Site Loader
Share?

📔 EDISI: BIMBINGAN ISLAM UNTUK PRIBADI & MASYARAKAT

● BAB: PENDAPAT MUJTAHID DAN IMAM MADZHAB

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Beberapa Pendapat Imam Madzhab Tentang Hadits

Berikut ini disebutkan beberapa pendapat Imam madzhab yang dapat menjelaskan kebenaran kepada para pengikut mereka:

■ Imam Abu Hanifah, yang ajaran-ajaran fiqihnya menjadi pijakan orang.

1. Beliau rahimahullah berkata,

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا؛ ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya (dalilnya).” [Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Intiqa 145, Hasyiah Ibnu ‘Abidin 6/293. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 24]

2. Haram bagi yang tidak mengetahui dalil saya kemudian memberi fatwa dengan kata-kata saya, karena saya adalah manusia biasa, yang sekarang bicara sesuatu dan besok tidak bicara itu lagi.

3. Beliau rahimahullah juga mengatakan,

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت

“Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku.” [Al-Majmu’ 1/63]

4. Ibnu Abidin berkata dalam bukunya: “Jika hadits itu shahih dan bertentangan dengan madzhab, maka hadits-lah yang dipakai dan itulah madzhabnya. Dan dengan mengikuti hadits itu, tidak berarti penganutnya telah keluar dari pengikut Hanafi.”

Diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa beliau pernah berkata: “Jika hadits itu benar maka itulah madzhab saya.”

■ Imam Malik, Imam penduduk Madinah.

1. Beliau rahimahullah berkata,

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة؛ فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة؛ فاتركوه

“Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yang sesuai dengan Quran dan Sunnah, ambillah. Dan tiap yang tidak sesuai dengan Quran dan Sunnah, tinggalkanlah.” [Diriwayatkan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Al Jami 2/32, Ibnu Hazm dalam Ushul Al Ahkam 6/149. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 27]

2. Beliau juga mengatakan,

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Setiap orang sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali perkataan Nabi ﷺ.” [Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlih 2/91]

■ Imam Syafi’i dari keluarga Ahli Bait

1. Beliau rahimahullah berkata,

أجمع الناس على أن من استبانت له سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يكن له أن يدعها لقول أحد من الناس

“Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah ﷺ tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun.” [Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/361. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 28 ]

2. Beliau rahimahullah berkata,

إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي

“Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.” [Majmu’ Al Fatawa, 20: 211]

3. Beliau rahimahullah juga berkata,

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ  فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنيِّ

“Setiap hadits yang diucapkan oleh Nabi ﷺ, maka itulah pendapatku meski kalian tak mendengarnya dariku.” [Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35]

4. Beliau rahimahullah juga berkata,

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي وَإِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih, maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok.” [Siyar A’laamin Nubala’, 10: 35]

5. Setiap orang ada yang pendapatnya sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan ada yang tidak sesuai. Jika saya berkata dengan suatu pendapat atau berdasarkan sesuatu pendapat dari Rasulullah tapi kenyataannya bertentangan dengan ucapan Rasulullah ﷺ, maka pendapat yang benar adalah ucapan Rasulullah ﷺ dan itulah pendapat saya.

6. Orang-orang Islam telah melakukan ijma’ bahwa barangsiapa yang jelas mempunyai dalil berupa sunnah Rasulullah maka tidak dihalalkan bagi seorang pun meninggalkannya karena ucapan orang lain.

7. Jika kamu mendapatkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah ﷺ dalam buku saya maka ikutilah ucapan Rasulullah ﷺ dan itulah pendapat saya juga.

8. Beliau berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal: “Anda lebih pandai dari saya tentang hadits dan keadaan para periwayat hadits, jika anda tahu bahwa sesuatu hadits itu shahih maka beritahukanlah kepada saya sehingga saya akan berpendapat dengan hadits itu.”

9. Setiap masalah, yang mempunyai dasar hadits shahih menurut para ahli hadits, dan bertentangan dengan pendapat saya maka saya akan kembali pada hadits tersebut selama hidup atau sesudah mati.

■ Imam Ahmad bin Hambal, Imam para pengikut Ahli Sunnah.

1. Beliau rahimahullah berkata,

لا تقلدني، ولا تقلد مالكاً، ولا الشافعي، ولا الأوزاعي، ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Jangan taqlid kepada pendapatku, juga pendapat Malik, Asy Syafi’i, Al Auza’i maupun Ats Tsauri. Ambilah darimana mereka mengambil (dalil).” [Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I’lam 2/302. Dinukil dari Ashl Sifah Shalatin Nabi, 32]

2. Beliau rahimahullah juga berkata:

من رد حديث رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فهو على شفا هلكة

“Barangsiapa yang menolak hadits nabi Muhammad ﷺ, maka ia berada di tepi jurang kehancuran.” [Thabaqat Al Hanabilah (2/15) dan Al Inabah (1/260)]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah tidak menjadikan perkataan seseorang dari mereka ini (yakni para Ulama seperti imam Mâlik, Syâfi’i, Ahmad, dan lainnya-pen) ma’shûm (terjaga dari kesalahan) yang wajib diikuti. Bahkan jika mereka berbeda pendapat tentang sesuatu, mereka mengembalikan kepada Allâh dan Rasul-Nya.” [Minhâjus Sunnah an-Nabawiyah, 4/123]

Kalau dikalangan umat ini tidak ada seseorang yang ma’shûm selain Nabi ﷺ dan ijma’ umat, maka perkataan siapa saja selain Beliau ﷺ dari kalangan umat ini, tidak harus diikuti secara mutlak. Jika perkataan itu sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ, maka diterima, dan jika bertentangan dengan petunjuk Nabi ﷺ, maka ditolak, siapapun orangnya.

Semoga Allah ﷻ menunjuki kita pada jalan yang lurus dan semoga dapat menambah ilmu dan menambah keimanan kita dan kita tetap istiqomah di atas aqidah dan As-Sunnah yang shohih. Wallahu a’lam.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📑 Referensi:
• Kitab “Bimbingan Islam Untuk Pribadi & Masyarakat.” Penulis: Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu.
• Alquranul Karim
• Artikel Sunnah Lainnya

Disusun oleh Akhukum Fillah

•┈•❦•┈•◕✿◕•┈•❦•┈•

📡 Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Share?

Abu Royhan

Pemilik dan Pengasuh Situs Web PermataSunnah.com (Mulia dengan Manhaj Salaf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Juni 2020
S M S S R K J
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031