Site Loader
Share?

🔖 Fiqh Shalat

KEWAJIBAN-KEWAJIBAN SHALAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Kewajiban-kewajiban shalat adalah perbuatan dan ucapan di dalam ibadah shalat yang apabila ditinggalkan dengan sengaja, maka batal shalatnya. Namun apabila ditinggalkan disebabkan lupa atau tidak mengetahui, maka shalatnya tidak batal, tetapi wajib menggantinya dengan sujud sahwi.

Kewajiban-kewajiban tersebut akan kita jelaskan secara singkat sebagai berikut:

1• Orang yang Hendak Shalat Diwajibkan Meletakkan Sutrah (Pembatas) di Hadapannya.

Sutrah (pembatas) itu untuk menghalangi orang yang lewat dan membatasi pandangannya dari melihat apa yang berada di baliknya. Menghadap sutrah ketika shalat adalah hal yang disyariatkan.

Banyak hadis yang mendasari hal ini di antaranya hadis Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِِِِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلِيَدْنُ مِنهَا

“Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya.” [HR. Abu Daud 698, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud]

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلَى سُتْرَةٍ، وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ، فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah engkau shalat kecuali menghadap ke pembatas. Dan janganlah engkau biarkan seorang pun lewat di depanmu. Jika dia membantah, maka perangilah (lawanlah) ia. Karena sesungguhnya ia bersama setan.” [HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al-Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid. Ashl hadis ini terdapat dalam Shahih Muslim]

2• Takbiratul Intiqal.

Takbiratul intiqal adalah takbir (ucapan Allaahu Akbar) ketika melakukan perpindahan gerakan, atau dengan ucapan:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

“Sami’allaahu liman hamidah, Rabbanaa lakal hamdu.”

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri hendak shalat, maka beliau bertakbir ketika berdiri. Kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

‘Allah mendengar orang yang memujiNya.’

Ketika mengangkat punggungnya dari rukuk kemudian mengucapkan:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

‘Rabb kami, untukMu segala puji,’ sambil berdiri.

Kemudian bertakbir ketika menyungkur sujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian bertakbir ketika bersujud. Kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya. Kemudian melakukan semua itu pada semua shalatnya hingga selesai. Beliau bertakbir ketika bangkit dari rakaat kedua setelah duduk (tasyahhud).” [Muttafaq Alaihi]

3• Tasyahhud Awal.

Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadis Abdullah bin Buhainah radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي  الرَّكْعَتَيْنِ ا وْألُْ لَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ. فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيْمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ، فَسَجَدَ سَجَدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Zuhur mengimami mereka (para sahabat) shalat. Setelah rakaat kedua, beliau bangkit berdiri tanpa duduk (tasyahud awal). Orang-orang pun bangkit bersama beliau. Ketika beliau telah menyelesaikan shalat dan orang-orang menanti salam beliau, ternyata beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam. Setelahnya, barulah beliau salam.” [HR. Bukhari no. 829 dan Muslim no. 1269]

Dalam hadis lain disebutkan:

إِذَا قَعَدْتُمْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ ، فَقُولُوا: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ

“Jika kalian duduk ketika shalat setelah 2 rakaat maka bacalah attahiyyatulillah.” [HR. Ahmad]

Adapun perincian tentang kewajiban-kewajiban shalat beserta dalil-dalilnya akan dijelaskan pada Bab berikutnya yaitu tentang “Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Semoga dimudahkan, Aamiin.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗃 Referensi:
• Fiqh Shalat Berdasarkan Al-Quran & As-Sunnah. Karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Penerbit Media Tarbiyah.
• Referensi lainnya.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Maret 2020
S M S S R K J
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
29