๐Ÿ“Œ Ensiklopedi Larangan

๐Ÿ“› HARAM HUKUMNYA BERDUSTA ATAS NAMA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ูŽู‘ ู…ูุชูŽุนูŽู…ูู‘ุฏู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุจูŽูˆูŽู‘ุฃู’ ู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู

“Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari & Muslim]

Dari Al Mughirah, ia mendengar Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda:

ุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุฐูุจู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽูƒูŽุฐูุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏู ุŒ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ู‘ูŽ ู…ูุชูŽุนูŽู…ู‘ูุฏู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุจูŽูˆู‘ูŽุฃู’ ู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4]

Dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

ู„ูŽุง ุชูŽูƒู’ุฐูุจููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽู„ูุฌู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ

“Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barang siapa berdusta atasku, maka silakan dia masuk ke Neraka.” [HR. Al-Bukhari, no. 106 dan Muslim, no. 1]

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ู…ูŽู†ู’ ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽ ุนูŽู†ู‘ูู‰ ุจูุญูŽุฏููŠุซู ูŠูุฑูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุฐูุจูŒ ููŽู‡ููˆูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ุงู„ู’ูƒูŽุงุฐูุจููŠู†ูŽ

“Barang siapa menceritakan sebuah hadis dariku, dia mengetahui bahwa hadis itu dusta, maka dia adalah salah seorang dari para pendusta.” [HR. Muslim]

โ— Penjelasan:

1). Haram hukumnya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perbuatan itu termasuk dosa besar dan pelakunya berhak masuk ke dalam Neraka. Atau ia telah menyiapkan tempat di dalam Neraka. Akan tetapi ia tidak dihukumi kafir selama ia tidak menghalalkan perbuatan tersebut, wallaahu a ‘lam.

2). Barang siapa dengan sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hanya sekali, maka gugurlah martabat agamanya dan ditolak riwayatnya. Seluruh riwayatnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Kecuali ia bertaubat dengan taubat nashuha. Jika ia telah bertaubat, riwayatnya diterima kembali. Berbeda dengan orang yang beranggapan bahwa taubatnya tidak menjadikan riwayatnya diterima.

Imam An-Nawawi telah menukil dari sejumlah Ulama, kemudian beliau berkata (1/70): “Pendapat yang disebutkan oleh para Ulama tersebut sangat lemah dan bertentangan dengan kaidah-kaidah syar’i. Pendapat yang terpilih adalah taubatnya dinyatakan sah dan riwayatnya boleh diterima kembali setelah ia bertaubat dengan sungguh-sungguh serta telah menyempurnakan syarat taubat yang sudah dikenal luas, yakni: “Berhenti dari perbuatan maksiat itu, menyesali perbuatannya dahulu dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.” Hal tersebut sesuai dengan kaidah-kaidah syariat. Para Ulama telah sepakat menerima riwayat orang kafir yang telah memeluk Islam. Seperti itulah keadaan mayoritas Sahabat Nabi. Mereka sepakat menerima persaksiannya. Dan dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara persaksian dan riwayat, wallahu a’lam.”

3). Tidak ada perbedaan apakah berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dalam masalah aqidah ataukah dalam masalah hukum ataukah dalam masalah targhib dan tarhib serta nasihat.

4). Haram hukumnya meriwayatkan hadis maudhu dan palsu kecuali untuk memperingatkan orang lain dan menjelaskan kedudukannya.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarah Shahih Muslim (I/ 71-72): “Haram hukumnya meriwayatkan hadis maudhu bagi yang telah mengetahuinya atau berat persangkaannya hadis itu maudhu. Barang siapa meriwayatkan hadis sedangkan ia tahu atau berat persangkaannya bahwa hadis itu maudhu tanpa menjelaskan kedudukan hadis tersebut, maka ia termasuk dalam ancaman di atas dan tergolong orang yang berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Oleh karena itu, para Ulama menganjurkan bagi yang ingin meriwayatkan sebuah hadis atau ingin menyebutkannya hendaklah memeriksanya terlebih dahulu. Jika ternyata hadis itu shahih atau hasan, maka barulah ia mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ini atau kata-kata sejenisnya.” Jika ternyata dha’if (lemah riwayatnya), maka janganlah katakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ini, Rasulullah melarang ini dan kata-kata sejenisnya.” Hendaklah ia mengatakan: Diriwayatkan dari beliau seperti ini, atau disebutkan dari beliau seperti ini, atau dihikayatkan dari beliau begini, atau konon katanya, atau telah disampaikan kepada kami begini atau kata-kata sejenisnya yang tidak mengesankan penyandaran perkara itu secara tegas kepada beliau, wallahu a’lam.

5). Al-Baghawi berkata dalam Syarhus Sunnah (1/255-256): “Ketahuilah, bahwa berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kebohongan yang paling besar setelah kebohongan orang-orang kafir terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah mengatakan:

ุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูŽุฐูุจู‹ุง ุนูŽู„ูŽู‰ู‘ูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽูƒูŽุฐูุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏู ุŒ ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฐูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ู‘ูŽ ู…ูุชูŽุนูŽู…ู‘ูุฏู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุจูŽูˆู‘ูŽุฃู’ ู…ูŽู‚ู’ุนูŽุฏูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di Neraka.” [HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4]

Oleh sebab itu, para Sahabat dan Tabi’in tidak menyukai sikap terlalu banyak menyampaikan hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena takut akan menambah-nambahi atau mengurang-nguranginya atau melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya. Sampai-sampai sejumlah Tabi’in sangat takut menisbatkan hadis secara marfu’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka meriwayatkannya secara mauquf dari Sahabat.

Mereka mengatakan: “Dosa berdusta atas nama Sahabat lebih mudah daripada dosa berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Semua itu disebabkan ketakutan mereka dalam meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena takut terkena ancaman beliau, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…โ€ฆ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“™ Diringkas dari Buku “Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Quran dan As-Sunnah.” Karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali. Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

โœ’ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan