MENIATKAN QIYAMUL LAIL NAMUN TERTIDUR DAN MENINGGALKAN SHALAT JIKA SANGAT MENGANTUK

๐Ÿ“” Kitab Shalat

๐Ÿ•‹ BAB: SHALAT TATHAWWU (SUNNAH)

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

๐Ÿ’ค Meniatkan Qiyamul Lail Namun Tertidur dan Meninggalkan Shalat Jika Sangat Mengantuk

Orang yang meniatkan qiyamul lail tetapi kemudian ia tertidur hingga Subuh, maka ia akan mendapatkan pahala.

Dari Abu Darda, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุชูŽู‰ ููุฑูŽุงุดูŽู‡ูุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽู†ู’ูˆููŠ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู’ู…ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ูุŒ ููŽุบูŽู„ูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู†ู‘ูŽูˆู’ู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูุตู’ุจูุญูŽุŒ ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ูŽุง ู†ูŽูˆูŽู‰ุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู†ูŽูˆู’ู…ูู‡ู ุตูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ

“Barang siapa yang mendatangi pembaringannya dan berniat bangun untuk mengerjakan shalat malam, tetapi kemudian ia dikalahkan oleh kedua matanya (tertidur lelap) hingga pagi hari, maka dituliskan baginya apa yang telah diniatkannya, sedangkan tidurnya menjadi sedekah untuknya dari Rabbnya.” [Diriwatkan oleh An-Nasai Shahiih Sunanin Nasai, no. 1686. Shahih Sunan Ibni Majah, no. 1172. Lihat Al-Irwa, no. 454]

Begitupula seseorang harus meninggalkan shalat dan tidur sejenak jika sedang dalam kondisi sangat mengantuk hingga ia segar kembali.

Hal ini berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุฃุญูŽุฏููƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ู ุŒ ููŽุงุณู’ุชูŽุนู’ุฌูŽู…ูŽ ุงู„ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู„ูุณูŽุงู†ูู‡ู ุŒ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ุฑู ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุŒ ููŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุทูŽุฌูุน

“Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat malam, lalu terasa berat Al-Quran bagi lisannya dan ia tidak mengerti apa yang diucapkannya, maka hendaklah ia berbaring (tidur).” [HR. Muslim, no. 787 dan lainnya]

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk masjid dan melihat tali yang dibentangkan di antara dua tiang. Beliau bertanya: “Untuk apa tali ini?” Orang-orang menjawab: “Tali milik Zainab itu biasa digunakan untuk shalat. Apabila merasa malas atau hilang semangat, ia berpegangan pada tali tersebut).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lepaskanlah tali itu. Hendaklah seseorang di antara kalian shalat dalam keadaan bersemangat. Jika sedang malas atau hilang semangat, maka ia boleh duduk.” Dalam hadis Zuhair disebutkan: “Hendaklah ia duduk.” [HR. Bukhari, no. 1150 dan Muslim, no. 784]

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“‘ Referensi: Buku “Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Quran & As-Sunnah.” Karya Syaikh Husain bin Audah Al-Awaisyah. Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

โœ’ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *