PENGERTIAN IBADAH DALAM ISLAM

🔖 Prinsip Dasar Islam

🔎 PENGERTIAN IBADAH DALAM ISLAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

》 Definisi Ibadah

Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:

  1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintahNya melalui lisan para RasulNya.
  2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zahir maupun yang batin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid, dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan, dan badan.

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ¤ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ¤ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah Dia lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [QS. Adz-Dzaariyaat: 56-58]

Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkanNya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barang siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepadaNya tetapi dengan selain apa yang disyariatkanNya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barang siapa yang beribadah kepadaNya hanya dengan apa yang disyariatkanNya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

》 Pilar-Pilar Ubudiyyah yang Benar

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hambaNya yang mukmin:

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ…

“Dia mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya.” [QS. Al-Maaidah: 54]

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” [QS. Al-Baqarah: 165]

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” [QS. Al-Anbiya’: 90]

Sebagian Salaf berkata:
• Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq (Zindiq adalah orang yang munafik, sesat, dan mulhid).

• Siapa yang beribadah kepadaNya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’ (Murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati).

• Dan siapa yang beribadah kepadaNya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy (Haruriy adalah orang dari golongan khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir).

Barang siapa yang beribadah kepadaNya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid. [Lihat Al-Ubuudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halaby Al-Atsary (hal. 161-162), Maktabah Darul Ashaalah 1416 H]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📘 Referensi:
• Buku “Prinsip Dasar Islam.” Karya Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka At-Takwa.
• Artikel Sunnah Lainnya

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *