Panduan Menuntut Ilmu Bag.5

PANDUAN MENUNTUT ILMU – Bagian 5

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Nasehat & Wasiat Untuk Para Penuntut Ilmu (Seri 1)

ⓐ Penuntut ilmu harus bertaqwa kepada Allah

Seorang penuntut ilmu harus bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala di mana pun ia berada, juga harus senantiasa merasa diawasi oleh-Nya. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” [Hadits Hasan, Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1987)]

ⓑ Penuntut ilmu wajib menghormati guru dan berterima kasih kepadanya

Seorang penuntut ilmu wajib menghormati ustadz (guru)nya yang telah mengajarnya, wajib beradab dengan adab yang mulia, juga harus berterima kasih kepada guru yang telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepadanya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا. رواه الحاكم

“Tidak termasuk golongan kami; orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak seorang ulama.” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/323) dan al-Hakim]

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullaah berkata, “Seorang penuntut ilmu harus memperbaiki adabnya terhadap gurunya, memuji Allah yang telah memudahkan baginya dengan memberikan kepadanya orang yang mengajarkannya dari kebodohannya, menghidupkannya dari kematian (hati)nya, membangunkannya dari tidurnya, serta mempergunakan setiap kesempatan untuk menimba ilmu darinya.”

Hendaklah ia memperbanyak doa bagi gurunya, baik ketika ada maupun ketika tidak ada. Karena, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفًا فَكَافِئُوْهُ ، فَإِنْ لَـمْ تَـجِدُوْا مَا تُكَافِئُوْنَهُ ؛ فَادْعُوْا لَهُ حَتَّىٰ تَرَوْا أَنَّـكُمْ قَدْ كَافَأْتُـمُوْهُ

“Barang siapa telah berbuat kebaikan kepadamu, maka balaslah kebaikannya itu. Jika engkau tidak mendapati apa yang dapat membalas kebaikannya itu, maka berdo’alah untuknya hingga engkau menganggap bahwa engkau benar-benar telah membalas kebaikannya.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad (no. 216)]

ⓒ Tidak boleh menyembunyikan ilmu, karena ini merupakan sifatnya orang Yahudi dan Nasrani dan ia akan dibelenggu dengan tali kekang dari neraka

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” [QS. Albaqarah : 159]

Apabila seseorang mengetahui suatu ilmu, kemudian ada orang lain yang bertanya tentang ilmu tersebut maka ia harus menyampaikan ilmu tersebut kepadanya. Sebab apabila tidak dilakukan dan ia menyembunyikan ilmunya itu, ia terkena ancaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan di-belenggu pada hari Kiamat dengan tali kekang dari Neraka.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3658), at-Tirmidzi (no. 2649), dan Ibnu Majah (no. 266)]

ⓓ Penuntut ilmu harus tunduk pada kebenaran

Orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“…Yang dikatakan sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” [Shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 91 (147)) dan at-Tirmidzi (no. 1999)]

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran.” [Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam]

ⓔ Penuntut ilmu harus berusaha mencari nafkah dan tidak menjadi beban orang lain

ⓕ Penuntut ilmu tidak boleh futur (malas, lamban, dan tidak semangat)

Seorang penuntut ilmu tidak boleh futur dalam usahanya untuk memperoleh dan mengamalkan ilmu. Futur yaitu rasa malas, enggan, dan lamban di mana sebelumnya ia rajin, bersungguh-sungguh, dan penuh semangat.

Futur adalah satu penyakit yang sering menyerang sebagian ahli ibadah, para da’i, dan penuntut ilmu. Sehingga seseorang menjadi lemah dan malas, bahkan terkadang berhenti sama sekali dari melakukan aktivitas kebaikan. Orang yang terkena penyakit futur ada tiga golongan, yaitu:

– Golongan yang berhenti sama sekali.

– Golongan yang terus dalam kemalasan dan patah semangat, namun tidak sampai berhenti sama sekali.

– Golongan yang kembali pada keadaan semula.

Diantara sebab-sebab futur adalah:

– Hilangnya keikhlasan

– Lemahnya iman dan ilmu syar’i

– Ketergantungan hati pada dunia dan lupa akhirat

– Fitnah (cobaan) berupa istri, anak, dan harta

– Hidup ditengah masyarakat yang rusak.

– Berteman dengan orang-orang yang pemalas atau bermasalah.

– Melakukan dosa dan maksiat serta memakan barang-barang yang haram

– Menyendiri (tidak mau berjama’ah).

Di antara obat penyakit futur ialah:

◑ Memperbaharui keimanan

◑ Merasa selalu diawasi oleh Allah dan banyak berdzikir kepada-Nya

◑ Ikhlas dan taqwa

◑ Mensucikan hati dari noda syirik, bid’ah, dan maksiat

◑ Tekun menuntut ilmu, menghadiri pengajian dsb

◑ Mencari teman yang baik

◑ Memperbanyak mengingat kematian dan takut akan su’ul khotimah

◑ Sabar dan belajar untuk sabar

◑  Berdoa dan memohon pertolongan dari Allah.

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Referensi: “MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA” Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas.

Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *