BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT – 56

━━━━━━━━━━━━━━━

? Web: http://permatasunnah.com

?Instagram:https://www.instagram.com/dakwahpermatasunnah/

? Grup WhatsApp.Silakan Join. Click !

• (Pria): http://bit.ly/2DPS-admIkhwan

• (Wanita): http://bit.ly/2DPS-AdmAkhwat

━━━━━━━━━━━━━━━

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

 

◈ BAB: Akhlak-Akhlak Islami

 

DI ANTARA WASIAT RASULULLAH ﷺ (Seri 7)

 

Imam al-Bukhari meriwayatkan:

 

*عَنْ الْمُغِيرَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ*

 

Dari al-Mughirah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” [HR. Al-Bukhâri, no. 1229]

 

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

 

*لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ*

 

“Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silakan dia masuk ke neraka.” [HR. Al-Bukhâri, no. 106 dan Muslim, no. 1]

 

◆ Penjelasan Singkat:

 

Berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  termasuk dosa besar, bahkan bisa kafir. Imam Adz Dzahabi dalam kitab beliau Al Kabair (Dosa-Dosa Besar) berkata, “Berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk kekufuran yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Tidak ragu lagi bahwa siapa saja yang sengaja berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal berarti ia melakukan kekufuran. Adapun perkara yang dibahas kali ini adalah untuk bentuk dusta selain itu.”

 

Maksud berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ialah: Membuat-buat omongan atau cerita dengan sengaja yang disandarkan atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia mengatakan: “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda atau mengerjakan begini dan tidak mengerjakan hal yang demikian.”

 

Sedangkan maksud “Hendaknya dia mengambil tempat duduknya di dalam neraka.” Yaitu untuk tinggal di dalamnya, ini adalah sebuah upaya pemeliharaan dan penjagaan sunnah Rasulullah agar tidak ada celah masuk selain perkataan beliau. Dan di dalam hadits ini menunjukan atas haramnya berbohong, dan keharaman itu akan berlipat lagi manakala kebohongan itu di sandarkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Hadits di atas juga menjelaskan kepada kita, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengancam orang yang dengan sengaja berdusta dengan mengatasnamakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti orang yang membawakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), atau lemah, karena ini termasuk dalam kategori berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Orang yang berdusta dengan sengaja atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan masuk api Neraka. Oleh karena itu, wajib atas kaum Muslimin untuk berhati-hati jangan sampai terjatuh dalam dusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Para ulama telah sepakat tentang haramnya membawakan hadits-hadits maudhu’ (palsu), yakni hadits yang dibuat orang atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sengaja maupun tidak sengaja. Bolehnya membawakan hadits maudhu’ itu hanya ketika menerangkan kepalsuannya kepada ummat, agar ummat selamat dari berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

■ Hadits-hadits di atas mengandung beberapa pelajaran:

 

1. Tidak boleh berdusta atas nama Nabi.

 

2. Berdusta atas nama Nabi lebih besar dosanya daripada berdusta atas nama selainnya.

 

3. Berdusta atas nama Nabi termasuk dosa besar.

 

4. Wajib berhati-hati dalam menyampaikan hadits yang disandarkan kepada Nabi, oleh sebab itu harus diteliti kebenarannya.

 

5. Yang dimaksud berdusta atas nama Nabi adalah mengatakan bahwa Nabi mengatakan sesutau padahal beliau tidak mengatakannya.

 

6. Istilah hadits untuk menyebut sabda Nabi adalah istilah yang syar’i dan sudah ada sejak jaman Nabi, bahkan beliau sendiri yang pertama kali menyebutkannya.

 

7. Wajibnya mempelajari ilmu hadits, untuk membedakan hadits yang sahih dan yang bukan.

 

Kesimpulannya, bahwa berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan dosa besar dan akibatnya akan menimpa umat ini selain pasti menimpa pelakunya. Maka orang yang berdusta atas nama Nabi hendaklah berhati-hati. Semoga Allâh Azza wa Jalla menjaga semua dari segala keburukan, dan menuntun kita di dalam segala kebaikan.

 

Semoga Allah menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

 

? Insya Allah bersambung ke pembahasan-pembahasan lainnya. Semoga dimudahkan…

 

? Referensi :

• Buku “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.

• Alquranul Karim

• Artikel Sunnah Lainnya

 

✒ Disusun oleh: Akhukum Fillah Abu Royhan

 

? Grup Dakwah Permata Sunnah

 

? BC. BBM Dakwah: DA23EC5A

?Chanel Telegram: telegram.me/PermataSunnah

? Fanspage: fb.me/GrupDakwahPermataSunnah

 

? Silakan disebar Artikel ini dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan. Semoga menjadi sebab hidayah dan menjadi amal jariyah serta memudahkan jalan kita semua menuju Surga, insya Allah… Aamiin

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *