Panduan Menuntut Ilmu Bag.3

PANDUAN MENUNTUT ILMU – Bagian 3

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Penghalang-Penghalang Dalam Menuntut Ilmu

1. Niat yang rusak

Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu salah dan rusak, maka amal yang dilakukannya pun ikut salah dan rusak sebesar salah dan rusaknya niat. Sesungguhnya kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu adalah mengobati niat, memperhatikan kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan.
Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat untuk aku obati daripada niatku.” [Tadzkiratus Saamiโ€™ wal Mutakallim (hal. 112)]

Al-Hasan al-Bashri rahimahullaah menuturkan, “Siapa yang mencari ilmu karena mengharap negeri akhirat, ia akan mendapatkannya. Dan siapa yang mencari ilmu karena mengharap kehidupan dunia, maka kehidupan dunia itulah bagian dari ilmunya.”

Imam Malik bin Dinar rahimahullaah berkata, “Barang siapa mencari ilmu bukan karena Allah Taโ€™ala, maka ilmu itu akan menolaknya hingga ia dicari hanya karena Allah.” [Jaamiโ€™ Bayaanil โ€˜Ilmi wa Fadhlihi (I/748, no. 1376)]

2. Ingin terkenal dan ingin tampil

Ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronis. Tidak seorang pun dapat selamat darinya, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Taโ€™ala. Rasulullah shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ูŠูŽุง ู†ูŽุนูŽุงูŠูŽุง ุงู„ู’ุนูŽุฑูŽุจูุŒ ูŠูŽุง ู†ูŽุนูŽุงูŠูŽุง ุงู„ู’ุนูŽุฑูŽุจู (ุซูŽู„ุงูŽุซู‹ุง)ุŒ ุฃูŽุฎู’ูˆูŽูู ู…ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุงูู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’: ุงูŽู„ุฑูู‘ูŠูŽุงุกูุŒ ูˆูŽุงู„ุดูŽู‘ู‡ู’ูˆูŽุฉู ุงู„ู’ู€ุฎูŽูููŠูŽู‘ุฉู.

“Wahai bangsa Arab, wahai bangsa Arab (tiga kali), sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah riyaโ€™ dan syahwat yang tersembunyi.” [Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Muโ€™jamul Kabiir]

Imam Ibnul Atsir rahimahullaah mengatakan, “Maksud syahwat yang tersembunyi dalam hadits ini adalah keinginan agar manusia melihat amalnya.” [An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/516)]

Rasulullah shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู…ูŽู‘ุนูŽ ุณูŽู…ูŽู‘ุนูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูุฑูŽุงุฆููŠ ูŠูุฑูŽุงุฆููŠ ุงู„ู„ู‡ู ุจูู‡ู

“Barang siapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan menyiarkan aibnya. Dan barangsiapa beramal karena riyaโ€™, maka Allah akan membuka niatnya (di hadapan manusia pada hari Kiamat).” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari & Muslim, dari Shahabat Jundub bin โ€˜Abdillah radhiallaahu โ€˜anhu]

3. Lalai menghadiri majelis ilmu syarโ€™i

Para ulama Salaf mengatakan bahwa ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Tetapi, sekarang ilmu itu mendatangi kita dan tidak didatangi, kecuali beberapa saja.

4. Beralasan dengan banyaknya kesibukan.

Alasan ini dijadikan syaitan sebagai penghalang dalam menuntut ilmu. Berapa banyak saudara kita yang telah dinasihati dan dimotivasi untuk menuntut ilmu syarโ€™i, tetapi syaitan menggoda dan membujuknya. Oleh karena itu, pandai-pandailah mengatur waktu yang Allah Taโ€™ala berikan kepada kita. Berikanlah bagian untuk menuntut ilmu syarโ€™i. Sisihkanlah satu atau dua hari dalam seminggu untuk menghadiri majelis ilmu jika tidak mampu melakukannya sesering mungkin. Jangan biarkan hari-hari kita penuh dengan kesibukan, namun kosong dari menuntut ilmu dan berdzikir kepada Allah Taโ€™ala. Ingat, bahwa orang yang tidak meghadiri majelis ilmu dan tidak mau menuntut ilmu syarโ€™i, maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.

5. Menyia-nyiakan kesempatan belajar diwaktu kecil

Allah Taโ€™ala berfirman,

ูˆูŽุงุนู’ุจูุฏู’ ุฑูŽุจูŽู‘ูƒูŽ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ูฐ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽูƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya keyakinan (kematian).” [Al-Hijr: 99]

Oleh karena itu, sebelum kita disibukkan oleh orang lain, direpotkan berbagai urusan, dan menyesal seperti orang yang mengalaminya, maka manfaatkanlah masa muda untuk menuntut ilmu syarโ€™i. Ini bukan berarti orang yang sudah tua boleh berputus asa dalam menuntut ilmu, namun seluruh umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menuntut ilmu karena ia adalah ibadah.

Maka dari itu, para remaja maupun orang tua, laki-laki maupun wanita, segeralah bertaubat kepada Allah Taโ€™ala atas segala apa yang telah luput dan berlalu. Sekarang mulailah menuntut ilmu, menghadiri majelis taโ€™lim, belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, dan menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.

6. Bosan dalam menuntut ilmu

Di antara penghalang menuntut ilmu adalah merasa bosan dan beralasan dengan berkonsentrasi mengikuti informasi terkini guna mengetahui peristiwa yang sedang terjadi.

7. Menilai baik diri sendiri

Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang apabila mendengar orang lain memujinya. Rasulullah shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ุชูุฒูŽูƒูู‘ูˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุจูุฑูู‘ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’

“Janganlah menganggap diri kalian suci, Allah lebih mengetahui orang yang berbuat baik di antara kalian. [HR. Muslim]

8. Tidak mengamalkan ilmu

Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu. Orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmunya. Allah Taโ€™ala benar-benar mencela orang yang melakukan hal ini dalam firman-Nya.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู„ูู…ูŽ ุชูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽูู’ุนูŽู„ููˆู†ูŽ ูƒูŽุจูุฑูŽ ู…ูŽู‚ู’ุชู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู†ู’ ุชูŽู‚ููˆู„ููˆุง ู…ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽูู’ุนูŽู„ููˆู†ูŽ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaff: 3]

9. Putus asa dan rendah diri

Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lemah dalam pemahaman, lambat dalam membaca, atau cepat lupa. Semua penyakit ini akan hilang jika kita meluruskan niat dan mencurahkan usaha.

10. Terbiasa menunda-nunda

Seorang ulama Salaf berkata, “Menunda-nunda adalah termasuk tentara iblis.” Sebagian penuntut ilmu terbiasa menunda-nunda belajarnya dalam waktu lama. Mereka mengatakan, “Saya akan menghafalkan kitab si fulan pada hari anu. Saya akan membaca kitab si fulan setelah melakukan ini dan itu.” Setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian sebagaimana orang yang berilmu, hendaklah tidak menyia-nyiakan waktunya sedikit pun. Sesungguhnya jika seseorang mau membaca sejarah tentang kesungguhan ulama Salaf dalam memanfaatkan waktunya ia akan merasa takjub sekaligus heran.

11. Belajar kepada ahlul bidโ€™ah

Rasulullah shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฅูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ุฃูŽุดู’ุฑูŽุงุทู ุงู„ุณูŽู‘ุงุนูŽุฉู ุฃูŽู†ู’ ูŠูู„ู’ุชูŽู…ูŽุณูŽ ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู’ู„ุฃูŽุตูŽุงุบูุฑู

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah dipelajarinya ilmu dari al-ashaaghir.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab az-Zuhd (no. 52), Ibnu โ€˜Abdil Barr dalam al-Jaamiโ€™ (I/612, no. 1051 dan 1052), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908), dari Abu Umayyah al-Jumahi radhiallaahu โ€˜anhu]

Imam Ibnul Mubarak rahimahullaah ditanya tentang al-ashaaghir? Beliau menjawab, “Al-ashaaghir adalah ahlul bidโ€™ah.” [Lihat Syarah Ushuul Iโ€™tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaโ€™ah (I/95, no. 102)]

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullaah mengatakan,

ุฅูู†ูŽู‘ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ูŽ ุฏููŠู’ู†ูŒุŒ ููŽุงู†ู’ุธูุฑููˆู’ุง ุนูŽู…ูŽู‘ู†ู’ ุชูŽุฃู’ุฎูุฐููˆู’ู†ูŽ ุฏููŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian?” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiihnya (I/14)]

Imam Malik bin Anas rahimahullaah mengatakan, “Ilmu tidak boleh dipelajari dari empat orang:”

(1) orang bodoh yang menampakkan kebodohannya meskipun banyak meriwayatkan hadits,

(2) ahlu bidโ€™ah yang mengajak kepada hawa nafsunya,

(3) orang yang berdusta saat berbicara dengan orang lain meskipun ia tidak berdusta dalam meriwayatkan hadits, dan

(4) orang shalih ahli ibadah namun tidak memahami apa yang ia katakan. [Siyar Aโ€™laamin Nubalaaโ€™ (VI/ 61)]

Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar kepada Ahlul bidโ€™ah karena ia (ahlul bidโ€™ah) merasa ridha dengan sesuatu yang menyelisihi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Taโ€™ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah shallallaahu โ€˜alaihi wa sallam belum sempurna dalam menyampaikan seluruh risalah.”

13. Tergesa-gesa ingin memetik buah ilmu

Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya untuk memperoleh ilmu. Menuntut ilmu tidak cukup dilakukan satu atau dua tahun karena yang demikian menyalahi jalan Salafush Shalih. Menuntut ilmu agama tidak bisa melalui jalan kursus atau belajar dengan singkat.

Imam Yahya bin Abi Katsir rahimahullaah mengatakan, “Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan.” [Diriwayatkan oleh Muslim (no. 612 (175)) dan Ibnu โ€˜Abdil Barr dalam Jaamiโ€™ Bayaanil โ€˜Ilmi wa Fadhlihi (I/384, no. 553)]

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu aโ€™lam.

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ุŒ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

Referensi: โ€œMENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGAโ€ Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas.

Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *