HUKUM MEMBERI HADIAH KEPADA GURU DALAM ISLAM

โœ‰๏ธ Soal Jawab

๐ŸŽ HUKUM MEMBERI HADIAH KEPADA GURU DALAM ISLAM

Pertanyaan:

ุจูุณู’ู€ู…ู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…
ุงูŽู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan rahmatNya kepada ustadz dan keluarga, aamiin.

Saya mau menanyakan mengenai wali murid dari siswa ana baru saja pulang dari Umroh kemudian menitipkan beberapa butir kurma kemudian sebatang siwak, dan sebungkus kecil air zam-zam. Apakah pemberian ini halal ana terima sementara anak tersebut masih siswa saya? Sementara saya guru yang sudah digaji sekolah. Jazaakumullahu khoiron.

[Penanya: anggota grup bias G-28]

Jawaban:

ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu โ€˜alaa rasulillaah, Amma baโ€™du.

Semoga Alloh memberikan sifat waro atau kehati-hatian pada kita semua. Saudaraku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah, di antara bentuk kesempurnaan Islam adalah aturan komplit yang meliputi kebutuhan dan kebiasaan manusia, termasuk tentang hadiah. Hukum asal memberi hadiah adalah sesuatu yang dianjurkan, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ูˆูŽุชูŽู‡ูŽุงุฏูŽูˆู’ุง ุชูŽุญูŽุงุจู‘ููˆุง

โ€œSalinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan timbul rasa cinta di antara kalian.โ€ [HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad 594 dan Irwa’ul Ghalil, 1601]

Namun ada pula kondisi di mana hadiah itu menjadi sesuatu yang terlarang, yakni hadiah khianat. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda;

ู…ูŽู†ู ุงุณู’ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ู†ูŽุงู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู…ูŽู„ู ููŽุฑูŽุฒูŽู‚ู’ู†ูŽุงู‡ู ุฑูุฒู’ู‚ู‹ุง ููŽู…ูŽุง ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู‡ููˆูŽ ุบูู„ููˆู„ูŒ

โ€œBarang siapa yang kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lalu ia mendapatkan gaji dari pekerjaan tersebut, maka apapun yang ia dapatkan (hadiah atau tips) dari pekerjaan tersebut itulah yang disebut ghulul (hadiah khianat).โ€ [HR. Abu Daud, 2943]

Dalam riwayat lain disebutkan:

ู‡ูŽุฏูŽุงูŠูŽุง ุงู„ู’ุนูู…ู‘ูŽุงู„ู ุบูู„ููˆู„ูŒ

โ€œHadiah bagi pekerja (pegawai/pejabat) adalah ghulul (hadiah khianat).โ€ [HR. Ahmad, 5/424, Irwaโ€™ul Gholil 2622]

โ€ข> Kenapa disebut hadiah khianat?

Karena sejatinya ia melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan, sehingga ketika ia mendapatkan hadiah dari sebagian orang atas pekerjaannya dan sebagian orang lainnya tidak memberinya hadiah hal itu berpotensi membuatnya tidak amanah atau khianat, bisa jadi ia akan semangat mengerjakan pekerjaannya ketika diberi hadiah tambahan dan tidak bersemangat ketika tidak ada hadiah tambahan.

Selain itu jika ia membawa nama instansi, maka ia adalah perwakilan dari instansi tersebut, sehingga segala konsekuensi harus sepengetahuan pihak instansi, termasuk urusan hadiah.

Hadiah khianat ini berat, siksaannya pun menghinakan, disebutkan dalam shahih Bukhari tentang azab atau balasan bagi orang yang menerima hadiahย umat. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mempekerjakan seseorang dari bani Asad yang bernama Ibnul Atabiyah untuk menagih uang zakat/sedekah. Tatkala orang itu datang, ia berkata: “Ini untukmu, dan ini hadiah untukku.” Maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar, dalam riwayat lain, Sufyan mengatakan: “Naik mimbar.” Lalu Beliau memuji Allah dan bersabda: “Ada apa dengan amil zakat yang kami utus, ia datang dengan mengatakan: Ini untukmu dan ini untukku, seandainya ia hanya duduk dirumah ayahnya atau rumah ibunya, maka lihatlah apakah ia menerima hadiah atau tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah seorang amil zakat/sedekah mengambil sesuatu dari harta tersebut melainkan ia akan memikulnya pada hari kiamat di atas tengkuknya, jika (harta tersebut) unta maka unta itu yang mendengus, dan jika sapi maka sapi itu yang melenguh, dan jika kambing maka kambing itu yang mengembik”, kemudian beliau mengangkat kedua tangannya hingga kami melihat putih kedua ketiak Beliau sembari mengatakan: “Ketahuilah, bukankah telah kusampaikan? (beliau mengulanginya tiga kali).” [HR. Bukhari, 6639]

Ada silang pendapat dikalangan para Ulama, apakah yang dimaksud pekerja ini hanya PNS saja atau semua pekerja termasuk karyawan swasta. Dan pendapat yang paling berhati-hati bahwa larangan itu berlaku untuk semua karyawan, baik negeri ataupun swasta.

โ€ข> Lalu bagaimana jika hadiah tersebut sudah terlanjur diterima?

Ada 3 pilihan:
โ€ข Pertama, kembalikan ke pemberi hadiah.
โ€ข Kedua, minta kehalalan dari pihak Yayasan, Madrasah, atau Instansi tempat anda bekerja.
โ€ข Ketiga, jika tidak dihalalkan oleh pihak tempat anda bekerja maka berikan sesuatu yang senilai itu kepada mereka.

Dan yang tidak boleh dilupakan, konsekuensi adab adalah tetap berlaku adil kepada murid-murid tempat anda bekerja, tidak melebihkan yang satu dengan yang lainnya.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ–Š๏ธ Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Rosyid Abu Rosyidah hafidzahullah

๐Ÿ’ป Sumber: https://bimbinganislam.com/hukum-memberi-hadiah-kepada-guru-dalam-islam/

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.