ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA

🔖 Prinsip Dasar Islam

🕋 ISLAM ADALAH AGAMA YANG SEMPURNA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

•> Definisi Bid’ah

Bid’ah sama dengan kata al-ikhtira’ yaitu yang baru yang diciptakan tanpa ada contoh sebelumnya. [Lihat llmu Ushul Bida’ oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halaby Al-Atsary hal. 23, cet. Daarul Raayah th. 1417 H]

Imam Asy-Syathibi berkata ketika mendefinisikan bid’ah: “Bid’ah adalah cara baru dalam agama yang dibuat menyerupai syariat dengan maksud untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah.” [Lihat llmu Ushul Bida’ oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halaby Al-Atsary hal. 24]

Ungkapan cara baru dalam agama itu maksudnya, bahwa cara yang dibuat itu disandarkan oleh pembuatnya kepada agama. Tetapi sesungguhnya cara baru yang dibuat itu tidak ada dasar pedomannya dalam syariat. Sebab dalam agama terdapat banyak cara, di antaranya ada cara yang berdasarkan pedoman asal dalam syariat, tetapi juga ada cara yang tidak mempunyai pedoman asal dalam syariat. Maka, cara dalam agama yang termasuk dalam kategori bid’ah adalah apabila cara itu baru dan tidak ada dasarnya dalam syariat.

Artinya, bid’ah adalah cara baru yang dibuat tanpa ada contoh dari syariat. Sebab bid’ah adalah sesuatu yang ke luar dari apa yang telah ditetapkan dalam syariat.

Ungkapan “menyerupai syariat” sebagai penegasan bahwa sesuatu yang diada-adakan dalam agama itu pada hakikatnya tidak ada dalam syariat, bahkan bertentangan dengan syariat dari beberapa sisi, seperti mengharuskan cara dan bentuk tertentu yang tidak ada dalam syariat. Juga mengharuskan ibadah-ibadah tertentu yang dalam syariat tidak ada ketentuannya.

Ungkapan untuk melebih-lebihkan dalam beribadah kepada Allah, adalah pelengkap dari makna bid’ah. Sebab demikian itulah tujuan para pelaku bid’ah. Yaitu menganjurkan untuk tekun beribadah, karena manusia diciptakan Allah hanya untuk beribadah kepadaNya seperti disebutkan dalam firmanNya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” [QS. Adz-Dzariyaat: 56]

Seakan-akan orang yang membuat bid’ah melihat bahwa maksud dalam membuat bid’ah adalah untuk beribadah sebagaimana maksud ayat tersebut, dan dia merasa bahwa apa yang telah ditetapkan dalam syariat tentang undang-undang dan hukum-hukum belum mencukupi sehingga dia melebih-lebihkan dan menambahkannya.

Perbuatan bid’ah dalam agama sangat dibenci oleh Allah dan RasulNya. Perbuatan bid’ah sangat dicintai oleh iblis.

•> Setiap Bid’ah Adalah Kesesatan

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat, meskipun manusia memandang baik.” [Riwayat Al-Laalika-iy dalam Syarah Ushuul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jamaah no. 126, Ibnu Baththah Al-Ukbary dalam Al-Ibaanah no. 205. Lihat ‘Ilmu Ushulil Bida’ hal. 92]

Siapa pun yang berbuat bid’ah dalam agama, walaupun dengan tujuan baik, maka bid’ahnya itu, selain merupakan kesesatan, adalah suatu tindakan menghujat agama dan mendustakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS. Al-Maidah: 3]

Karena dengan perbuatannya tersebut, dia seakan-akan mengatakan bahwa Islam belum sempurna, sebab amalan yang diperbuatnya dengan anggapan dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala belum terdapat di dalamnya.

Sangat mengherankan, orang yang melakukan bid’ah berkenaan dengan Dzat, Asma’ dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak pernah dilakukan oleh Ulama Salaf, ia mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk mengagungkan dan mensucikan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta untuk menuruti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu (tandingan) bagi Allah padahal kamu mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 22]

Orang tersebut juga mengatakan bahwa barang siapa yang menyalahinya, maka dia adalah mumatsil musyabbih (orang yang menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhlukNya), atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya.

Ada lagi, orang-orang yang melakukan bid’ah dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenaan dengan pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menganggap dengan perbuatannya itu, bahwa dirinyalah orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, barang siapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid’ah mereka.

Mereka juga mengatakan: “Kamilah yang mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Padahal dengan bid’ah yang mereka lakukan itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Hujuraat: 1]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📘 Referensi: Buku “Prinsip Dasar Islam.” Karya Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Pustaka At-Takwa.

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan hafidzahullah

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *