Panduan Menuntut Ilmu Bag.4

PANDUAN MENUNTUT ILMU – Bagian 4

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Beberapa Kesalahan Yang Wajib Dijauhi Penuntut Ilmu

1. Hasad (dengki/iri)

Hasad adalah benci, tidak suka atas nikmat apapun yang Allah berikan kepada orang lain. Bukanlah hasad itu berharap hilangnya nikmat Allah dari orang lain bahkan sekedar bencinya seseorang atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itupun termasuk hasad. Baik berharap akan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain ataupun nikmat itu tetap ada namun dia benci atasnya.

Sebagaimana yang diteliti, disimpulkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. Beliau mengatakan, “Hasad adalah seseorang benci, tidak suka atas nikmat apapun yang Allah berikan kepada selain dirinya.”

Beberapa tanda hasad, yaitu:

• Senang dengan kesalahan temannya.
• Senang dengan ketidakhadiran temannya.
• Senang dan merasa puas jika temannya dicela.
• Menjelekkan temannya apabila ditanya tentangnya.
• Hatinya akan terasa sakit dan dadanya terasa sempit apabila temannya ditanya padahal ia ada.
• Tidak menghargai manfaat atau ilmu yang dimiliki temannya.
• Mencoba menyalahkan atau mengkritik temannya apabila temannya menjawab.

Adapun, dampak buruk dari sikap hasad, yaitu:

• Dia membenci apa yang telah ditetapkan oleh Allah.
• Sesungguhnya hasad akan memakan kebaikan-kebaikannya sebagaimana api memakan kayu bakar.
• Hatinya akan terus sedih dan panas.
• Orang yang hasad serupa dengan orang yahudi.
• Hasad dapat menghilangkan kesempurnaan iman.
• Hasad dapat mengakibatkan seseorang lalai dari memohon kepada Allah akan karunia-Nya.
• Hasad merupakan akhlak yang tercela.
• Sesungguhnya orang yang dihasad akan mengambil kebaikan orang yang menghasad pada hari kiamat kelak.

2. Berfatwa tanpa ilmu

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” [An-Nahl:116-117]

Untuk itu sebagai seorang penuntut ilmu jika ditanya sesuatu yang tidak diketahui jangan malu untuk mengatakan tidak tahu. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan,

فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم الله أعلم

“Sesunguhnya termasuk bagian dari ilmu adalah mengatakan Allahu A’lam atas apa-apa yang tidak diketahui.”
Bahkan perkataan “Aku tidak tahu” merupakan sebagian dari ilmu.

3. Kibr (sombong)

Definisi sombong yang paling tepat adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, Menolak kebenaran dan meremehkan manusia. [HR Muslim kitabul iman bab haramnya sombong dan penjelasannya]

Seorang penuntut ilmu haruslah tunduk kepada kebenaran, haruslah menerima dan wajib rujuk kepada kebenaran.

4. Fanatik kepada madzab dan pendapat

Di antara kesalahan besar yang hendaknya dihindari penuntut ilmu adalah berta’ashub pada suatu madzhab, pendapat atau masyayikh tertentu. Yang dengannya ia berwala’ (loyal) dan bara’ (berlepas diri).  Menganggap madzhab atau masyayikhnya saja yang di atas ilmu dan kebenaran sedang yang lain jahil, ahli bid’ah dan perkataan jelek lainnya. Sehingga terjadilah saling mencela dan menghujat diantara penuntut ilmu.

Hendaknya penuntut ilmu menghindari dari hal-hal yang demikian karena hal tersebut akan melemahkan barisan kaum muslimin sendiri. Allah berfirman,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS al Anfaal: 46]

5. Merasa alim (mampu) sebelum layak

Jika ada seseorang yang suka tampil sebelum memiliki keahlian pada urusan tersebut hal ini menunjukkan atas beberapa hal:
• Ujub pada diri sendiri dengan merasa dirinya seorang alim.
• Menunjukkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan atas masalah-masalah yang terjadi.
• Berkata atas (agama) Allah sesuatu yang ia tidak ketahui.
• Kebanyakan sulit menerima kebenaran karena jika sudah merasa alim merasa rendah jika harus mengakui kebenaran ada dipihak orang lain.

6. Selalu berburuk sangka

Tidak seyogyanya seorang penuntut ilmu selalu beburuk sangka dengan yang lainnya apalagi pada orang-orang yang berilmu dan dikenal baik agamanya. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa.” [Al Hujurat: 12]

7. Bertengkar dan debat kusir

Hindari debat kusir yang tidak bermanfaat, walaupun kita menang bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah padahal dia mengakui kebenaran telah datang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُبْطِلٌ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ مَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allah akan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di atas surga.” [Shahih at-Targib wat Tarhib, jilid 1, no. 138]

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Referensi: “MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA” Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas

Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *