MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA

๐ŸŽ Mutiara Hadis

๐Ÿฑ MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Dari Sahl bin Saโ€™ad radhiallahu โ€˜anhu, bahwa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ู„ุงูŽูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุนูŽุฌู‘ูŽู„ููˆุง ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽ

“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka.” [HR. Bukhari 4/173 dan Muslim 1093]

Pembawa syariat yang bijaksana memerintahkan untuk memisahkan waktu ibadah dengan lainnya, agar ada kejelasan aturan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah dan berada pada batasan-batasannya.

Maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan terbenamnya matahari sebagai waktu berbuka bagi orang yang berpuasa, maka beliau memerintahkannya untuk segera berbuka pada awal waktu dan mengabarkan: โ€œManusia senantiasa dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka,โ€ karena dengan begitu mereka tetap memelihara As-Sunnah.

Jika mereka mengakhirkan berbuka, maka itu merupakan bukti hilangnya kebaikan dari mereka, karena mereka meninggalkan As-Sunnah, yang faidah agamanya juga kembali kepada diri mereka sendiri, yaitu mengikuti As-Sunnah, di samping faidah keduniaan, yaitu menjaga fisik mereka agar tetap kuat dengan makanan dan minuman.

<โ€ข> Kesimpulan Hadis:
1โ€ข Sunnah menyegerakan fitrah (berbuka) jika matahari sudah terbenam, yang dapat diketahui dengan cara melihat langsung dengan mata kepala atau lewat pengabaran yang akurat.

2โ€ข Menyegerakan berbuka merupakan bukti tetapnya kebaikan pada diri orang yang melakukannya dan hilangnya kebaikan dari orang yang menunda-nundanya.

3โ€ข Kebaikan yang diisyaratkan di dalam hadis ini ialah mengikuti As-Sunnah dan hal ini termasuk hal-hal yang disukai jiwa.

4โ€ข Hadis ini termasuk mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mengakhirkan berbuka merupakan kebiasaan golongan Syiah. Dan mereka termasuk salah satu golongan sesat. Mereka tidak mengikuti siapa pun dalam hal ini selain orang-orang Yahudi, yang tidak berbuka kecuali setelah bintang-bintang bermunculan.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ““ Referensi: Buku “Syarah Hadis Pilihan Bukhari-Muslim. Kitab Puasa.” Karya Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam. Penerbit: Darul Falah.

โœ’ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *