Site Loader
Share?

🛣 JALAN GOLONGAN YANG SELAMAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

■ Bagian 20: Fenomena Syirik

Fenomena dan kenyataan perbuatan syirik yang bertebaran di dunia Islam merupakan sebab utama terjadinya musibah yang menimpa umat Islam, juga sebab dari berbagai fitnah, kegoncangan dan peperangan serta berbagai siksa lainnya yang ditimpakan Allah atas kaum Muslimin.

Hal itu terjadi karena mereka berpaling dari tauhid, serta karena perbuatan syirik yang mereka lakukan dalam aqidah dan perilaku mereka. Bukti yang jelas dari hal itu adalah apa yang kita saksikan di sebagian besar negeri-negeri Islam.

Berbagai fenomena kemusyrikan, justru oleh sebagian besar umat Islam dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam, karena itu mereka tidak mengingkari dan menolaknya.

Islam datang untuk menghancurkan berbagai bentuk kemusyrikan, atau berbagai fenomena yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Di antara fenomena syirik yang terjadi ialah:

1. Berdoa kepada selain Allah.

Hal ini tampak jelas dalam nyanyian-nyanyian dan senandung mereka, yang sering diperdengarkan pada peringatan maulid atau pada peringatan-peringatan bersejarah lainnya.

Penulis pernah mendengar mereka menyanyikan kasidah:

يا إمام الرسل يا سندي

“Wahai imam para rasul, wahai sandaranku.”

أنت باب االله و معتمدي و في دنياي و آخرتي

“Engkau adalah pintu Allah, dan tempat aku bergantung di dunia serta akhiratku.”

يا رسول االله خذ بيدي

“Wahai Rasulullah, bimbinglah diriku.”

ما يبدلني عسرا يسرا إلاك يا تاج الخضره

“Tak ada yang menggantikanku dari kesulitan kepada kemudahan, kecuali engkau, wahai mahkota keagungan.”

Seandainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar nyanyian di atas, tentu Rasulullah akan berlepas diri daripadanya. Sebab tidak ada yang bisa mengubah dari kesulitan menjadi kemudahan kecuali Allah semata. Nyanyian-nyanyian dan pujian yang sama, banyak kita jumpai di koran-koran, majalah dan buku-buku.

Di antara isinya adalah memohon pertolongan, bantuan dan kemenangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para wali dan orang-orang shalih yang sebenarnya mereka tidak mampu melakukannya.

2. Mengubur para wali dan orang-orang shalih di dalam masjid.

Banyak kita saksikan di negara-negara Islam, kuburan berada di dalam masjid. Terkadang di atas kuburan itu dibangun kubah, lalu orang-orang datang meminta pertolongan kepadanya, sebagai sesembahan selain Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal ini dengan sabdanya:

لَعَنَ اللَّهُ اليَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid (atau tempat bersujud menyembah Tuhan).” [Muttafaq Alaih]

Jika menguburkan para Nabi di dalam masjid tidak diperintahkan, bagaimana mungkin dibolehkan mengubur para Syaikh dan Ulama di dalamnya? Apakah lagi telah dimaklumi, kadang-kadang orang yang dikubur tersebut dijadikan tempat berdoa dan meminta, sebagai sesembahan selain Allah. Karena itu ia merupakan sebab timbulnya perbuatan syirik. Islam mengharamkan syirik dan mengharamkan prasarana yang bisa menyebabkan kepadanya.

3. Nadzar untuk para wali.

Sebagian orang ada yang melakukan nadzar berupa binatang sembelihan, harta atau lainnya untuk wali tertentu. Nadzar semacam ini adalah syirik dan wajib tidak dilangsungkan. Sebab nadzar adalah ibadah dan ibadah hanyalah untuk Allah semata.

Adapun contoh nadzar yang dibenarkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh istri Imran. Allah Ta’ala berfirman:

رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menadzarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis).” [QS. Ali Imran 3: Ayat 35]

4. Menyembelih di kuburan para Nabi atau wali.

Meskipun penyembelihan yang dilakukan dikuburan para nabi atau wali dengan niat untuk Allah, tetapi ia termasuk perbuatan orang-orang musyrik. Mereka menyembelih binatang di tempat berhala dan patung-patung wali mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لعن االله من ذبح لغير االله

“Allah melaknat orang yang menyembelih selain Allah.” [HR. Muslim]

5. Thawaf sekeliling kuburan para wali.

Seperti mengelilingi kuburan Syaikh Abdul Qadir Jaelani, Syaikh Rifa’i, Syaikh Badawi, Syaikh Al-Husain, dan lainnya. Perbuatan semacam ini adalah syirik, sebab thawaf adalah ibadah, dan ia tidak boleh dilakukan kecuali thawaf di sekeliling Ka’bah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَطَّوَّفُوْا بِا لْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” [QS. Al-Hajj: 29]

6. Shalat kepada kuburan adalah tidak boleh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya.” [HR. Muslim]

7. Melakukan perjalanan (tour) menuju kuburan tertentu untuk mencari berkah atau memohon kepadanya adalah tidak diperbolehkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻻ ﺗُﺸَﺪُّ ﺍﻟﺮِّﺣﺎﻝُ ﺇﻻ ﺇﻟﻰ ﺛﻼﺛﺔِ ﻣﺴﺎﺟﺪَ : ﺍﻟﻤﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺤَﺮﺍﻡِ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝِ ﺻﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠَّﻢ، ﻭﻣﺴﺠﺪِ ﺍﻷﻗﺼﻰ

“Tidak boleh mengadakan perjalanan/safar kecuali menuju ke ketiga masjid: Masjid Al Haram, masjid Ar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Nabawi) dan masjid Al-Aqsha.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Jika kita ingin pergi ke Madinah Al-Munawwarah misalnya, kita boleh mengatakan, “Kami pergi untuk berziarah ke Masjid Nabawi kemudian memberi salam (doa) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

8. Berhukum dengan selain yang diturunkan Allah.

Mengambil hukum selain yang diturunkan Allah adalah syirik. Seperti menentukan hukum dengan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia, yang bertentangan dengan Al-Quranul Karim dan hadits shahih yaitu jika ia meyakini diperbolehkannya mengamalkan undang-undang buatan manusia.

Termasuk di dalamnya adalah fatwa yang dikeluarkan oleh sebagian syaikh yang bertentangan dengan nash-nash Al-Quran dan hadits shahih. Seperti fatwa dihalalkannya riba, padahal Allah Ta’ala mengumumkan perang terhadap pelakunya.

9. Taat kepada para penguasa, Ulama atau syaikh.

Yaitu ketaatan kepada mereka dengan menyelisihi dan menentang nash Al-Quran dan hadits shahih.

Syirik semacam ini “Syirkut thaa’ah” (syirik ketaatan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Tidak ada ketaatan bagi makhluk dalam hal maksiat kepada Allah Ta’ala.” [HR. Ahmad]

Allah Ta’ala berfirman:

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَا لْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ ۚ وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [QS. At-Taubah: 31]

Hudzaifah menafsirkan ibadah dengan ketaatan terhadap apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh ulama Yahudi kepada kaumnya.

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📚 Referensi: Kitab Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Tha’ifah Al-Manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat). Karya Muhammad bin Jamil Zainu. Pustaka Darul Haq

Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Januari 2019
S M S S R K J
« Des    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031