BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR AZAN & IQAMAT (SERI 5-TERAKHIR)

๐Ÿ“” Kitab Shalat

๐Ÿ“ข BAB: AZAN DAN IQAMAT

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du.

๐ŸŽ™๏ธ Beberapa Permasalahan Seputar Azan & Iqamat (Seri 5-Terakhir)

ใ€‹ Tidak Ada Azan dan Iqamat Pada Shalat-Shalat Ied

Dari Ibnu Abbas dan Jabir radhiallahu ‘anhuma, keduanya berkata: “Tidak ada azan pada Iedul Fithri dan Iedul Adha.” [HR. Bukhari, no. 960 dan Muslim, no. 886]

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah berkata: “Saya termasuk yang hadir dalam shalat ied bersama Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, beliau memulainya dengan shalat sebelum berkhutbah, tanpa azan dan iqamah.”

Selengkapnya akan dijelaskan dalam pembahasan tentang dua hari Ied, insyaAllah.

ใ€‹ Berbicara Ketika Azan

Muadzin boleh berbicara ketika sedang mengumandangkan azan jika ada keperluan. Sulaiman bin Shurad berbicara di dalam azannya. [Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahiihnya, Kitab Al-Aadzan. Bab: Berbicara ketika adzan]

Dari Abdullah bin Al-Harits, dia berkata: Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berbicara kepada kami pada suatu hari yang becek (berlumpur). Ketika muadzin mengucapkan Hayya โ€˜alash shalaah, beliau memerintahkannya untuk menyerukan Ash-shalaatu fir rihaal. Maka dari itu, orang-orang pun saling memandang antara satu dengan yang lainnya. Ibnu Abbas berkata: “Orang yang lebih baik daripadanya telah melakukan ini. Sesungguhnya ini adalah perkara azmah (suatu keharusan).” [HR. Bukhari, no. 616]

ใ€‹ Peperangan Ditunda Karena Azan

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu: “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak memerangi suatu kaum bersama kami, beliau tidak akan memulainya hingga tiba waktu Subuh, seraya terus memperhatikan. Jika beliau mendengar azan, beliau tidak memerangi mereka, namun jika tidak mendengar azan, beliau akan memerangi mereka.” [HR. Bukhari, no. 610 dan Muslim, no. 382]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, di dalam Fathul Baari (II/90) sesudah hadis ini berkata: Al-Khaththabi menerangkan: “Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa azan termasuk syiar Islam yang tidak boleh ditinggalkan. Seandainya penduduk suatu negeri sepakat meninggalkannya, maka penguasa boleh memerangi mereka.”

Di dalam Syarhul Kirmaani (V/10) disebutkan: At-Taimi berkata: “Pertumpahan darah ditahan dengan azan! Karena di dalamnya terdapat syahadat kepada tauhid dan pengakuan atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ia berkata: “Hal ini berlaku jika dakwah Islam telah sampai kepada mereka. Oleh sebab itu, peperangan ditunda atas mereka hingga terdengar azan, tidak lain untuk mengetahui apakah mereka memenuhi seruan dakwah atau tidak. Sungguh, Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kemenangan agamaNya di atas agama-agama yang lain.”

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…โ€ฆ ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

๐Ÿ“‘ Referensi: Kitab “Al-Mausuu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah fii Fiqhil Kitaab was Sunnah Al-Muthahharah (Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah).” Karya Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaisyah. Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

โœ’ Alfaqir ilallah: Abu Muhammad Royhan

๐Ÿ“ก Silakan disebar Artikel ini dengan tetap mencantumkan sumber link asli (https://permatasunnah.com) dan tidak menambah atau mengurangi isi tulisan.

Bagikan artikel ini ?
Ummu Ruqayyah

Ummu Ruqayyah

Admin Web PermataSunnah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *