SOAL JAWAB – TATA CARA SHALAT SUNNAH DHUHUR 4 RAKAAT DAN CARA DUDUK DALAM SHALAT YANG 2 RAKAAT

๐Ÿ“ฎ SOAL JAWAB

๐Ÿ“‹ TATA CARA SHALAT SUNNAH DHUHUR 4 RAKAAT DAN CARA DUDUK DALAM SHALAT YANG 2 RAKAAT

Pertanyaan
Bismillah..
Assalaamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barokaatuh. Barakallahu fikum. Saya ingin bertanya:

1. Shalat Sunah Rawatib Qobliah Zuhur 4 Rakaat. Apa pakai Tahiyaat awal atau tanpa Tahiyat awal?

2 Bagaimana duduk Tahiyat pada Shalat 2 Rokaat Iftirosh atau Tawaruk? Jazakumullahu khairan.

Dari Amri Darusamin – PSI 2

Jawaban

ูˆุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

โ“ Tentang shalat sunnah rawatib 4 rakaat sebelum dhuhur maka telah dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah โ€˜isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” [HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasaโ€™i no. 1794]

Dalam riwayat lain disebutkan dari hadits โ€˜Aisyah radhiyallahu โ€˜anha yang berbunyi:

ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏูŽุนู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู

“Sungguh, Nabi ๏ทบ, dahulu tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur.” [HR. Bukhari]

Begitupula dalam riwayat lain disebutkan,

ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูููŠ ุจูŽูŠู’ุชููŠ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนู‹ุง ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู ููŽูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ููŽูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุฑูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู

“Beliau ๏ทบ dahulu, shalat di rumahnya sebelum Zhuhur empat rakaat, kemudian keluar dan shalat mengimami manusia. Kemudian masuk (rumah lagi) dan shalat dua rakaat.” [HR. Muslim]

Adapun nengenai tata cara pelaksanaan shalat sunnah rawatib 4 rakaat sebelum dhuhur, maka tata caranya ada dua cara sebagaimana telah dijelaskan ulama kita.

1. Dilakukan dengan 2 kali salam, sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah ๏ทบ yang berbunyi:

ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰ ู…ูŽุซู’ู†ูŽู‰

“Shalat malam dan siang adalah dua rakaat dua rakaat.” [HR. Nasai]

2. Dilakukan dengan satu salam dan dua tasyahud, dengan dasar hadits yang berbunyi: Dari Abu Ayyub dari Nabi ๏ทบ, beliau bersabda:

ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŒ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุงู„ุธู‘ูู‡ู’ุฑู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠู‡ูู†ู‘ูŽ ุชูŽุณู’ู„ููŠู…ูŒ ุชููู’ุชูŽุญู ู„ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู

“Empat rakaat sebelum Zhuhur, tidak ada padanya salam, maka dibukakan karenanya pintu-pintu langit.” [HR. Abu Dawud]

Pendapat yang kami rojihkan (kuatkan) adalah pendapat yang pertama. Oleh karena itu untuk sholat sunnah sebelum Dhuhur jika seseorang ingin melaksanakan 4 rakaat, maka cara yg benar dan sesuai tuntunan Nabi ๏ทบ adalah 2 rakaat salam dan 2 rakaat salam.

As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam, seseorang yang sholat rawatib empat rakaat maka dengan dua salam bukan satu salam, karena sesungguhnya Nabi ๏ทบ bersabda: โ€œSholat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam dua rakaat salam.” [Majmuโ€™ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288]

โ“‘ Adapun pertanyaan tentang tata cara duduk ketika shalat yang 2 rakaat, apakah iftirasy atau tawarruk?

Permasalahan ini juga permasalahan yang terjadi khilaf atau perbedaan pendapat didalamnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa, “Setiap shalat yang dua rakaat atau dengan kata lain setiap shalat yang hanya ada satu tasyahudnya saja, seperti shalat shubuh, shalat jumโ€™at, dan shalat-shalat sunat yang dua rakaat, sifat duduknya adalah iftirasy seperti duduk di antara dua sujud.”

Di antara dalilnya adalah hadits Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu โ€˜anhu dia berkata:

ูƒุงูŽู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฌูŽู„ูŽุณูŽ ูููŠู’ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุŒ ุงูู’ุชูŽุฑูŽุดูŽ ุงู’ู„ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ุŒ ูˆูŽู†ูŽุตูŽุจูŽ ุงู’ู„ูŠูู…ู’ู†ูŽู‰

“Adalah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam jika duduk pada dua rakaat, beliau menghamparkan yang kiri, dan menegakkan yang kanan.” [HR. Ibnu Hibban: 5/370/no.1943, sebagaimana dalam Al-Ihsan]

Dan ini yang dikuatkan Imam Ahmad dan semisalnya.

Namun ada juga pendapat yang lain dari Imam Syafi’i bahwa yang kuat adalah tawarruk. Dalilnya dari Abu Humaid As-Saidi radhiyallahu โ€˜anhu dia berkata:

ููŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽู„ูŽุณูŽ ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู ุฌูŽู„ูŽุณูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูุฌู’ู„ูู‡ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽู†ูŽุตูŽุจูŽ ุงู„ู’ูŠูู…ู’ู†ูŽู‰ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฌูŽู„ูŽุณูŽ ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุฉู ุงู’ู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ูŽ ุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ูŠูุณู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽู†ูŽุตูŽุจูŽ ุงู’ู„ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽุฏูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูŽุชูู‡ู.

“Jika beliau duduk pada rakaat kedua, maka beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan (duduk iftirasy). Dan jika beliau duduk pada rakaat terakhir, maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lain, dan duduk di atas tanah (duduk tawarruk).” [HR. Al-Bukhari: 2/828]

Maka perhatikan lafazh ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽูƒู’ุนูŽุชูŽูŠู’ู†ู dalam hadits di atas, niscaya kita bisa mengetahui kalau yang dimaksud dengan dua rakaat dalam hadits adalah rakaat kedua dari 4 rakaat, bukan shalat yang dua rakaat.

Sebagai kesimpulan, masalah ini masalah yg longgar dan silakan pilih yang dianggap kuat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…โ€ฆ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

โœ๐Ÿป Dijawab oleh Akhukum Fillah Abu Muhammad Royhan Hafidzahullah

๐Ÿ—ƒ Referensi Tanya Jawab PSI

โ€ขโ”ˆโ€ขโฆโ€ขโ”ˆโ€ขโ—•โœฟโ—•โ€ขโ”ˆโ€ขโฆโ€ขโ”ˆโ€ข

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *