Panduan Menuntut Ilmu Bag.6 (Terakhir)

PANDUAN MENUNTUT ILMU – Bagian 6 (Terakhir)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Nasehat & Wasiat Untuk Para Penuntut Ilmu [Seri Terakhir]

1.Hendaknya kalian bersatu di atas Sunnah dan Manhaj Salafus Shalih dan tidak berpecah-belah, serta saling menasihati dan mengasihi satu dengan lainnya dan hikmah dalam berdakwah. Saling berkunjung satu dengan lainnya. Dengan bersatu menjadi sebab dakwah akan kokoh, tersebar tauhid dan sunnah.

2. Berakhlak dan bermuamalah yang baik dengan manusia, bersabar dan hikmah. Hal itu adalah salah satu media terbaik untuk mendakwahkan tauhid.

Jangan sampai akhlakmu yang jelek menjadikan orang lari dari dakwah tauhid. (Sejarah membuktikan), bahwa tersebarnya dakwah Islam di negeri ini, di antaranya karena muamalah dan akhlak yang baik dari kaum Muslimin pendatang di negeri ini.

3. Selalu berhubungan dan terikat dengan Ulama Kibar yang mereka terkenal memahami sunnah, Manhaj yang lurus dan akidah yang shahihah. Semisal Asy-Syaikh Ibnu Baaz, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Asy-Syaikh al-Albaniy, Asy-Syaikh al-Luhaidan, Asy-Syaikh Robi’, Asy-Syaikh ‘Ubaid, Syaikh Muhammad bin Hadi dan dari para Ulama Ahlussunnah yang  lainnya.

4. Jangan mengambil ilmu dari juhala, Ahlul ahwa` wal Bid’ah. Tekad kita seluruhnya untuk mengambil ilmu hanya dari Ulama Sunnah Salafy.

5. Pentingnya mengetahui batasan-batasan syar’i dalam menjauhi ahlul bid’ah.

Syaikh Bakr Abu Zaid حفظه الله berkata: “Hukum asal dalam syari’at ini adalah hajr terhadap ahli bid’ah, tetapi tidak bisa digeneralisir secara umum dalam setiap keadaan, setiap orang serta kepada setiap ahli bid’ah, tidak bisa demikian. Begitu pula sebaliknya, menolak dan meninggalkan hajr terhadap ahli bid’ah secara mutlak adalah perbuatan meremehkan masalah ini dimana telah jelas kewajibannya secara syar’i berdasarkan nash dan ijma’. Dan disyari’atkannya hajr ini dalam rangka batasan-batasan syar’i yang dilandasi dengan pertimbangan didapatkannya kemaslahatan dan dihindarkannya kerusakan, dan yang demikian itu berbeda-beda penerapannya tergantung dari perbedaan jenis bid’ah, yang berhubungan dengan ahli bid’ahnya itu sendiri, kemudian sedikit dan banyaknya, begitulah seterusnya ditinjau dari sisi-sisi perbedaan lainnya, di mana syari’at Islam mempertimbangkan hal itu semua. Timbangan -bagi seorang muslim- yang dengan timbangan tersebut penerapan hajr itu menjadi benar sesuai dengan aturan mainnya. Timbangan itu berupa seberapa jauh dari tujuan-tujuan disyari’atkannya hajr terhadap ahli bid’ah dapat terealisasi, yang di antara tujuan-tujuan tersebut adalah sebagai bentuk hukuman, pelajaran, kembalinya orang banyak kepada kebenaran, me-nyempitkan ruang gerak ahli bid’ah, menahan penyebaran bid’ah, dan menjamin bersihnya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kotoran bid’ah.” [Hajrul Mubtadi’ (hal. 41) oleh Syaikh Bakr Abu Zaid. Tentang batasan syar’i dalam menjauhi ahlul bid’ah lihat kitab Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ (II/553-563) oleh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili]

Yang harus diperhatikan dalam menghajr dan mentahdzir terhadap ahli bid’ah adalah wajib dengan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan karena dorongan hawa nafsu, dengki, iri atau taqlid, dan lainnya. Selain itu juga harus ittiba’ (mencontoh) kepada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta mengikuti manhaj para Sahabat Radhiyallahu anhuma. Banyak sekali orang yang menghajr karena semata-mata mengikuti hawa nafsunya dan dia menyangka hal tersebut sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. [Disadur dari Majmuu’ Fataawaa (XXVIII/207) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah]

Dan sebagai tambahan, bahwa dalam menghajr harus mempertimbangkan mashlahat (manfaat) dan mafsadah (kerusakan) serta bertanya kepada ulama yang mendalam ilmunya agar dia tidak berbuat zhalim kepada saudaranya sesama muslim.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَلَوْ كَانَ كُلُّ مَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ عِصْمَةٌ وَلاَ أُخُوَّةٌ.

“Seandainya setiap perselisihan dua orang muslim tentang suatu perkara, mereka saling melakukan hajr, maka tidak tersisa lagi penjagaan dan persaudaraan di antara kaum Muslimin.” [Majmuu’ Fataawaa (XXIV/173) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَمَا أَكْثَرُ مَا يُصَوِّرُ الشَّيْطَانُ ذلِكَ بِصُوْرَةِ اْلأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْجِهَادِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَيَكُوْنُ مِنْ بَابِ الظُّلْمِ وَالْعُدْوَانِ.

“Betapa banyak manusia digambarkan oleh syaithan bahwa yang ia lakukan itu sebagai amar ma’ruf nahi munkar dan jihad di jalan Allah, padahal sesungguhnya yang ia lakukan itu berupa kezhaliman dan permusuhan.” [Lihat Dhawaabitul Amr bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Munkar ‘inda Syaikhil Islam (hal. 36)]

Inilah beberapa pelajaran-pelajaran tentang ilmu syar’i, dimana ilmu adalah amal sholih yang paling utama dan ibadah yang paling mulia diantara ibadah-ibadah sunnah karena ilmu termasuk jenis jihad di jalan Allah.

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Jihad dengan hujjah dan lisan lebih didahulukan daripada jihad dengan pedang dan tombak.” Imam Asy-Syafi’I berkata: “Orang yang berilmu, jika ia dikatakan bodoh maka ia akan marah begitu pula sebaliknya jika orang yang bodoh dikatakan orang yang berilmu maka ia akan bangga.”

Demikianlah pentingnya ilmu dan pengamalannya, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis, pembaca dan seluruh kaum muslimin, semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengamalkan dan membela sunnah beliau sampai akhir zaman.

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber:
– Diringkas dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
– Artikel nasihatsahabat.com/nasihat-dan-wasiat-untuk-para-penuntut-ilmu/

Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *