JENIS-JENIS SYIRIK AKBAR

♨️ JENIS-JENIS SYIRIK AKBAR

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Soal: Apakah kita boleh beristighatsah (memohon keselamatan dari kesulitan dan kebinasaan) kepada orang-orang yang sudah mati atau tidak hadir?

Jawaban: Kita tidak boleh beristighatsah kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَا يَخْلُقُوْنَ شَيْـئًا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَ ۗ (٢٠) اَمْوَا تٌ غَيْرُ اَحْيَآءٍ ۚ وَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ (٢١

“Dan (berhala-berhala) yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah (penyembahnya) dibangkitkan.” [QS. An-Nahl 16: Ayat 20]

Allah Ta’ala berfirman:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَا بَ لَـكُمْ

“(Ingatlah), ketika engkau beristighatsah kepada Rabb kalian lalu Dia mengabulkan permohonan kalian.” [QS. Al-Anfal 8: Ayat 9]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

“Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Berdiri Sendiri, hanya dengan rahmatMu aku memohon keselamatan.” [Hasan riwayat At-Tirmidzi]

Soal: Apakah boleh isti’anah (meminta pertolongan) kepada selain Allah?

Jawaban: Tidak boleh. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ 

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” [QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5]

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika engkau minta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.” [Hasan shahih riwayat At-Tirmidzi]

Soal: Apakah boleh kita meminta pertolongan kepada orang yang masih hidup?

Jawaban: Boleh pada perkara yang mereka mampu. Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى 

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” [QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Dan Allah selalu menolong hamba selama hamba tersebut selalu menolong saudaranya.” [HR. Muslim]

Soal: Apakah boleh bernazar untuk selain Allah?

Jawaban: Tidak boleh bernazar kecuali kepada Allah. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku bernazar kepadaMu anak yang ada di dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis).” [QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 35]

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِهِ

“Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah, maka penuhilah nazar tersebut. Barangsiapa yang bernazar untuk bermaksiat pada Allah, maka janganlah memaksiatiNya.” [HR. Bukhari]

Soal: Apakah boleh menyembelih untuk selain Allah?

Jawaban: Tidak boleh. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَا نْحَرْ 

“Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” [QS. Al-Kausar 108: Ayat 2]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Allah melaknat siapa saja yang melakukan sembelihan (tumbal) pada selain Allah (menyebut nama selain Allah).” [HR. Muslim]

Soal: Apakah kita boleh tawaf di kuburan dalam rangka mendekatkan diri?

Jawaban: Kita tidak boleh tawaf kecuali di Ka’bah. Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَطَّوَّفُوْا بِا لْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).” [QS. Al-Hajj 22: Ayat 29]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja tawaf di Baitullah tujuh kali lalu shalat dua rakaat seakan-akan membebaskan satu orang budak.” [Shahih riwayat Ibnu Majah]

Soal: Apa hukum sihir?

Jawaban: Sihir termasuk kekufuran. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا کَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰـكِنَّ الشَّيٰـطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Sulaiman itu tidak kafir tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” [QS. Al-Baqarah 2: Ayat 102]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ

“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan (al-muubiqaat).” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa yang membinasakan tersebut?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, Sihir…” [HR. Bukhari dan Muslim]

Soal: Apakah kita boleh membenarkan tukang ramal dan dukun tentang ilmu gaib?

Jawaban: Kita tidak boleh membenarkan mereka berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ 

“Katakanlah (Muhammad), Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” [QS. An-Naml 27: Ayat 65]

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu mempercayainya, sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [Shahih riwayat Ahmad]

Soal: Apakah ada seseorang yang mengetahui hal yang gaib?

Jawaban: Tidak ada seorang pun yang mengetahui hal yang gaib, kecuali rasul yang Allah beritahu. Allah Ta’ala berfirman:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدًا ۙ (٢٦) اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ (٢٦

“Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridaiNya.” [QS. Al-Jinn 72: Ayat 26-27]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali Allah.”

Soal: Apakah boleh kita memakai benang dan gelang untuk penyembuhan?

Jawaban: Kita tidak boleh memakainya berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَاِ نْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗۤ اِلَّا هُوَ 

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” [QS. Al-An’am 6: Ayat 17]

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sebenarnya gelang itu tidak menambah kepadamu kecuali kelemahan. Lemparkan ia dari dirimu karena sesungguhnya kalau engkau meninggal masih memakainya, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya.” [Shahih riwayat Al-Hakim, dishahihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi]

Soal: Apakah kita boleh menggantungkan kalung jimat dari permata atau rumah kerang atau sejenisnya?

Jawaban: Kita tidak boleh menggantungkannya sebagai penangkal ‘ain berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَاِ نْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗۤ اِلَّا هُوَ 

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.” [QS. Al-An’am 6: Ayat 17]

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” [Shahih riwayat Ahmad]

Tamimah adalah kalung dari permata atau rumah kerang yang digantungkan untuk menangkal ‘ain.

Soal: Apa hukum mengamalkan undang-undang yang menyelisihi Islam?

Jawaban: Mengamalkan undang-undang yang menyelisihi Islam adalah kekufuran apabila ia membolehkannya atau meyakini kebaikannya. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ

“Barang siapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” [QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 44]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan selama para pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan kitab Allah dan tidak memilih apa yang Allah turunkan, kecuali Allah akan jadikan permusuhan di antara mereka.” [Hasan, riwayat Ibnu Majah dan selain beliau]

Soal: Bagaimana cara kita menangkal pertanyaan setan, Siapakah yang menciptakan Allah?

Jawaban: Jika setan membisikkan pertanyaan ini kepada salah seorang dari kalian, maka hendaknya ia berlindung kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman:

وَاِ مَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [QS. Fussilat 41: Ayat 36]

Dan Rasul telah mengajarkan kepada kita untuk menangkal tipu daya setan dengan cara kita katakan: “Aku beriman kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Esa. Allah lah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” Lalu hendaklah ia meludah ke kiri sebanyak tiga kali, berlindung kepada Allah dari setan, dan berhenti. Maka sesungguhnya cara yang demikian itu dapat menepisnya. [Ini adalah ringkasan hadits-hadits sahih yang terdapat dalam riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud]

Soal: Apa bahaya dari syirik akbar?

Jawaban: Syirik akbar menyebabkan kekal di dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّهٗ مَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّٰهُ عَلَيْهِ الْجَـنَّةَ وَمَأْوٰٮهُ النَّارُ ۗ وَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ اَنْصَارٍ

“Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” [QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 72]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa saja berjumpa Allah dalam keadaan menyekutukanNya dengan sesuatu, maka ia akan masuk neraka.” [HR. Muslim no. 93]

Soal: Apakah amalan yang disertai kesyirikan dapat bermanfaat?

Jawaban: Amalan yang disertai kesyirikan tidak bermanfaat. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

ذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗ وَلَوْ اَشْرَكُوْا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَّا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Sekiranya mereka menyekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am 6: Ayat 88]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa saja yang mengamalkan suatu amalan yang ia menjadikan selain Aku sebagai sekutu denganKu dalam amalan tersebut, Aku tinggalkan ia bersama sekutunya’.” [HR. Muslim, no. 2985]

Semoga Allah Ta’ala menunjuki kita pada jalan yang lurus dan dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita serta kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗞️ Disalin dari Kitab Ambillah Aqidahmu dari Al-Quran & As-Sunnah yang Shahih Karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu Rahimahullah.

✒️ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *