Site Loader
Share?

📌 Ensiklopedi Larangan

🚳 LARANGAN MENUNTUT ILMU DENGAN NIAT SELAIN MENCARI WAJAH ALLAH TA’ALA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Dalam hadis Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan:

وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأََ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ

“Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Quran hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al-Quran supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam Neraka.” [HR. Muslim]

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda:

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

“Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan Ulama atau untuk mendebat orang-orang jahil dan janganlah kalian memilih tempat terhormat dalam majelis. Barang siapa berbuat demikian, maka ancamannya adalah Neraka.” [HR. Ibnu Majah no. 254. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ,لاَيَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَالَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa menuntut ilmu, yang seharusnya ia tuntut semata-mata mencari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ternyata ia menuntutnya semata-mata mencari keuntungan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma wanginya Surga pada hari kiamat.” [Hadis shahih riwayat Abu Dawud, 3664, Ahmad, II/338, Ibnu Majah, 252, dan Hakim, I/85. Hadis ini dishahihkan oleh Imam Hakim dan disetujui oleh Imam Adz Dzahabi]

Penjelasan:

》 Riya’ bisa menyusup ke dalam ilmu melalui beberapa sisi:

(1) Dari sisi pakaian, misalnya dengan memakai pakaian yang kasar dan compang camping untuk menampakkan seolah-olah zuhud dan prihatin. Sebagaimana yang dilakukan oleh pengikut tasawwuf. Sebagian mereka ada yang mengkhususkan satu jenis pakaian agar orang-orang memandangnya sebagai Ulama. Dengan pakaian itu orang-orang akan menyebutnya: “Si Fulan Ulama!”

(2) Dari sisi perkataan, yaitu dengan menghafal hadis atau atsar tertentu dengan tujuan untuk berdialog dengan Ulama atau untuk mengimbangi mereka, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk merendahkan mereka. Dapat juga dengan merendahkan suara dan melembutkannya ketika membaca Al-Quran untuk menunjukkan seolah, ia memiliki perasaan takut dan sedih atau sejenisnya.

(3) Dari sisi perbuatan, misalnya memanjangkan berdiri dalam shalat untuk memamerkannya kepada orang lain, atau memanjangkan rukuk atau sujud, menunjukkan seolah khusyu dan tunduk. Ia memperbagus shalatnya karena tahu orang-orang sedang melihatnya.

(4) Dari sisi para tamu yang mengunjunginya dan teman-temannya. Yaitu ia meminta seorang Ulama agar sudi mengunjunginya, dengan tujuan supaya orang-orang mengatakan: “Sesungguhnya Ulama kondang telah mengunjungi si Fulan.” Atau berkata: “Sesungguhnya ahli ilmu sering mengunjunginya.”

Sebagian orang memamerkan jumlah gurunya yang banyak kepada orang-orang. Meskipun gurunya itu adalah seorang ahli bid’ah. Supaya orang-orang mengatakan: “Ia telah menuntut ilmu dari banyak guru!” Atau ia telah diberi ijazah oleh sejumlah kyai. Lalu ia membanggakan diri dengan hal tersebut. Kita memohon keselamatan kepada Allah!

》 Barang siapa melakukan hal tersebut, maka ia berhak mendapat kemurkaan dan kemarahan Allah, dan Allah akan menjerumuskan wajahnya ke dalam api Neraka Jahannam, wal iyaadzu billah.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📙 Diringkas dari Buku “Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Quran dan As-Sunnah.” Karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Maret 2020
S M S S R K J
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
29