Site Loader
Share?

📔 Kitab Shalat

🕌 BAB: MASJID

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

💠 Keutamaan Masjid dan Adab-Adabnya (Seri 4)

》 Sederhana dalam membangun masjid dan larangan menghiasinya.

Dari Anas radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِى الْمَسَاجِدِ

“Kiamat tidaklah terjadi hingga manusia berbangga-bangga dalam membangun masjid.” [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Sungguh kalian akan menghiasi masjid-masjid itu sebagaimana orang Yahudi dan Nashara telah menghiasi (tempat ibadah mereka).” [HR. Abu Dawud]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا زَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ فَالدَّمَارُ عَلَيْكُمْ

“Apabila kalian telah memperindah masjid kalian dan menghiasi mushaf-mushafmu maka kehancuran telah menimpa kalian.” [HR. Ibnu Abu Syaibah. Lihat Ash-Shahiihah, no. 1351]

Inilah yang sedang kita saksikan dan lihat saat ini. Banyak kaum Muslimin yang membangga-banggakan dan berlomba-lomba dalam menghiasi dan mempercantik masjid-masjid mereka, padahal keutamaan membangun masjid akan didapatkan oleh siapapun juga selama dia ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, sekalipun masjid yang dibangunnya kecil.

》 Anjuran membersihkan dan menyucikan masjid, menjauhkan kotoran dan aroma yang tidak sedap.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab: “Ia telah meninggal.” Nabi berkata: “Mengapa kalian tidak mengabariku?”

Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya.” Pinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau menshalatkannya. [Muttafaqun Alaihi]

Demikian pula hadis Aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di kabilah-kabilah (kampung-kampung). Beliau juga memerintahkan agar masjid dibersihkan dan diberi wewangian.” [HR. Ahmad dan lainnya, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahiihut Targhiib wat Tarhiib, no. 275]

Dari Abdullah bin Umar, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat ludah di dinding kiblat (masjid), lalu beliau menggosoknya (agar hilang). Kemudian menghadap ke orang-orang dan bersabda:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقُ قِبَلَ وَجْهِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى

“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, janganlah meludah ke arah depan karena Allah berada di hadapannya ketika seseorang sedang shalat.” [HR. Bukhari no. 406, Muslim no. 547]

Dari Anas bin Malik, ia berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Meludah di masjid adalah kesalahan, dan kaffaratnya adalah menimbunnya.” [HR. Bukhari no. 415 dan Muslim no. 552, dan yang lainnya]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ, الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ

“Barang siapa yang memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan, “Barang siapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.” [HR. Muslim]

Adapun untuk bau yang tidak bisa dihindari atau seseorang tidak mengetahui cara menghilangkan bau tersebut, seperti bau bakhr (bau mulut), maka ia tidak digolongkan sebagai benda yang beraroma tidak sedap. Allah Yang Mahabijaksana hanya melarang orang yang memakan bawang atau yang semisalnya untuk pergi ke masjid dan mendapatkan pahala shalat berjamaah.

Ini sebagai hukuman baginya karena tidak memperhatikan kaum Mukminin dan malaikat yang terganggu. Akan tetapi, tidak boleh mengharamkan keutamaan ini terhadap orang yang berbau bakhr, atau yang lainnya, dengan alasan adanya perbedaan hukum di antara keduanya, sebagaimana yang telah kami sebutkan.

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📑 Referensi: Buku “Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Quran & As-Sunnah.” Karya Syaikh Husain bin Audah Al-Awaisyah. Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

April 2020
S M S S R K J
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031