Site Loader
Share?

🔅 Edisi: Manhaj

🏅 Ushul As-Sunnah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

💠 MELAKSANAKAN SHALAT DI BELAKANG IMAM (PEMIMPIN)

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Melaksanakan shalat Jumat di belakang mereka dan di belakang orang yang menjadikan mereka sebagai pemimpin hukumnya boleh dan sempurna dua rakaat. Barang siapa yang mengulangi shalatnya, maka ia adalah mubtadi (pelaku bid’ah) yang meninggalkan atsar-atsar dan menyelisihi sunnah. Tidak ada baginya sedikitpun dari keutamaan shalat Jumat, apabila ia tidak berpendapat bolehnya shalat di belakang para imam/pemimpin, baik pemimpin itu baik maupun buruk. Karena sunnah memerintahkan agar melaksanakan shalat bersama mereka dua rakaat dan mengakui bahwa shalat itu sempurna. Tanpa ada keraguan terhadap hal itu di dalam hatimu.”

Ibnu Abil Izzi berkata dalam Syarah Thahawiyyah hal. 374: “Ketahuilah bahwasanya boleh bagi seseorang melakukan shalat di belakang orang yang belum diketahui bid’ah atau kefasiqannya menurut kesepakatan para imam (Ulama). Dan bukan termasuk syarat bolehnya mengikuti imam, seorang makmum mengetahui keyakinan imamnya atau mengujinya, seperti mengatakan: ‘Apa keyakinanmu, (aqidahmu)?’ Bahwa ia (boleh) shalat di belakang orang yang keadaannya belum diketahui, sekalipun ia shalat di belakang mubtadi yang menyeru kepada bid’ahnya atau di belakang orang fasiq yang jelas kefasiqannya, sedangkan ia seorang imam rawatib, yang mana tidak memungkinkannya shalat kecuali di belakangnya. Seperti imam Jumat atau dua hari raya, dan imam shalat pada musim haji di Arofah atau semisalnya, maka menurut kebanyakan Ulama salaf dan khalaf makmum boleh shalat di belakangnya. Barang siapa yang meninggalkan shalat Jumat di belakang pemimpin yang buruk, maka ia adalah mubtadi menurut kebanyakan para Ulama. Karena para sahabat radhiallahu ‘anhum melakukan shalat Jumat jamaah di belakang para pemimpin yang buruk, dan mereka tidak mengulanginya. Sebagaimana Ibnu Umar shalat di belakang Hajjaj bin Yusuf, demikian pula Anas radhiallahu ‘anhu.”

Dan bahwa tatkala Ubaidillah bin Adi menemui Utsman bin Affan dalam keadaan terkepung, maka ia berkata: “Sesungguhnya engkau adalah imam/pemimpin umum bagi manusia, dan telah terjadi padamu apa yang kami lihat. Dan imam fitnah melakukan shalat untuk kami sementara kami merasa berbuat kesalahan.” Maka ia (Utsman) berkata: “Shalat adalah amalan manusia yang paling baik. Maka apabila manusia berbuat baik, maka berbuat baiklah bersama mereka. Dan apabila mereka berbuat jelek, maka jauhilah kejelekan mereka.” [Shahih Al-Bukhari (695) dengan Fathul Baari]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa.” [HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu]

Hasan Al-Basri pernah ditanya tentang shalat di belakang ahli bid’ah dan beliau berkata: “Shalatlah bersamanya dan baginya dosa bid’ahnya.” [Disebutkan oleh Bukhari dalam Shahihnya]

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📙 Referensi: Kitab Ushul As-Sunnah. Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Pustaka Darul Ilmi.

✒️ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Juli 2020
S M S S R K J
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930