BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT – 123

📔 EDISI: BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT

▩ BAB: ORANG-ORANG MU’MIN ITU BERSAUDARA

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Hadits-Hadits Nabi Tentang Orang Islam (Seri 3)

● Larangan Suap/Sogokan

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِى

“Rasulullah ﷺ mengutuk (melaknat) orang yang memberi dan menerima suap.” [HR. At-Tirmidzi]

Definisi laknat secara istilah (terminologi) adalah,

البعد عن رحمة الله تعالى

“Menjauhkan dari rahmat Allah ta’ala dan pahala-Nya.” [‘Umdatul-Qaariy 22/117; Majmuu’ Fataawaa Ibni Taimiyyah, 2/167; dan Aadaabusy-Syar’iyyah 1/344]

Jadi semua hal yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya berdasarkan dalil, maka itu termasuk DOSA BESAR. Ini sebagaimana juga telah disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin:

كُلُّ ذَنْبٍ كَانَتْ عُقُوْبَتُهُ اللَّعْنَةَ فَهُوَ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوْبِ

“Setiap dosa yang hukumannya adalah mendapatkan laknat, dosa tersebut tergolong dalam dosa besar.” [Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Madani, hlm. 57]

Dalam hadits di atas disebutkan satu perbuatan yang mendapatkan laknat dari Allah yaitu Sogok Menyogok (Suap Menyuap). Praktik suap menyuap di dalam agama Islam hukumnya haram berdasarkan dalil-dalil syar’i berupa Al-Quran, Al-Hadits, dan ijma’ para ulama. Pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya

Yang dimaksud  risywah (suap/sogok) adalah pemberian sesuatu dengan tujuan membatalkan suatu yang haq atau untuk membenarkan suatu yang batil. [Lihat Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah II/7819]

Para ulama telah sepakat secara ijma’ akan haramnya suap menyuap secara umum, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnul Atsir, dan Ash-Shan’ani, semoga Allah merahmati mereka semua. [Lihat Al-Mughni XI/437, An-Nihayah II/226, dan Subulussalam I/216]

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam mengatakan, “Suap menyuap termasuk dosa besar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap, sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar.” [Lihat Taudhihul Ahkam VII/119]

● Larangan Isbal

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ

“Kain yang berada di bawah mata kaki itu berada di neraka.” [HR. Bukhari no. 5787]

Dalam hadits lain dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,

لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ

“Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret pakaianya dalam keadaan sombong.” [HR. Muslim no. 5574]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ الَّذِى يَجُرُّ ثِيَابَهُ مِنَ الْخُيَلاَءِ لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya orang yang menyeret pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” [HR. Muslim no. 5576]

Seluruh ulama sepakat akan haramnya isbal jika karena maksud menyombongkan diri namun para ulama berselisih pendapat jika isbal dilakukan tanpa maksud menyombongkan diri. Ada dua pendapat dalam masalah ini.

Pendapat pertama memakruhkan perbuatan tersebut. Inilah pendapat mayoritas pakar fikih dari empat mazhab. Sedangkan pendapat kedua melarang isbal secara mutlak, meski tanpa maksud menyombongkan diri. Pendapat ini merupakan salah satu pendapat Imam Ahmad namun bukan pendapat beliau yang masyhur.

Ibnu Muflih dalam al Adab al Syar’iyyah 3/492 mengatakan bahwa Imam Ahmad juga pernah mengatakan, “Kain yang berada di bawah mata kaki itu di neraka. Tidak boleh menyeret kain sama sekali.” Perkataan Imam Ahmad ini menunjukkan bahwa beliau berpendapat haramnya isbal secara mutlak.

Pendapat yang mengharamkan isbal secara mutlak adalah pendapat yang dipilih oleh al Qadhi ‘Iyadh dan Ibnul Arabi dari kalangan ulama bermazhab Maliki. Adz Dzahabi yang bermazhab Syafii juga memilih pendapat ini. Inilah pendapat yang dicenderungi oleh Ibnu Hajar, salah satu dari dua pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, pendapat mazhab Zhahiri dan ash Shan’ani. Sedangkan diantara ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Ibnu Baz, al Albani, Ibnu Utsaimin dan lain-lain. Inilah pendapat yang didukung oleh berbagai dalil.

Oleh karena itu yang menjadi kewajiban kita ketika terjadi perselisihan adalah mengembalikan hukum permasalahan yang diperselisihkan kepada Al Quran dan sunnah. Allah berfirman yang artinya,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. an Nisa’: 59]

Dalil yang menunjukkan haramnya isbal secara mutlak adalah dalil yang tegas dan jelas. Di antaranya adalah dari Abu Hurairah, Nabi ﷺ bersabda, “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki itu di neraka.” [HR. Bukhari]

Dari Hudzaifah bin al Yaman, beliau berkata bahwa Rasulullah memegang tengah betisku atau betisnya lalu bersabda, “Inilah tempat ujung sarung. Jika engkau tidak mau maka boleh jika lebih bawah lagi namun kain sarung itu tidak memiliki hak untuk berada di kedua mata kaki.” [HR Ahmad dan Tirmidzi, sahih]

Dan masih ada hadits-hadits lain yang semisal. Maka dari itu menjulurnya kain jubah demikian pula celana, kain dan sarung sehingga berada di bawah mata kaki adalah haram berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ. Bahkan jika hal ini dilakukan karena kesombongan maka derajat keharamannya bertambah.

Semoga Allah ﷻ menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📑 Referensi:
• Kitab “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
• Alquranul Karim
• Artikel Sunnah Lainnya

Disusun oleh Akhukum Fillah Abu Royhan

•┈•❦•┈•◕✿◕•┈•❦•┈•

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Abu Royhan

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *