LARANGAN BERPIKIR TENTANG DZAT ALLAH

🚫 LARANGAN BERPIKIR TENTANG DZAT ALLAH

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Berpikir tentang Dzat Allah akan mengiring pelakunya kepada keragu-raguan tentang Allah. Dan siapa saja yang ragu tentang Allah, pasti binasa. Sebab ia akan dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang lahir dari pemikiran sesat, “Allah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah?” Pertanyaan itu pada hakikatnya sangat kontradiktif dan kabur maksudnya. Sebab Allah adalah Pencipta bukan makhluk.

Oleh karena itu, janganlah kita berfikir tentang Dzat Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan sekali-kali engkau berpikir tentang Dzat Allah.” [Hasan, dengan dukungan riwayat-riwayat lain sebagaimana telah dijelaskan oleh guru kami, Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah (1788)]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولَ مَنْ خَلَقَ كَذَا وَكَذَا حَتَّى يَقُولَ لَهُ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ ؟ فَإِذَا بَلَغَ ذَلِكَ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ

“Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian, lalu dia akan bertanya, ‘siapa yang menciptakan ini, siapa yang menciptakan itu?’ Hingga akhirnya dia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah dan berhenti (tidak meneruskan)’.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Allah Ta’ala_l berfirman:

لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ

“(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” [QS. Al-Ikhlas: 3]

Pengobatan untuk was-was iblis dan pemikiran-pemikiran syaitan ini, yaitu mengikuti tata cara Al-Quran dan As-Sunnah yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
1. Membaca surah Al-Ikhlas
2. Meludah ke kiri sebanyak tiga kali
3. Berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan yang terkutuk dengan membaca isti’adzah
4. Mengatakan: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-RasulNya.”
5. Memutus was-was dan menghentikan keraguannya. Dan salah satu cara memutus was-was ini dengan Al-Quran.

Diriwayatkan dari Abu Zumail, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu: “Ada suatu perkara yang terlintas dalam hatiku.” Beliau berkata: “Apa itu?” Aku menjawab: “Demi Allah, aku tidak ingin membicarakannya.” Lalu Ibnu Abbas berkata: Adakah itu sesuatu yang membuatmu ragu? Tidak ada seorang pun yang terhindar dari hal itu. Namun Allah telah menurunkan firmanNya:

فَاِ نْ كُنْتَ فِيْ شَكٍّ مِّمَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ فَسْـئَلِ الَّذِيْنَ يَقْرَءُوْنَ الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكَ

“Maka jika engkau (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu maka tanyakanlah kepada orang yang membaca Kitab sebelummu.” [QS. Yunus: 94]

Lalu beliau berkata kepadaku: “Jika engkau merasakan sesuatu yang meragukan di dalam hati, maka katakanlah:

هُوَ الْاَوَّلُ وَا لْاٰخِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-Hadid: 3).” [HR. Abu Dawud]

Semoga Allah Ta’ala menunjuki kita pada jalan yang lurus dan dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita serta kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shahih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📕 Diringkas dari Buku “Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Quran dan As-Sunnah.” Karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *