูˆูŽุงุฌูู‡ู ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู

“Bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat.” [HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172]

Aisyah radhiallahu โ€˜anha berkata:

ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูŽุนู’ุชูŽูƒููู ููู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู’ุบูŽุฏูŽุงุฉูŽ ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐูู‰ ุงุนู’ุชูŽูƒูŽููŽ ูููŠู‡ู

“Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam biasa beriโ€™tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat Subuh, beliau masuk ke tempat khusus iโ€™tikaf beliau.” [HR. Bukhari no. 2041]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa i’tikaf pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan, karena mencari Lailatul Qadar, setelah beliau mengetahui bahwa Lailatul Qadar ada pada malam-malam itu. Beliau terus i’tikaf pada setiap tahunnya hingga beliau meninggal dunia. Kemudian para istri beliau melakukan i’tikaf sepeninggal beliau, mencari apa yang beliau cari.

<โ€ข> Kesimpulan Hadis:

1โ€ข Pensyariatan i’tikaf, dan ini merupakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dianjurkan untuk dilaksanakan.

2โ€ข Faidah dan hasilnya, yaitu orang yang melakukan i’tikaf memutuskan segala hubungan dengan dunia dan seisinya, menyendiri bersama RabbNya, merasakan kenikmatan bermunajat denganNya, menghimpun jiwa, dan rasa serta pikiran untuk menghadap dan beribadah kepadaNya.

3โ€ข I’tikaf Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditetapkan pada sepuluh malam yang terakhir dari bulan Ramadhan, yang pada malam-malam itu diharapkan Lailatul Qadar.

4โ€ข I’tikaf merupakan sunnah yang berkelanjutan dan tidak terhapus. Sebab para istri beliau juga melakukannya sepeninggal beliau.

5โ€ข Saat masuknya orang yang i’tikaf di tempat yang sebelumnya dia jadikan tempat itikaf, ialah setelah shalat Subuh.

6โ€ข Tidak ada salahnya orang yang i’tikaf menandai tempat yang dijadikannya sebagai tempat i’tikafnya, jika tidak mengganggu orang-orang lain yang shalat, yang didasarkan kepada riwayat Asy-Syaikhany dari Aisyah, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak i’tikaf, maka beliau menyuruh untuk memasang tenda beliau.

7โ€ข Dari makna dan maksud i’tikaf dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang i’tikaf harus meninggalkan jimak dan hal-hal yang menjurus kepada jimak, tidak boleh keluar dari tempat i’tikafnya tanpa ada keperluan, menghindarkan dari perbuatan-perbuatan keduniaan, seperti menjalin kontrak, kerja sama dengan orang lain, mengurus pekerjaan dan lain sebagainya, sedikit bergaul dengan manusia kecuali untuk zikir dan membaca Al-Quran, karena perbuatan-perbuatan itu atau yang sejenisnya dapat menafikan i’tikaf.

8โ€ข Syarat i’tikaf ialah hendaknya dilakukan di dalam masjid yang digunakan untuk jamaah, yang didasarkan kepada firman Allah: “Sedang kalian beri’tikaf di dalam Masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187). Tujuannya, agar i’tikafnya itu tidak membuatnya ketinggalan melakukan shalat jamaah atau lebih sering mengikuti shalat jamaah.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ““ Referensi: Buku “Syarah Hadis Pilihan Bukhari-Muslim. Kitab Puasa.” Karya Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam. Penerbit: Darul Falah.

โœ’ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *