Site Loader
Share?

🔖 Fiqh Shalat

💟 NIAT DALAM IBADAH (SHALAT)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Menurut bahasa niat berarti tujuan, yaitu keteguhan hati untuk melakukan sesuatu. Adapun menurut istilah syariat, niat adalah kemauan keras untuk melakukan amal ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Hal ini berdasarkan hadis dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan niat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Salah satu tujuan niat yaitu untuk membedakan tujuan dalam beramal, apakah yang dituju adalah Allah semata yang tiada sekutu bagiNya atau semata-mata hanya untuk selainNya, atau untuk Allah tapi juga untuk selainNya. Dan niat merupakan syarat diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat karena Allah Ta’ala semata.

Niat itu tempatnya di hati dan tidak disyariatkan mengucapkannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkannya. Bahkan Ulama menyebutkan bahwa pengucapan atau melafazkan bacaan niat merupakan bid’ah (perkara baru) karena tidak ada satupun riwayat yang shahih maupun dhaif bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencontohkannya.

Bahkan tidak ada dari salah seorang Sahabat beliau, dan tidak pula dianggap baik oleh Tabi’in, ataupun Imam yang empat. Padahal, tidak diragukan lagi bahwasanya shalat merupakan ibadah agung yang harus terpenuhi dua syarat ibadah:

1• Ikhlas karena Allah Ta’ala.
Artinya, memurnikan niat dalam beribadah kepada Allah, semata-mata mencari ridha Allah, menginginkan wajah Allah, dan mengharapkan pahala atau keuntungan di akhirat. Serta membersihkan niat dari syirik, riya, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ ۗ 

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaatiNya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” [QS. Al-Bayyinah: 5]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima dari semua jenis amalan kecuali yang murni untukNya dan untuk mencari wajahNya.” [HR. Nasai, no. 3140. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 52]

2• Harus Mutaaba’ah yaitu mengikuti contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim]

Dengan ini, jelas bahwa ibadah harus sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam waktunya, sifatnya, dan tidak boleh menambahkan ibadah yang tidak dituntunkan, baik berupa amalan atau perkataan.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗃 Referensi:
• Fiqh Shalat Berdasarkan Al-Quran & As-Sunnah. Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit Media Tarbiyah.
• Referensi lainnya

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Januari 2019
S M S S R K J
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031