KESALAHAN DALAM IBADAH HAJI – SERI 6

๐Ÿ“Œ 234 Kesalahan

โŽ KESALAHAN DALAM IBADAH HAJI – SERI 6

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Di antara kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan ibadah haji, di antaranya:

โ€ข> Melempar jumrah sebelum waktunya.

Perbuatan ini tidak sah dan wajib mengulang tepat pada waktunya. Waktu melempar jumrah adalah hari raya Kurban (tanggal 10 Dzulhijjah) sehari semalam dan separuh malam bagi orang yang akan meninggalkan Muzdalifah pada akhir malam, dan hari-hari bermalam di Mina sesudah matahari tergelincir. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Bukhari dari Ibnu Umar, dia berkata: “Kami dahulu menunggu waktu yang ditetapkan, setelah matahari tergelincir maka kami pun melempar.”

Dalam Shahih Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melempar jumrah pada hari raya di waktu Dhuha dan hari-hari sesudahnya setelah matahari tergelincir.”

โ€ข> Mencuci batu jumrah sebelum dilempar.

Tindakan ini merupakan kesalahan, karena batu kerikil tidaklah najis dan tidak disyaratkan thaharah (suci dari najis). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melempar jumrah dengan kerikil yang tidak dicuci. Sedangkan pada diri beliau terdapat uswah hasanah (suri teladan yang baik).

Al-Muwafaq (Ibnu Qudamah) semoga Allah merahmatinya berkata: “Imam Ahmad berkata: ‘Tidak disunahkan.’ Tegas beliau lagi: ‘Tidak pernah sampai kepada kami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya.’ Inilah yang benar, dan ini adalah pendapat Atha, Malik, dan banyak lagi Ahlul Ilmi lainnya. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengambil kerikil, sementara beliau di atas unta, menggenggamnya di tangan tanpa mencucinya, tidak pula memerintahkan untuk mencucinya. Tidak ada tuntutan untuk mencucinya. Kalaupun melempar kerikil yang najis, maka tetap sah karena sudah dinamakan kerikil.”

โ€ข> Wanita berdesakkan dengan lelaki di dekat Hajar Aswad.

Wanita adalah aurat, hendaklah menjauhi berdesakan dengan kaum lelaki dan tidak pula bersikeras melakukannya. Ini merupakan perbuatan yang menyebabkan dosa, mengurangi nilai dan kewajiban haji.

Mencium Hajar Aswad bukanlah perbuatan yang wajib. Bagi yang mampu menciumnya dengan mudah dan tanpa berdesakan, hal itu baik dilakukan. Jika tidak, wanita harus menjauhinya.

Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar radhiallahu ‘anhu: “Wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah lelaki yang kuat, janganlah berdesakan di dekat Hajar Aswad.” [Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan]

Jadi berdesakan dengan disertai hal-hal yang terlarang oleh syariat adalah dilarang.

Imam Bukhari telah meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, bahwasanya dahulu Aisyah thawaf menjauhi para lelaki supaya tidak berdesakan dengan mereka. Kemudian seorang wanita berkata: “Mari kita pergi untuk menyentuh (Hajar Aswad) wahai Ummul Mukminin?” Dia menjawab: “Pergilah dariku.” Dia enggan untuk pergi. Ini merupakan pengingkaran dari Aisyah.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“• Referensi: Buku “234 Kesalahan.” Bab: Kesalahan Dalam Ibadah Haji. Karya Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad Alu Syaikh.

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?

Affni Ummu Khayra

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.