MASALAH SEPUTAR IMAM SHALAT – SERI 2

📘 Fiqih Ibadah

🕌 MASALAH SEPUTAR IMAM SHALAT – SERI 2

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

> Orang yang mengerjakan shalat sambil duduk menjadi imam bagi makmum yang mampu berdiri, dengan syarat makmum ikut duduk bersamanya.

Dari Anas bin Malik: “Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengendarai kuda dan terjatuh darinya hingga sisi tubuh sebelah kanan beliau terluka.” Setelah itu, beliau mengerjakan shalat wajib sambil duduk, maka kami pun shalat di belakang beliau sambil duduk. Seusai mengerjakan shalat, beliau bersabda: “Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Jika imam mengerjakan shalat sambil berdiri, shalatlah kalian sambil berdiri. Jika ia rukuk, maka rukuklah kalian. Jika imam bangkit, maka bangkitlah kalian. Jika imam mengucapkan: ‘Sami ‘allaahu liman hamidah’, maka ucapkanlah: ‘Rabbanaa walakal hamdu.’ Jika imam mengerjakan shalat sambil berdiri, maka shalatlah kalian sambil berdiri. Jika imam mengerjakannya sambil duduk, maka shalatlah kalian semuanya sambil duduk.” [HR. Bukhari, no. 689 dan Muslim, no. 412]

> Orang yang mengerjakan shalat sunnah mengimami orang yang mengerjakan shalat fardhu.

Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya dahulu Mu’adz bin Jabal shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, ia pulang dan mengimami kaumnya. [HR. Bukhari, no. 700 dan Muslim, no. 465]

Shalat yang dikerjakan oleh Mu’adz bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah shalat fardhu, sedangkan shalatnya bersama kaumnya adalah shalat sunnah. Sementara itu, kaumnya shalat fardhu di belakangnya.

> Orang yang mengerjakan shalat fardhu mengimami orang yang mengerjakan shalat sunnah.

Dari Mahjan bin Al-Adzra’, dia berkata: Aku pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu beliau berada di masjid. Kemudian, masuklah waktu shalat, lalu beliau pun shalat. Nabi bertanya kepadaku: “Tidakkah kamu shalat?” Aku menjawab: “Wahai Rasulullah, aku telah shalat di rumah, lalu aku menjumpaimu.” Beliau berkata: “Jika demikian, shalatlah bersama mereka dan hitunglah sebagai shalat nafilah.” [HR. Ahmad dan lainnya]

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seorang laki-laki mengerjakan shalat sendirian. Beliau berkata: “Tidakkah ada seseorang yang mau bersedekah kepadanya dengan mengerjakan shalat bersamanya.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

Dari Yazid bin Al-Aswad bahwasanya ia mengerjakan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia masih pemuda. Setelah beliau selesai shalat ternyata ada dua orang laki-laki yang belum shalat di sudut masjid. Lalu beliau memanggil keduanya, hingga keduanya dibawa ke hadapan beliau dalam keadaan gemetar ketakutan. Beliau berkata: “Apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami.” Keduanya berkata: “Kami sudah shalat di rumah kami.” Lalu, beliau berkata: “Jangan lakukan lagi hal itu. Jika salah seorang kalian telah shalat di rumahnya kemudian ia mendapati imam belum shalat, maka hendaklah ia shalat bersama imam. Sesungguhnya shalatnya tersebut dinilai sebagai shalat sunnah baginya.” [HR. Abu Dawud dan lainnya]

> Orang yang berwudhu mengimami orang yang bertayamum dan sebaliknya.

Orang yang paling hafal Al-Quran lebih diutamakan menjadi imam, baik ia bertayamum maupun berwudhu, berdasarkan keumuman nash yang telah disebutkan sebelumnya: “Yang mengimami suatu kaum orang yang paling hafal Al-Quran…” Demikian pula orang yang mukim, ia boleh mengimami mereka yang sedang musafir, begitu juga sebaliknya.

Amr bin Al-Ash pernah mengimami sahabat-sahabatnya shalat. Ketika itu, ia junub karena bermimpi dan khawatir jika ia memaksakan diri untuk mandi justru hal itu akan membahayakan dirinya. Ia berkata: Aku pernah bermimpi basah pada suatu malam yang dingin ketika Perang Dzatus Salasil. Aku pun khawatir apabila aku mandi hal itu justru akan membahayakanku. Maka dari itu, aku hanya bertayammum, kemudian aku mengimami sahabat-sahabatku shalat Shubuh. Sesudah itu, mereka menceritakan hal itu kepada Nabi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Hai Amr, apakah kamu shalat mengimami sahabat-sahabatmu dalam keadaan junub?” Lantas, aku menceritakan kepada beliau apa yang menghalangiku untuk mandi wajib, hingga aku berkata: Aku mendengar firman Allah:

وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [QS. An-Nisa’: 29]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa mendengarnya dan tidak berkata apa-apa.

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📑 Referensi: Buku “Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Quran & As-Sunnah (Kitab Shalat. Bab: Shalat Berjamaah).” Karya Syaikh Husain bin Audah Al-Awaisyah. Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.