BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT – 57

? BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT

━━━━━━━━━━━━━━━

? Web: http://permatasunnah.com
? Instagram: https://www.instagram.com/dakwahpermatasunnah/
? Grup WhatsApp. Silakan Join. Click !
• (Pria): http://bit.ly/2DPS-admIkhwan
• (Wanita): http://bit.ly/2DPS-AdmAkhwat

━━━━━━━━━━━━━━━

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

◈ BAB: Akhlak-Akhlak Islami

? DI ANTARA WASIAT RASULULLAH ﷺ ( Seri ke 8 )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita.” [HR. Tirmidzi]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” [HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya. Yang diancam dalam hadits di atas adalah menyentuh wanita. Sedangkan bersalaman atau berjabat tangan sudah termasuk dalam perbuatan menyentuh.

◆ Penjelasan Singkat:

Sang istri, ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha mengatakan, bahwa tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bersentuhan dengan kulit telapak tangan wanita lain yang bukan mahram. Bahkan tetap merasa tidak perlu berjabat tangan pada sebuah prosesi yang sangat krusial, yakni baiat (sumpah dan janji setia pada pemimpin) sekalipun. Katanya:

وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ وَمَا بَايَعَهُنَّ إِلَّا بِقَوْلِهِ

Demi Allah, tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan perempuan sama sekali dalam baiat. Beliau tidak membaiat para wanita kecuali dengan perkataan (saja). [HR Al-Bukhari, 4891]

Hadits-hadits di atas, seperti diungkapkan Syaikh Salim al Hilali dalam Silsilah Manahi Syar’iyyah sudah cukup untuk menjelaskan kerasnya ancaman bagi seorang laki-laki yang berjabat tangan dengan wanita ajnabiyyah (asing) yang bukan mahramnya. Makna larangan ini, tidak lain ialah bermakna pengharaman.

Keengganan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjabat tangan pada urusan yang penting (yaitu baiat) yang sebenarnya menuntut adanya jabat tangan, ini menunjukkan indikasi bahwa berjabat tangan itu, lebih tidak diperlukan lagi ketika seorang lelaki dan perempuan berjumpa, sebagaimana pada masa sekarang ini sudah bersifat umum dan lumrah dilakukan oleh dua orang jika bertemu.

Muncul pendapat yang syadz dari pendiri Hizbut Tahrir Syaikh Taqiyyuddin An-Nabhani, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak masalah. [Lihat bukunya, An- Nizham Al Ijtima’i fil-Islam, hlm. 35]

Akan tetapi pendapat ini tertolak, karena ucapan dan tindakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah sangat jelas dalam permasalahan ini. Dan kita wajib patuh pada apa yang Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam larang.

Berikut ini fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah tentang “HUKUM BERJABAT TANGAN DENGAN WANITA”

● Pertanyaan:
Apa hukum berjabat tangan dengan wanita?

● Jawaban:
Hukum berjabat tangan dengan wanita ada perinciannya, apabila wanita tersebut termasuk mahram orang yang berjabat tangan seperti ibunya, putrinya, saudarinya, saudari ibunya, saudari bapaknya dan istrinya, maka diperbolehkan untuk berjabat tangan dengannya. Apabila selain mahram maka tidak diperbolehkan, karena ada seorang wanita yang mengulurkan tangannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjabat tangannya, maka beliau bersabda:

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita”

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata : “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah memegang tangan perempuan (yang bukan mahramnya) sama sekali, mereka hanya membaiatnya dengan ucapan”

Oleh karenanya wanita tidak diperkenankan untuk menjabat tangan laki-laki selain mahramnya dan tidak diperbolehkan bagi seorang laki-laki untuk menjabat tangan wanita selain mahramnya berdasarkan dua hadits tersebut diatas, dan karena hal tersebut memungkinkan terjadinya fitnah. [Majmu Fatawa Wa Maqalat Mutanawwiah, Syaikh Bin Baz, 6/22]

● Pertanyaan:
Apa hukum berjabat tangan dengan wanita selain mahram apabila ia sudah tua, dan apa hukum berjabat tangan dengan wanita selain mahram apabila ia memakai penghalang dari kain, sarung tangan atau lainnya?

● Jawaban:
Tidak diperbolehkan berjabat tangan dengan wanita selain mahram secara umum, baik ia adalah seorang wanita muda atau wanita tua, dan yang menjabat tangan seorang laki-laki muda ataukah sudah tua, karena di dalamnya ada bahaya fitnah bagi masing-masing pihak.

Telah diriwayatkan dalam hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ

“Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita”

Aisyah berkata: “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah memegang tangan perempuan (bukan mahramnya) sama sekali, karena hanya membai’atnya dengan perkataan”.

Tidak ada bedanya antara berjabat tangan dengan alat penghalang (sapu tangan) ataupun dengan tanpa penghalang berdasarkan keumuman dalil serta menutup jalan yang mendatangkan fitnah. [Majallatul Buhuts Al-Islamiyah, 38/131]

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

? Insya Allah bersambung ke pembahasan-pembahasan lainnya. Semoga dimudahkan…

? Referensi :
• Buku “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
• Alquranul Karim
• https://almanhaj.or.id/917-hukum-berjabat-tangan-dengan-wanita.html
• Artikel Sunnah Lainnya

✒ Disusun oleh Akhukum Fillah Abu Royhan

? Grup Dakwah Permata Sunnah

? BC. BBM Dakwah: DA23EC5A
?Chanel Telegram: telegram.me/PermataSunnah
? Fanspage: fb.me/GrupDakwahPermataSunnah

? Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan. Semoga menjadi sebab hidayah dan menjadi amal jariyah serta memudahkan jalan kita semua menuju Surga, insya Allah… Aamiin

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *