LARANGAN BERFATWA TANPA ILMU

📍 Ensiklopedi Larangan

📵 LARANGAN BERFATWA TANPA ILMU

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَـتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَا مٌ لِّـتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.” [QS. An-Nahl: 116]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa diberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa tersebut. Barang siapa menganjurkan satu perkara kepada saudaranya seagama sementara ia tahu bahwa ada perkara lain yang lebih baik berarti ia telah mengkhianatinya.” [HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad, 59]

Diriwayatkan dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata: “Aku mendengar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menceritakan tentang seorang lelaki di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terluka pada bagian kepalanya, kemudian malamnya ia mimpi basah. Lalu ia disuruh mandi. Maka ia pun mandi. Selesai mandi tubuhnya kejang-kejang lalu mati. Sampailah beritanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka. Bukankah bertanya merupakan obat kebodohan?!”.” [HR. Ibnu Majah, 572]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu ia berkata: “Bagi yang tahu hendaklah mengatakan apa yang ia ketahui. Dan bagi yang tidak tahu hendaklah mengatakan Allahu a’lam. Sebab termasuk ilmu adalah mengatakan aku tidak tahu dalam perkara yang tidak ia ketahui ilmunya. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ مَاۤ اَسْئَــلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍ وَّمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُتَكَلِّفِيْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku) dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada.” [QS. Sad: 86].”

•》Penjelasan:
1). Seorang mufti berbicara atas nama Allah, maka hendaklah ia berhati hati agar tidak berbicara tentang Allah tanpa ilmu.

2). Para ulama Salaf sangat takut mengeluarkan fatwa. Mereka sadar betul kedudukannya serta bahayanya bila memang tidak mampu. Mereka tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tidak mau mengeluarkan fatwa hingga mereka anggap sudah layak untuk berfatwa. Namun mereka lebih suka dilepaskan dari tugas tersebut.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: “Aku telah bertemu dengan seratus dua puluh orang Sahabat Nabi dari kalangan Anshar, tidaklah salah seorang dari mereka ditanya tentang suatu masalah melainkan ia berharap temannya yang lainlah yang menjawabnya.” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi, I/53]

3). Oleh karena itu, hendaklah orang-orang jahil menjauhi kedudukan ini, khususnya dari kalangan fuqaha dan orang-orang yang mengaku berilmu, namun sebenarnya tidak punya ilmu yang cepat sekali mengeluarkan fatwa karena takut dibilang bodoh atau karena ingin mendapat perhatian dalam majelis.

4). Ketahuilah wahai hamba Allah, mengeluarkan fatwa berarti engkau telah berbicara atas nama Allah tentang perintah dan laranganNya. Dan engkau akan ditanya dan dimintai penanggungjawabannya. Oleh sebab itu, bila engkau ditanya tentang suatu masalah, maka jangan pikirkan keselamatan si penanya, namun pikirkanlah dulu keselamatan dirimu. Jika engkau mampu menjawabnya, maka jawablah. Jika tidak mampu, maka lebih baik diam. Sebab, menahan diri dalam kondisi seperti itu lebih selamat, lebih bijaksana dan lebih menunjukkan kedalaman ilmumu!

Wahai para mufti, periksalah benar-benar fatwa yang engkau keluarkan. Engkau telah membawa dirimu kepada perkara yang sangat berbahaya. Janganlah engkau keluarkan fatwa kecuali bila keadaan sangat darurat.

Suatu hari, Al-Qasim bin Muhammad pernah ditanya lalu ia menjawab: ‘Allahu a’lam.’ Kemudian ia berkata: “Demi Allah, lebih bagus seseorang itu hidup jahil, setelah mengetahui hak-hak Allah atas dirinya, daripada mengatakan apa yang tidak ia ketahui.” [Diriwayatkan Ad-Darimi, I/48]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📕 Referensi: Buku “Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Quran dan As-Sunnah.” Karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *