HUKUM AQIQAH DIBARENGKAN KURBAN, APAKAH BOLEH?

โœ‰๏ธ Soal Jawab

๐Ÿฅฉ HUKUM AQIQAH DIBARENGKAN KURBAN, APAKAH BOLEH?

Pertanyaan:

ุจูุณู’ู€ู…ู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…
ุงูŽู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya beberapa hal ustadz.

  1. Ustadz, apakah benar jika seseorang belum aqiqah, maka kurbannya tidak sah?
  2. Jika fulanah belum diaqiqahi oleh orang tuanya saat kecil, apakah boleh fulanah berkurban tanpa aqiqah terlebih dahulu?
  3. Dari artikel yang pernah dibaca fulanah di salah satu website sunnah, bahwa kurban seseorang bisa sekaligus mewakili aqiqahnya, jika dia belum aqiqah saat kecil, benarkah ustadz?

Jazakallahu khayran ustadz, barakallahu fik.
[Sahabat BiAS T10 G-20]

Jawaban:

ูˆูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู ุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูŽุฑูŽูƒูŽุงุชูู‡ู

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu โ€˜alaa rasulillaah, Amma baโ€™du.

Aqiqah dan berkurban, yang bertanggung jawab berbeda. Aqiqah merupakan tanggung jawab ayah (orang tua) untuk anaknya. Sementara kurban, tanggung jawab mereka yang hendak berkurban.

Karena itu, ketika si A belum diaqiqahi ayahnya, kemudian di tahun ini si A hendak berkurban, maka dia tidak bertanggung jawab untuk aqiqah terlebih dahulu, sebelum berkurban.

Karena aqiqah, tanggung jawab ayahnya, dan bukan tanggung jawab si A. Sementara yang menjadi tanggung jawab si A adalah ibadah kurban yang akan dia laksanakan.

Al-Khallal meriwayatkan dari Ismail bin Said As-Syalinji, beliau mengatakan:

ุณุฃู„ุช ุฃุญู…ุฏ ุนู† ุงู„ุฑุฌู„ ูŠุฎุจุฑู‡ ูˆุงู„ุฏู‡ ุฃู†ู‡ ู„ู… ูŠุนู‚ ุนู†ู‡ ุŒ ู‡ู„ ูŠุนู‚ ุนู† ู†ูุณู‡ ุŸ ู‚ุงู„ : ุฐู„ูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุจ

Saya bertanya kepada Imam Ahmad tentang seseorang yang diberi tahu orang tuanya, bahwa dirinya belum diaqiqahi. Bolehkah orang ini mengaqiqahi dirinya sendiri?” Kata Ahmad: “Itu tanggung jawab ayahnya.” [Tuhfatul Maudud, hlm. 58]

Sebagian Ulama berpendapat bahwa orang yang waktu kecilnya belum diaqiqahi, kemudian ketika dewasa dia hendak berkurban, maka sembelihan kurban yang dia lakukan, sudah mewakili aqiqah untuk dirinya.

Al-Khallal menyebutkan riwayat keterangan dari Imam Ahmad:

ุฐูƒุฑ ุฃุจูˆ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃู† ุจุนุถู‡ู… ู‚ุงู„ ูุฅู† ุถุญู‰ ุฃุฌุฒุฃ ุนู† ุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ

Imam Ahmad menyebutkan bahwa sebagian Ulama mengatakan: “Jika ada orang yang berkurban, maka sudah bisa mewakili aqiqah.

ูˆุฃุฎุจุฑู†ุง ุนุตู…ุฉ ุจู† ุนุตุงู… ุญุฏุซู†ุง ุญู†ุจู„ ุฃู† ุฃุจุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ : ุฃุฑุฌูˆ ุฃู† ุชุฌุฒู‰ุก ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ุนู† ุงู„ุนู‚ูŠู‚ุฉ ุฅู† ุดุงุก ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ู…ู† ู„ู… ูŠุนู‚

Kami mendapatkan berita dari Ishmah bin Isham, dari Hambal (keponakan Imam Ahmad), bahwa Imam Ahmad pernah mengatakan: “Saya berharap, semoga kurban bisa mewakili aqiqah, insyaaAllah, bagi orang yang belum diaqiqahi.” [Tuhfatul Maudud, hlm. 58]

Itu salah satu pendapat Imam Ahmad, adapun pendapat yang lain dari kalangan Syafiiyah, Malikiah, dan salah satu riwayat Imam Ahmad bahwa kurban tidak mencukupi untuk aqiqah, karena masing-masing dari kurban dan aqiqah adalah ibadah yang dimaksudkan secara dzatnya masing-masing, tidak bisa saling mewakili, sebagaimana kedua ibadah tersebut walupun sekilas sama, namun sebabnya berbeda, aqiqah karena lahirnya anak, sedangkan kurban karena sebab yang lain.

Berkata Ibnu Hajar Al-Haitami: “Yang tampak dari pendapat para ashab adalah jika seseorang meniatkan untuk seekor kambing digunakan sebagai kurban dan aqiqah, tidak terhitung/sah salah satu dari keduanya, ini pendapat yang tampak benar, karena setiap dari keduanya adalah sunnah yang masing-masing dimaksudkan untuk dikerjakan.” [Tuhfatul muhtaj. Juz: 9 halaman 371]

โ€ข> Kesimpulan:
Dari penjelasan di atas, tidak jadi masalah ketika orang yang belum diaqiqahi sewaktu kecil, boleh melakukan kurban. Karena aqiqah bukan syarat sah kurban.

Kemudian, apakah kurban yang dilakukan bisa mencukupi aqiqah?

Ulama berbeda pendapat, ada yang menyampaikan sudah cukup, ada yang berpendapat harus masing-masing dengan hewan sembelihan sendiri. Untuk lebih amannya, dengan hewan sembelihan masing-masing. Cari yang dengan harga murah saja, tidak perlu yang standar, yang penting sudah sah dan mencukupi, ini jika dana mepet, adapun jika ada kelonggaran rezeki, afdhal nya membeli 2 kambing untuk disembelih sebagai kurban dan aqiqah. Semoga bermanfaat.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…ุŒ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ–Š๏ธ Dijawab oleh: Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I hafidzahullah

๐Ÿ–ฅ๏ธ Sumber: https://bimbinganislam.com/hukum-aqiqah-dibarengkan-qurban-apakah-boleh/

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan dan yang berkaitan dengannya tanpa izin dari admin.

Bagikan artikel ini ?

Affni Ummu Khayra

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.