HUKUM SYUKURAN PULANG HAJI

✉️ Soal Jawab

🍱 HUKUM SYUKURAN PULANG HAJI

Pertanyaan:
Di beberapa tempat, sebagian org yg br pulang haji, mreka ngadakan syukuran, makan-makan. Apa itu boleh dalam Islam?

Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat menyambut kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari safar atau ketika masuk ke sebuah kota. Di antaranya: Hadis dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau menceritakan: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di Makkah, anak-anak kecil bani Abdul Muthalib menyambut kedatangan beliau. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong salah satu dari mereka dan yang lain mengikuti dari belakang.” [HR. Bukhari, 1798]

Dalam shahihnya, Imam Bukhari membuat judul bab:

باب استقبال الحاج القادمين

Bab, menyambut kedatangan jamaah haji yang baru pulang.” Kemudian Bukhari menyebutkan hadis di atas.

Abdullah bin Ja’far mengatakan: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila pulang dari safar, kami menyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain, lalu beliau menggendong salah satu diantara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau, hingga kami masuk kota Madinah.” [HR. Muslim, 6422]

{•} An-Naqi’ah

Acara makan-makan dalam rangka penyambutan orang yang baru pulang haji disebut An-Naqi’ah. Ini tidak hanya berlaku untuk haji saja, namun semua kegiatan safar. Sebagian Ulama mengajurkan untuk mengadakan acara makan-makan, dalam rangka tasyakuran pulangnya seorang musafir.

An-Nawawi mengatakan: “Diadakan untuk mengadakan naqi’ah, yaitu hidangan makanan yang digelar sepulang safar. Baik yang menyediakan makanan itu orang yang baru pulang safar atau disediakan orang lain… di antara yang menjadi dalil hal ini adalah hadis Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba dari Madinah sepulang safar, beliau menyembelih unta atau sapi (HR. Bukhari).” [Al-Majmu’, 4/400]

•> Fatwa Imam Ibnu Utsaimin

Pertanyaan:
Ada tradisi yang terebar di beberapa kampung, mereka mengadakan makan-makan sepulang haji dari Mekah. Itu diadakan setiap tahun. Mereka sebut ‘salamah hujjaj’ selametan haji. Bisa dagingnya diambilkan dari daging kurban yang tersimpan, bisa juga menyembelih hewan baru.

Jawaban Syaikh Ibnu Utsaimin:

هذا لا بأس به ، لا بأس بإكرام الحجاج عند قدومهم ؛ لأن هذا يدل على الاحتفاء بهم ، ويشجعهم أيضاً على الحج.. وهذا لعله يكون في القرى ، أما في المدن فهو مفقود ، ونرى كثيراً من الناس يأتون من الحج ولا يقام لهم ولائم ، لكن في القرى الصغيرة هذه قد توجد ، ولا بأس به ، وأهل القرى عندهم كرم ، ولا يحب أحدهم أن يُقَصِّر على الآخر .

Semacam ini tidak masalah. Boleh menyambut jamaah haji ketika mereka datang, karena ini menjadi pesta penyambutan mereka, dan memotivasi lainnya untuk berhaji, mungkin ini hanya ada di kampung. Kalau di kota, semacam ini sudah tidak ada. Saya melihat banyak orang yang pulang haji, dan tidak ada acara makan-makan. Beda dengan di kampung, semacam ini masih ada. Dan tidak masalah. Penduduk kampung biasanya lebih dermawan, dan mereka tidak ingin bersikap pelit dengan orang lain.” [Liqaat Bab Al-Maftuh, volume 154, no 12]

والله أعلم، وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🖊️ Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits

🖥️ SumberHukum Syukuran Pulang Haji

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (PERMATA SUNNAH) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?

Affni Ummu Khayra

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.