🛣 JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Bagian 22: Kerusakan & Bahaya Syirik (Seri 1)

Perbuatan syirik menyebabkan kerusakan dan bahaya yang besar, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Adapun kerusakan dan bahaya yang paling menonjol adalah:

1. Syirik Menghinakan Eksistensi Kemanusiaan

Syirik menghinakan kemuliaan manusia, menurunkan derajat dan martabatnya. Sebab Allah menjadikan umat manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah memuliakannya, mengajarkannya seluruh nama-nama, lalu menundukkan baginya apa yang ada di langit dan di bumi semuanya. Dan Allah menjadikannya penguasa di jagad raya ini.

Tetapi kemudian ia tidak mengetahui derajat dan martabat dirinya. Ia lalu menjadikan sebagian dari makhluk Allah sebagai tuhan dan sesembahan. Ia tunduk dan menghinakan diri padanya.

Berbagai kehinaan tersebut (hingga hari ini) amat banyak untuk bisa disaksikan. Ratusan juta orang di India menyembah sapi yang diciptakan Allah bagi manusia, agar mereka menggunakan hewan itu untuk membantu meringankan pekerjaannya atau menyembelihnya untuk dimakan dagingnya.

Sebagian umat Islam menginap dan tinggal di kuburan untuk meminta berbagai kebutuhan mereka. Padahal, orang-orang yang mati itu juga hamba Allah seperti mereka, tidak bisa mendatangkan manfaat atau bahaya untuk mereka sendiri.

Al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma misalnya, ia tidak bisa menyelamatkan dirinya dari pembunuhan. Lalu bagaimana mungkin kemudian ia bisa menolak bahaya yang menimpa orang lain dan mendatangkan manfaat (keselamatan) kepadanya?

Orang-orang yang meninggal itu justru amat membutuhkan doa dari orang-orang yang masih hidup. Kita yang seharusnya mendoakan mereka, bukan berdoa dan memohon kepadanya, sebagai sesembahan selain Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَا يَخْلُقُوْنَ شَيْـئًا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَ {٢٠} اَمْوَا تٌ غَيْرُ اَحْيَآءٍ ۚ وَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ .٢١

“Dan (berhala-berhala) yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.
(Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan.” [QS. An-Nahl: 20-21]

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَكَاَ نَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ اَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَا نٍ سَحِيْقٍ

“Barang siapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. Al-Hajj: 31]

2. Syirik Adalah Sarang Khurafat dan Kebatilan

Sebab orang yang mempercayai adanya sesuatu yang bisa memberi pengaruh selain Allah di alam ini, baik berupa bintang, jin, arwah atau hantu berarti menjadikan akalnya siap menerima segala macam khurafat (takhayul), serta mempercayai para dajjal (pendusta).

Karena itu, dalam sebuah masyarakat yang akrab dengan kemusyrikan, “barang dagangan” dukun, tukang nujum, ahli sihir dan semacamnya yang menyatakan dirinya mengetahui ilmu ghaib (yang tidak diketahui kecuali Allah Ta’ala semata) menjadi laku keras. Di samping itu, dalam masyarakat semacam ini, mereka sudah tidak mengindahkan lagi ikhtiar dan mencari sebab serta meremehkan sunnah kauniyah (hukum alam).

3. Syirik Adalah Kezhaliman yang Sangat Besar

Yaitu zhalim terhadap kebenaran. Sebab hakikat (kebenaran) yang paling agung adalah Laa Ilaaha Illallah: “Tidak ada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah,” Tidak ada Rabb (pengatur pencipta yang menghidupkan dan mematikan) selain Allah, tidak ada Penguasa selainNya.

Adapun orang-orang yang musyrik, mereka mengambil selain Allah sebagai Tuhan dan selain Dia sebagai penguasa. Syirik merupakan kezhaliman dan penganiayaan terhadap diri sendiri. Sebab seorang musyrik menjadikan dirinya sebagai hamba bagi makhluk sesamanya, bahkan mungkin lebih rendah dari dirinya. Padahal Allah menjadikannya sebagai makhluk yang merdeka.

Syirik juga merupakan penganiayaan terhadap orang lain, sebab orang yang dipersekutukan dengan Allah telah ia aniaya, lantaran ia memberikan hak yang bukan miliknya.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📗 Referensi: Kitab Minhaj al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Tha’ifah Al-Manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat). Karya Muhammad bin Jamil Zainu. Pustaka Darul Haq

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan