BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT – 124

๐Ÿ“” EDISI: BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKATย 

โ–ฉ BAB: ORANG-ORANG MUโ€™MIN ITU BERSAUDARA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Hadits-Hadits Nabi Tentang Orang Islam (Seri Terakhir)

โ— Larangan Memanggil Saudaranya “Ya Kafir”

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ู„ุฃูŽุฎููŠู’ู‡ู ูŠูŽุง ูƒูŽุงููุฑู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุจูŽุงุกูŽ ุจูู‡ูŽุง ุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง

“Apabila seseorang berkata kepada saudaranya: โ€˜Ya kafirโ€™ maka salah satu di antara mereka ada yang menjadi kafir.” [HR. Al-Bukhari]

Dalam hadits yang lain dari Abu Dzar Radhiyallahu โ€˜anhu, beliau mendengar Rasulullah ๏ทบ bersabda,

ู„ูŽุง ูŠูŽุฑู’ู…ููŠ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ุจูุงู„ู’ููุณููˆู‚ู ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฑู’ู…ููŠู‡ู ุจูุงู„ู’ูƒููู’ุฑู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงุฑู’ุชูŽุฏู‘ูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ุตูŽุงุญูุจูู‡ู ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ

“Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kata fasiq, dan menuduhnya dengan kata kafir, kecuali tuduhan itu akan kembali kepada si penuduh jika orang yang tertuduh tidak seperti yang dituduhkan.” [HR. Bukhari]

Dua hadits diatas menjelaskan kepada kita bahaya ucapan kafir. Tuduhan kafir yang ditujukan kepada seorang muslim, pasti akan tertuju kepada salah satunya, penuduh atau yang dituduh. Jika panggilan itu keliru, artinya orang yang dipanggil kafir tidak benar kafir, maka kata kafir akan kembali kepada orang yang memanggil. Wal iyyadzubillah. Jika benar, maka dia selamat dari resiko kekafiran atau kefasikan, namun bukan berarti ia selamat dari dosa.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar, maksudnya, orang yang memanggil saudaranya dengan kata kafir atau fasiq, meskipun benar, namun boleh jadi ia menanggung dosa. Misalkan jika maksud dan tujuannya untuk mencela, membongkar aib orang di masyarakat atau memperkenalkan orang ini. Perbuatan seperti ini tidak diperbolehkan. Kita diperintahkan untuk menutupi aib ini kemudian membimbing dan mengajarinya dengan lemah lembut dan bijaksana. Sebagaimana firman Allah,

ุงูุฏู’ุนู ุฅูู„ูŽู‰ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ุญููƒู’ู…ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽูˆู’ุนูุธูŽุฉู ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู

“Berserulah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan dengan nasihat yang baik.” [QS. An Nahl: 125]

โ— Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„ุงูŽ ุชูŽู‚ููˆู’ู„ููˆู’ุง ู„ูู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ู ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฅูู†ู’ ูŠูŽูƒู ุณูŽูŠู‘ูุฏูŽูƒูู…ู’ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽุณู’ุฎูŽุทู’ุชูู…ู’ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูู…ู’ ุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุฌูŽู„ู‘ูŽ

“Janganlah kamu berkata kepada orang munafik ‘Sayyiduna’ (tuan kami) karena apabila ia ternyata menjadi tuan bagimu, maka kamu berarti telah membuat murka Tuhan Yang Maha Perkasa dan Agung.” [HR. Ahmad]

Tidak mengapa memberikan nama, ‘Fulanย sayyid, wahaiย sayyidku, dan semisalnya’, dengan syarat apabila orang yang disebut sebagaiย sayyidย adalah orang yang utama lagi baik, baik disebabkan karena ilmu ataupun kebaikannya ataupun selain itu. Namun apabila dia seorang yang fasik, atau tertuduh jelek dalam agamanya atau semisalnya, maka pengucapanย sayyidย kepadanya adalah dibenci.

โ— Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู„ุงูŽ ุชูŽุฒูŽุงู„ู ุทูŽุงุฆูููŽุฉูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชูู‰ ุธูŽุงู‡ูุฑููŠู’ู†ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ู„ุงูŽ ูŠูŽุถูุฑู‘ูู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฎูŽุฐูŽู„ูŽู‡ูู…ู’ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑู ุงู„ู„ู‡ู

“Masih ada sekelompok dari umatku yang selalu menang dalam menegakkan kebenaran. Mereka tak perduli dengan orang-orang yang menghinakan mereka sehingga datang perintah Allah (hari Kiamat).” [HR. Muslim]

Dalam hadits diatas dijelaskan bahwasanya seorang muslim hendaknya mengikuti kebenaran dan berjalan dalam kendaraan kelompok yang ditolong (thaifah manshurah) yaitu Ahlus sunah wal jamaah, pengikut salafus sholeh.

Para pengemban Sunnah yang suci akan senantiasa memperoleh pertolongan dari Allah ๏ทป sehingga mereka akan senantiasa dimenangkan atas musuh-musuh mereka sampai datang keputusan dari Allah subhanahu wa taโ€™ala, yaitu hari kiamat.

Oleh karena itu para ulama menjelaskan kelompok dalam hadits di atas yaitu tidak dikhususkan pada golongan tertentu dari manusia, sebagaimana tidak ditentukan pada negara tertentu. Tidak diragukan, bahwa mereka adalah orang yang sibuk dengan ilmu agama, baik aqidah, fikih, hadits, tafsir, memerintahkan yang maโ€™ruf dan mencegah kemungkaran, membantah ahli bidโ€™ah. Semua itu harus dibarengi dengan ilmu yang benar dan bersumber dari wahyu. Kita memohon kepada Allah semoga kita dimasukkan ke dalam golongan mereka.

Semoga Allah ๏ทป menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ุŒ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“‘ Referensi:
โ€ข Kitab “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
โ€ข Alquranul Karim
โ€ข Artikel Sunnah Lainnya

โœ’ Disusun oleh Akhukum Fillah Abu Royhan

โ€ขโ”ˆโ€ขโฆโ€ขโ”ˆโ€ขโ—•โœฟโ—•โ€ขโ”ˆโ€ขโฆโ€ขโ”ˆโ€ข

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *