Site Loader
Share?

✉️ Soal Jawab

💌 MENDAPAT UNDANGAN PERNIKAHAN KETIKA SEDANG BERPUASA SUNNAH

Bismillah
Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh.

PERTANYAAN:
Kalau kita sedang puasa sunnah, terus dapat undangan pernikahan, apakah kita meneruskan puasa atau membatalkannya (untuk menghargai tuan rumah)? Syukron.

جَزَاكَ اللهُ خَيرًا

Dari Fairuzz Abaady – PSI 6

JAWABAN:

وعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Thoyyib, apabila seseorang sedang puasa sunnah, maka ia boleh saja membatalkannya apabila ia mendapatkan uzur, seperti sakit dan menghadiri undangan. Jika undangan itu jauh dari kemungkaran, maka wajib menghadiri undangan dan ia masih boleh mempertahankan puasa sunnahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang diundang acara agar dia datang, meskipun tidak makan. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ، فَلْيُجِبْ، فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ، وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ

“Jika kalian diundang acara makan-makan maka hadirilah. Jika mau dia makan, jika tidak maka boleh tidak makan.” [HR. Muslim, 1430]

Artinya, yang wajib dilakukan adalah menghadiri undangan. Sementara untuk makannya, tidak ada kewajiban. Sehingga undangan makan bukan uzur yang membolehkan seseorang untuk membatalkan puasanya.

Namun jika tuan rumah merasa tidak senang dengan kita tidak ikut mencicipi makanan, maka sebaiknya kita membatalkan puasa kita. Imam Nawawi berkata: “Jika sampai orang yang mengundang merasa tidak suka jika orang yang diundang tetap berpuasa, maka hendaklah yang diundang membatalkan puasanya. Jika tidak ada perasaan seperti itu, maka tidak mengapa tidak membatalkan puasa saat itu.” [Lihat penjelasan Imam Nawawi ini dalam Syarh Shahih Muslim, 9: 210]

Ibnu Taimiyah berkata: “Pendapat yang paling baik dalam masalah ini, jika seseorang menghadiri walimah (undangan makan) dalam keadaan ia berpuasa, jika sampai menyakiti hati yang mengundang karena enggan untuk makan, maka makan ketika itu lebih utama. Namun jika tidak sampai menyakiti hatinya, maka melanjutkan puasa lebih baik. Akan tetapi, tidaklah pantas bagi tuan rumah memaksa yang diundang untuk makan ketika ia enggan untuk makan. Karena kedua kondisi yang disebutkan tadi sama-sama boleh. Jika jadinya memaksa pada hal yang sebenarnya bukan wajib, itu merupakan bagian dari pemaksaan yang terlarang.” [Fatawa Al-Kubra (5: 477)]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📁 Referensi: Tanya Jawab WAGrup Permata Sunnah Ikhwan

🔏 Dijawab oleh: Alfaqir ilallah Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Juli 2020
S M S S R K J
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930