FATWA ULAMA – DUDUK BERSAMA ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

 

FATWA ULAMA

DUDUK BERSAMA ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

PERTANYAAN:
Apakah boleh kita duduk-duduk dan bergabung dengan orang-orang yang terus-terusan meninggalkan shalat?

JAWABAN:
Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjawab:
Kalian tidak boleh duduk-duduk bersama mereka dan tidak boleh bergabung bersama mereka ketika makan-makan atau minum-minum kecuali jika kalian bisa menasihati mereka serta bisa mengingkari perbuatan buruk mereka serta kalian masih ada harapan agar Allah Azza wa Jalla memberikan hidayah kepada mereka lewat perantara usaha kalian.

Jika kalian bisa melakukan ini ketika bersama mereka, maka kalian boleh duduk-duduk atau bergabung bersama mereka atau bahkan bisa menjadi wajib bagi kalian untuk melakukannya terhadap mereka itu. Karena ini termasuk usaha mengingkari kemungkaran dan berdakwah kepada Allah. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya dengan perantara usaha kalian.

Namun, jika kalian bergabung dengan mereka dan duduk-duduk bersama mereka, makan dan minum bersama mereka, tanpa ada usaha mengingkari perbuatan buruknya, sementara dia tetap meninggalkan shalat atau melakukan salah satu dosa besar, maka kalian tidak boleh bergaul dengan mereka.

Sungguh, Allah Azza wa Jalla telah melaknat Bani Israil karena melakukan perbuatan seperti di atas. Allah Azza wa Jalla berfirman:

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ ﴿٧٨﴾ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [QS. Al-Maidah: 78-79]

Dalam tafsir tentang ayat tersebut di atas dijelaskan: “Sesungguhnya dahulu, jika salah seorang dari mereka melihat yang lain melakukan perbuatan maksiat, maka orang itu akan melarang orang lain tersebut dari perbuatan maksiatnya. Kemudian di hari yang lain, orang itu bertemu lagi dengan mereka yang sedang melakukan maksiat, namun orang itu tidak lagi melarangnya malah bergabung dengan mereka. Sehingga akhirnya, dia menjadi teman makan dan minumnya serta menjadi teman duduknya. Ketika Allah melihat hal ini dari mereka, Allah menjadikan hati mereka berselisih satu dengan lainnya. Dan Allah Azza wa Jalla melaknat mereka melalui lisan para NabiNya. Nabi kita pun telah memperingatkan kita akan hal ini agar kita tidak terkena siksa sebagaimana hukuman atau siksa yang telah menimpa mereka, Wallahu a’lam.”

🏷 Majmu Fatawa Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan, hlm. 335-336

والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🗃 Referensi:
• Diringkas dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XXI/1439H/2018M
• https://almanhaj.or.id

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *