BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT – 73

? EDISI: BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT

◈ BAB: PENDIDIKAN ANAK

Dosa Besar Dalam Hal Harta

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

• Makan Harta Anak Yatim

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” [QS. An-Nisa/4: 10]

As-Sudi rahimahullah berkata, “Orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim pada hari kiamat akan digiring dengan nyala api keluar dari mulutnya, telingannya, hidungnya, dan matanya. Semua orang yang melihatnya akan mengenalnya bahwa dia adalah pemakan harta anak yatim.” [Al-Kabâir, hlm. 65, karya imam Adz-Dzahabi rahimahullah]

Oleh karena itu, tidak aneh jika memakan harta anak yatim dimasukkan kedalam tujuh dosa besar yang bisa membuat binasa, sebagaimana disebutkan di dalam hadits berikut ini: “Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau ﷺ menjawab, “Syirik kepada Allah, Sihir, Membunuh jiwa yang Allâh haramkan kecuali dengan haq, Memakan riba, Memakan harta anak yatim, Berpaling dari perang yang berkecamuk, Menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina.” [HR. Al-Bukhari, no: 3456; Muslim, no: 2669]

• Main Judi Bagaimanapun Bentuknya

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” [QS. Al Maidah: 90]

Dalam bahasa Arab, judi disebut dengan maysir. Namun sebenarnya, maysir itu lebih umum dari judi karena maysir itu ada dua macam:

1. Maysir berupa permainan yaitu dadu dan catur, juga setiap permainan yang melalaikan.

2. Maysir berupa perjudian yaitu yang memasang taruhan di dalamnya. Inilah yang disebutkan oleh Imam Malik. [Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 406]

Para ulama sepakat akan haramnya judi. Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa jika dipersyaratkan ada taruhan dari dua belah pihak, yaitu yang menang itulah yang berhak dapat hadiah, maka seperti ini adalah judi yang haram. Bahkan seperti ini termasuk dosa besar. [Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 39: 407].

• Mencuri, Melakukan Penodongan, Perampasan

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” [QS. An-Nisa’/4: 29]

Mencuri adalah dosa besar, maka kewajiban pencuri untuk bertaubat kepada Allah ﷻ dan juga wajib mengembalikan barang curiannya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Para Ulama berkata bahwa taubat pencuri tidak bermanfaat kecuali dengan mengembalikan barang yang telah dia curi. Jika pencuri itu bangkrut (tidak memiliki uang dan barang), dia meminta halal kepada pemilik harta, wallahu a’lam.” [Al-Kabair]

Adapun merampas atau memanfaatkan barang yang dirampas, maka ini Haram dan tidak boleh memanfaatkan barang rampasannya serta ia wajib untuk mengembalikannya.

• Menyogok

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda,

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

“Laknat Allah atas orang yang menyuap dan menerima suap.”

Laknat adalah dijauhkan dari rahmat dan kasih sayang Allah ﷻ. Yang demikian tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar.

• Sumpah Palsu

Sumpah palsu hukumnya haram dan para Ulama sepakat memasukkannya ke dalam kabair (dosa besar). Karena perbuatan tersebut merupakan tindakan yang sangat lancang kepada Allah Azza wa Jalla. [Lihat al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 7/286]

Sumpah palsu termasuk dosa besar. Nabi ﷺ bersabda: “Diantara dosa besar itu adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa dan sumpah palsu.” [HR Bukhari]

Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata: “(Sumpah palsu) adalah seseorang yang bersumpah tentang sesuatu yang telah lalu, sedangkan ia mengetahui dirinya berdusta dalam sumpahnya dan ia melakukannya dengan sengaja.” [At-Tamhiid, 21/249]

Ulama Lajnah Daaimah berkata: “Sumpah palsu termasuk diantara dosa-dosa besar. Tidak ada kaffarat yang dapat mencukupinya dikarenakan besarnya dosa (atas perbuatan tersebut). Tidak wajib membayar kaffarat berdasarkan pendapat yang benar dari dua pendapat di kalangan ulama. Kewajiban yang ada padanya hanyalah taubat dan istighfar.” [Al-Fataawaa, 23/133]

• Penipuan dalam Jual Beli

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah ﷺ pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” [HR. Muslim no. 102]

Dan untuk para Pedagang agar senantiasa berlaku jujur karena dengan kejujuran itu kita bisa bisa mendapatkan keutamaan seperti hadits dari Shahabat yang mulia Abu Sa’id Al-Khudri menyampaikan sabda Nabi ﷺ, “Pedagang yang jujur lagi dipercaya itu bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada.” [HR. At-Tirmidzi no. 1209, kata Asy-Syaikh Al-Albani tentang hadits ini dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib no. 1782: Shahih lighairi]

• Tidak Memenuhi Janji

Mengingkari janji merupakan bagian dari karakter kaum munafiqin. Sebaliknya, menepati janji termasuk sifat kaum mukminin. Begitu pula pribadi yang melekat pada diri Rasulullah ﷺ. Beliau ialah seorang yang benar dengan janjinya. Nabi ﷺ tidak pernah berjanji, melainkan pasti menepatinya.

Beliau ﷺ juga pernah memuji Abul-‘Ash bin ar-Rabi’, suami dari Zainab. Kata beliau ﷺ tentang Abul-‘Ash bin ar-Rabi:

حَدَّثَنِيْ فَصَدَّقَنِيْ وَوَعَدَنِيْ فَوَفَّى لِيْ

“Dia telah berbicara kepadaku dan berkata jujur, berjanji kepadaku dan menepatinya.” [HR al-Bukhâri, no. 3729 dan Muslim, no. 2449]

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

? Referensi:
• Kitab “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
• Alquranul Karim
• Artikel Sunnah Lainnya

Disusun oleh Akhukum Fillah Abu Royhan

•┈•❦•┈•◕✿◕•┈•❦•┈•

? Grup Dakwah Permata Sunnah

? Web: http://permatasunnah.com
? Instagram: https://www.instagram.com/permata.sunnah/
? Grup WhatsApp. Silakan Join. Click !
• (Pria): http://bit.ly/2DPS-admIkhwan
• (Wanita): http://bit.ly/2DPS-AdmAkhwat
? BC. BBM Dakwah: DA23EC5A
? Chanel Telegram: telegram.me/PermataSunnah
? Fanspage: fb.me/GrupDakwahPermataSunnah

? Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *