Site Loader
Share?

🔖 Fiqh Shalat

🕛 MENGQADHA SHALAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الصُّبْحَ، وَمَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الْعَصْرِ قَبْلَ أَنْ تَغْرِبَ الشَّمْسُ فَقَدْ أَدْرَكَ الْعَصْرَ

“Barang siapa mendapati satu rakaat shalat Subuh sebelum matahari terbit, maka dia telah mendapati shalat Subuh. Dan barang siapa mendapati satu rakaat shalat Asar sebelum matahari terbenam, maka dia telah mendapati shalat Asar.” [Muttafaq Alaihi]

Hukum ini tidak dikhususkan bagi shalat Subuh dan Asar saja, tetapi untuk seluruh shalat.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ.

“Barang siapa mendapati satu rakaat shalat, maka dia telah mendapati shalat itu.” [Muttafaq Alaihi]

Ibnu Hazm rahimahullah berkata dalam Al-Muhallaa (II/235): “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan waktu tertentu, yaitu awal dan akhirnya, bagi setiap shalat wajib. Masuk pada waktu tertentu dan keluar pada waktu tertentu. Tidak ada bedanya antara orang yang shalat sebelum waktunya dan orang yang shalat sesudah waktunya. Karena keduanya shalat pada selain waktunya. Qadha adalah kewajiban dari agama. Sedangkan agama tidak boleh selain dari Allah melalui lisan RasulNya. Jika memang qadha wajib bagi orang yang sengaja meninggalkan shalat hingga keluar waktunya, maka tentu Allah dan RasulNya tidak akan melalaikan dan melupakannya. Tidak pula sengaja menyulitkan kita dengan tidak memberi penjelasan mengenainya. “Dan tidaklah Rabbmu lupa.” (QS. Maryam: 64). Dan setiap syariat yang bukan dari Al-Quran dan Sunnah adalah bathil.”

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ نَسِيَ صَلاَةً أَوْ تَسامَ عَنْهَا فَكَفَرَ تُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barang siapa lupa shalat atau tertidur sehingga tidak mengerjakannya, maka kafaratnya ialah mengerjakannya selagi mengingatnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Adapun bagi orang-orang yang sengaja meninggalkan shalat berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, maka ia wajib taubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha (ikhlas) dan tidak ada qadha (ganti) atau ganti dengan apapun. Kewajiban dia bertaubat kepada Allah dan memperbanyak shalat-shalat sunnah yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperbanyak amal-amal shalih.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗃 Referensi:
• Fiqh Shalat Berdasarkan Al-Quran & As-Sunnah. Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit Media Tarbiyah.
• Al-Quranul karim.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Desember 2019
S M S S R K J
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031