Site Loader
Share?

🔅 Edisi: Manhaj

🏅 Ushul As-Sunnah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

🙏🏻 MENDENGAR DAN TAAT PADA PEMIMPIN KAUM MUKMININ

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Mendengar dan taat pada para imam dan pemimpin kaum Mukminin yang baik maupun yang buruk. Dan kepada khalifah yang manusia bersatu padanya dan meridhainya. Dan juga kepada orang yang telah mengalahkan manusia dengan pedang (kekuatan) hingga ia menjadi khalifah dan disebut sebagai Amirul Mukminin (pemimpin kaum Mukmin).”

Allah Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” [QS. An-Nisaa: 59]

Wajib mendengar dan taat kepada para pimpinan dan kepada Amirul Mukminin. Tetapi mendengar dan taat hanyalah dalam hal yang makruf. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوْفِ

“Sesungguhnya ketaatan hanyalah dalam hal yang makruf.”

Ahlus Sunnah mentaati para pemimpin dalam hal yang makruf. Jika para pemimpin memerintahkan perbuatan taat kepada Allah, maka Ahlus Sunnah akan melaksanakannya dalam rangka mengamalkan apa yang ditunjukkan oleh nash mengenai perbuatan taat ini, dan dalam rangka mengikuti apa yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun apabila para pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka Ahlus Sunnah tidak akan melakukan kemaksiatan, namun tidak berarti membolehkan untuk melakukan pembangkangan kepada para penguasa tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya akan diangkat untuk kamu pemimpin dan kamu akan mengenalnya dan mengingkarinya. Barang siapa yang membenci, maka ia telah berlepas diri dan barang siapa yang mengingkari ia akan selamat, akan tetapi yang binasa adalah orang yang ridha dan mengikuti.” Para sahabat bertanya: “Apakah boleh kami memerangi mereka?” Beliau bersabda: “Tidak boleh, selama mereka shalat.” [HR. Muslim]

Di dalam atsar dari Hasan Al-Bashri, bahwa sekelompok orang mendatanginya (di zaman Yazid bin Muhallab) maka ia memerintahkan mereka agar menetapi rumah-rumah mereka dan menutup pintu-pintu mereka. Kemudian ia berkata: “Demi Allah, seandainya manusia bersabar tatkala diuji dengan pemimpin mereka, maka tak lama kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat hal itu dari mereka. Akan tetapi dikarenakan mereka berlindung dengan pedang (mereka), maka mereka diserahkan (urusannya) kepadanya. Dan demi Allah, mereka sama sekali tidak mendatangkan suatu hari kebaikan pun.”

Kemudian ia membaca firman Allah Ta’ala:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ ۙ بِمَا صَبَرُوْا ۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَا نَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَا نُوْا يَعْرِشُوْنَ

“Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani lsrail disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Firaun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” [QS. Al-A’raaf: 137]

Hasan AI-Bashri berkata: “Sungguh mengherankan orang yang takut kepada seorang raja atau suatu kezaliman setelah ia beriman kepada ayat ini. Ketahuilah, demi Allah, seandainya manusia bersabar karena perintah Allah Ta’ala tatkala diuji, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan kesusahan dari mereka, akan tetapi mereka tidak sabar dengan pedang, maka mereka diserahkan kepada rasa takut. Dan kami berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari keburukan ujian.” [Tafsir Al-Hasan, 1/386]

Penta’liq berkata: “Dan (tidak wajibnya taat) ini bukan hanya kepada orang-orang kafir asli, bahkan Iebih-Iebih lagi orang-orang murtad termasuk dari mereka (yang tidak wajib ditaati dan didengar). Yaitu orang-orang yang tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang Mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka telah tunduk terhadap AI-lbahiyah dan keluar dari syariat Allah Ta’ala dengan alasan kemajuan dan demokrasi. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mensucikan negeri-negeri kaum Muslimin dari mereka dan perbuatan-perbuatan mereka.” [Hal-hal yang berkaitan dengan masalah ini dapat dirujuk dalam ta’liq terhadap Ath-Thahawiyah, hal. 47 dan Syarah Ath-Thahawiyah, hal. 379]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📙 Referensi: Kitab Ushul As-Sunnah. Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Pustaka Darul Ilmi.

✒️ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Februari 2020
S M S S R K J
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031