MAKNA “AR-RAHMAANU ‘ALAL ‘ARSYIS TAWA”

๐Ÿ›ฃ JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du.

โ–  Bagian 9: Makna “Ar-Rahmaanu ‘Alal ‘Arsyis Tawa”

Banyak sekali ayat dan hadits serta ucapan ulama salaf yang menegaskan bahwa Allah berada dan bersemayam di atas.

1. Allah ๏ทป berfirman:

ุงูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูŠูŽุตู’ุนูŽุฏู ุงู„ู’ู€ูƒูŽู„ูู…ู ุงู„ุทูŽู‘ูŠูู‘ุจู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุงู„ุตูŽู‘ุงู„ูุญู ูŠูŽุฑู’ููŽุนูู‡ู—

“KepadaNyalah perkataan-perkataan yang baik naik dan amal yang shalih dinaikkanNya.” [QS. Fatir 35: Ayat 10]

2. Allah ๏ทป berfirman:

ุฐูู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุนูŽุงุฑูุฌู (ูฃ) ุชูŽุนู’ุฑูุฌู ุงู„ู’ู…ูŽู„ูฐู“ุฆููƒูŽุฉู ูˆูŽ ุงู„ุฑูู‘ูˆู’ุญู ุงูู„ูŽูŠู’ู‡ู

“Yang memiliki tempat-tempat naik. Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan.” [QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 3-4]

3. Allah ๏ทป berfirman:

ุณูŽุจูู‘ุญู ุงุณู’ู…ูŽ ุฑูŽุจูู‘ูƒูŽ ุงู„ู’ุงูŽุนู’ู„ูŽู‰

“Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi.” [QS. Al-A’la 87: Ayat 1]

4. Allah ๏ทป berfirman:

ุงูŽู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูฐู†ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุงุณู’ุชูŽูˆูฐู‰

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [QS. Ta-Ha 20: Ayat 5]

5. Dalam Kitab Tauhid, Imam Al-Bukhari menukil dari Abu Aliyah dan Mujahis tentang tafsir istawa, yaitu ‘ala wartafa’a (berada di atas).

6. Rasulullah ๏ทบ berkhutbah pada hari Arafah, saat haji wadaโ€™, dan bersabda,

ุฃูŽู„ุงูŽ ู‡ูŽู„ ุจูŽู„ูุบู’ุชูุŸ ู‚ูŽุงู„ููˆู’ุง ู†ูŽุนูŽู…ู’ุŒ ูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุฃูŽุตู’ุจูŽุนูŽู‡ู ุฅูู„ู‰ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ูˆูŽูŠูู†ูŽูƒูู‘ุจูู‡ูŽุง ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽู‚ูŽูˆูู„ู: ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุงุดู’ู‡ูŽุฏู’.

“Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Ya, benar.” Lalu beliau mengangkat (menunjuk) dengan jari-jarinya ke atas, selanjutnya beliau mengarahkan jari-jarinya ke arah manusia seraya bersabda, “Ya Allah, saksikanlah.” [HR. Muslim]

7. Rasulullah ๏ทบ bersabda,

ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูƒูŽุชูŽุจูŽ ูƒูุชูŽุงุจู‹ุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฎู’ู„ูู‚ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ูŽ ุฅูู†ูŽู‘ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููŠู’ ุณูŽุจูŽู‚ูŽุชู’ ุบูŽุถูŽุจููŠู’ ููŽู‡ููˆูŽ ู…ูŽูƒู’ุชููˆู’ุจูŒ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ููŽูˆู’ู‚ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู

“Sesungguhnya Allah telah menulis suatu kitab (tulisan) sebelum Ia mencipatakan para makhluk (berupa), sesungguhnya rahmatKu mendahului murkaKu, tertulis di sisiNya di atas โ€˜Arsy.” [HR. Al-Bukhari]

8. Rasulullah ๏ทบ bersabda,

ุฃูŽู„ุงูŽู‘ ุชูŽุฃู’ู…ูŽู†ููˆู’ู†ููŠู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽู…ููŠู’ู†ู ู…ูŽู†ู’ ูููŠ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกูุŸ ูŠูŽุฃู’ุชููŠู’ู†ููŠ ุฎูŽุจูŽุฑู ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ุตูŽุจูŽุงุญู‹ุง ูˆูŽู…ูŽุณูŽุงุกูŽ

“Apakah engkau tidak percaya kepadaku, padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada di langit? Setiap pagi dan sore hari datang kepadaku kabar dari langit.” [Muttafaqun โ€˜Alaih]

9. Al-Auza’i berkata, “Kami bersama banyak tabi’in berkata, ‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung sebutanNya (berada) di atas ‘Arsy, dan kami beriman pada sifat-sifatNya sebagaimana yang terdapat dalam sunnah Rasulullah ๏ทบ.” [HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih]

10. Imam Asy-Syafiโ€™i berkata, “Sesungguhnya Allah berada di atas โ€˜ArsyNya, di atas langit. Ia mendekati makhlukNya sekehendakNya dan Allah turun ke langit dunia dengan sekehendakNya.” [Dikeluarkan oleh Al-Hakawi di dalam kitab Aqidah Asy-Syafiโ€™i]

11. Imam Abu Hanifah berkata, “Barangsiapa mengatakan, ‘Aku tidak mengetahui apakah Tuhanku berada di langit atau bumi?’ maka dia telah kafir.” Sebab Allah berfirman,

ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุนูŽุฑู’ุดู ุงุณู’ุชูŽูˆูŽู‰

โ€œ(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, Yang tinggi di atas Arsy.โ€ [QS. Thaha: 5]

‘Arsy Allah berada di atas tujuh langit. Jika seseorang berkata bahwasanya Allah berada di atas ‘Arsy, tetapi ia berkata, “Aku tidak tahu apakah ‘Arsy itu berada di atas langit atau di bumi?” Maka dia telah kafir. Sebab dia mengingkari bahwa ‘Arsy berada di atas langit. Barangsiapa mengingkari bahwa ‘Arsy berada di atas langit maka dia telah kafir, karena sesungguhnya Allah adalah paling tinggi di atas segala sesuatu yang tinggi. Dia dimohon dari tempat yang tertinggi, bukan dari tempat yang paling bawah. [Lihat Syarah Aqidah Thahawiyah, Halaman. 223]

12. Imam Malik ditanya tentang cara istiwaโ€™ (tingginya Allah) di atas โ€˜ArsyNya, ia lalu menjawab, “Istiwaโ€™ itu perkara yang telah diketahui, sedang cara (penggambarannya bagaimana cara Allah beristawa’) tidak diketahui oleh akal, beriman dengannya adalah wajib, dan pertanyaan tentangnya adalah bidโ€™ah (maksudnya, tentang penggambarannya). Usirlah tukang bidโ€™ah ini.”

13. Tidak boleh menafsirkan istiwa (bersemayam di atas) dengan istawla (menguasai), karena keterangan seperti itu tidak didapatkan dalam riwayat orang-orang salaf. Metode orang-orang salaf adalah lebih selamat, lebih ilmiah dan lebih bijaksana.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang Yahudi agar mengatakan hiththatun (bebaskanlah kami dari dosa), tetapi mereka mengatakan hinthatun (biji gandum) dengan niat membelokkan dan menyelewengkannya. Dan Allah memberitakan kepada kita bahwa Dia โ€˜Alal โ€˜Arsy istawa (tinggi di atas โ€˜Arsy), tetapi para tukang takwil mengatakan istawlaa (menguasai). Perhatikanlah, betapa persis penambahan โ€œlamโ€ yang mereka lakukan istawaa menjadi istawlaa dengan penambahan โ€˜nunโ€™ yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi โ€œhiththatunโ€ menjadi โ€œhinthatun.โ€ [Nukilan Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyah]

Di samping pentakwilan mereka dengan “istawla” merupakan pembelokan dan penyimpangan, pentakwilan itu juga memberikan asumsi (anggapan) bahwa Allah menguasai ‘Arsy dari orang yang menentang dan ingin merebutnya. Juga memberi asumsi bahwa ‘Arsy itu semula bukan milikNya, lalu Allah menguasai dan merebutnya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka takwilkan.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…โ€ฆ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“š Referensi: Kitab Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Tha’ifah Al-Manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat). Karya Muhammad bin Jamil Zainu. Pustaka Darul Haq

โœ’ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.